Optimis menjelang Akhir

Penulis: William Henley Founder Indosterling Capital Pada: Sabtu, 10 Nov 2018, 00:15 WIB Opini
Optimis menjelang Akhir

thinkstock

HAPPY ending alias akhir yang bahagia lazim ditemui dalam sebuah film. Tidak terkecuali dalam film Harry Potter and the Deathly Hallows: Part II. Dalam hasil produksi Warner Bros tersebut, tokoh utama, yaitu Harry Potter sukses mengalahkan musuh bebuyutannya, yakni Lord Voldemort. Akhir yang sejalan dengan keinginan penggemar film hasil adaptasi novel karya JK Rowling itu.

Bicara happy ending, masyarakat Indonesia juga patut optimistis menyikapi laporan Badan Pusat Statistik (BPS), Senin (5/11). BPS mengumumkan pertumbuhan ekonomi triwulan III mencapai 5,17%. Angka itu memang lebih rendah apabila dibandingkan dengan pencapaian triwulan II sebesar 5,27%. Kendati demikian, laporan BPS lebih tinggi apabila dibandingkan dengan perkiraan Bank Indonesia (BI) yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi triwulan III di bawah 5,1%.

Pemerintah memberi tanggapan positif atas fakta itu. Menko Perekonomian Darmin Nasution menilai, ekonomi Indonesia mampu bertahan di tengah ketidakpastian global akibat perang dagang hingga pengetatan kebijakan moneter di Amerika Serikat. Lantas, bagaimana proyeksi pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV tahun ini?

Kembali makna
Sebelum mengarah kepada perkiraan ekonomi pada tiga bulan terakhir jelang 2018 berakhir, definisi pertumbuhan ekonomi perlu dipaparkan kembali. Pengertian frasa ini antara sosok yang satu dan sosok yang lain berbeda, tapi memiliki kesamaan. Mudrajad Kuncoro dari Universitas Gadjah Mada, misalnya. Beliau menjabarkan suatu perekonomian dikatakan mengalami pertumbuhan atau berkembang apabila tingkat kegiatan ekonominya lebih tinggi daripada apa yang dicapai pada masa sebelumnya.

Michael Paul Todaro dari Universitas New York memiliki pandangan lain. Menurut Todaro, pertumbuhan ekonomi ialah sebuah proses di mana kapasitas produksi dari suatu perekonomian meningkat sepanjang waktu, sehingga menghasilkan peningkatan tingkat pendapatan nasional.

Pandangan dua ekonom di atas memiliki kesamaan, yaitu ada titik tekan pada dimensi waktu. Ya, dari waktu ke waktu, tentu harus ada pertumbuhan sebagai gambaran bahwa perekonomian mengalami peningkatan. Apabila ditarik dalam konteks terkini, ekonomi selama 2018 memang selalu tumbuh positif di atas 5%. Pada triwulan I, pertumbuhan ekonomi mencapai 5,06%. Kemudian secara berturut-turut pada triwulan II dan triwulan III, ekonomi tumbuh masing-masing 5,27% dan 5,17%. Dengan demikian hingga triwulan III 2018, pertumbuhan ekonomi mencapai 5,17%.

Apabila dibandingkan dengan target dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 yang disepakati pemerintah dan DPR, tentu pencapaian itu lebih rendah sebab target yang ditetapkan dalam UU APBN, yaitu 5,3%.
Kendati demikian, kinerja perekonomian hingga triwulan III 2018 tergolong positif. Apalagi, di tengah ketidakpastian yang sedang menyelimuti ekonomi dunia.

Seperti diketahui, sampai dengan saat ini, perang dagang antara dua negara adikuasa, yaitu Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok, masih berlangsung. Walaupun dalam waktu dekat Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping akan berjumpa di sela pertemuan G20 di Buenos Aires, Argentina, belum ada kepastian apakah perang dagang antara kedua negara akan berakhir.

Di sisi lain, perbaikan perekonomian AS di bawah kepemimpinan Trump, telah berdampak kepada kebijakan Bank Sentral AS (The Federal Reserve alias The Fed). Tercatat sudah tiga kali lembaga pimpinan Jerome Powell itu menaikkan suku bunga acuan (fed funds rate/FFR). Para analis memperkirakan The Fed akan menaikkan FFR satu kali lagi pada Desember mendatang.

Apa yang dilakukan The Fed tak ayal menyebabkan capital outflow dari negara-negara emerging market, termasuk Indonesia. Imbasnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sampai dengan akhir September 2018 telah melemah pada kisaran 10%.
Berdasarkan teori ekonomi, pelemahan nilai tukar dapat berdampak pada imported inflation. Sejatinya, Indonesia rawan menderita hal itu, mengingat banyak kebutuhan dalam negeri, termasuk pangan, berasal dari luar negeri. Namun, kekhawatiran itu tidak terbukti. Indikatornya dapat dilihat dari tingkat inflasi hingga September 2018 yang baru mencapai 1,94%. Sementara itu, target inflasi dalam APBN 2018 sebesar 3,5%.

Konsumsi dan pemilu
Memasuki triwulan IV ini, tantangan perekonomian sejatinya masih serupa. Akan tetapi, sejumlah pencapaian komponen pengeluaran PDB selama triwulan III patut dijadikan pijakan optimis. Konsumsi rumah tangga selama triwulan lalu tumbuh 5,01%. Realisasi itu memang lebih rendah ketimbang triwulan II, yaitu 5,14%. Akan tetapi, perlu dicatat bahwa pada triwulan II lalu, terdapat sejumlah faktor pendorong, salah satunya THR PNS.

Memasuki triwulan IV, ada harapan dari konsumsi lembaga nonprofit yang melayani rumah tangga (LNPRT). Pertumbuhan sebesar 8,54% sepanjang triwulan III lalu berpotensi terjaga mengingat gairah jelang pemilihan umum (pemilu) 2019 semakin meningkat.
Indikasinya sederhana. Belakangan di sejumlah titik kerap ditemui baliho para calon anggota legislatif baik di tingkat pusat hingga daerah. Tidak kalah penting ialah calon presiden maupun wakil presiden yang akan mengikuti pilpres tahun depan. Semua terus menggencarkan sosialisasi demi menggaet pemilih.

Komponen lain yang tak kalah penting ialah konsumsi pemerintah yang tumbuh 6,28% pada triwulan III. Peningkatan itu didorong oleh kenaikan realisasi belanja barang, jasa, dan pegawai. Laiknya siklus tahunan, konsumsi pemerintah bakal terkerek mengingat tahun anggaran akan segera usai.

Berdasarkan data Kementerian Keuangan (Kemenkeu), sampai dengan September 2018, realisasi belanja pemerintah sudah mencapai Rp1.512,55 triliun atau sekitar 68,1% dari pagu APBN 2018. Penyerapan itu meningkat 10% apabila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Mengingat sisa waktu tiga bulan, tentu tidak mungkin penyerapan anggaran terserap 100%. Pada tahun lalu, realisasi belanja pemerintah mencapai 92,14%. Menyimak tren itu, maka akselerasi belanja pemerintah sangat mungkin terjadi sehingga berpengaruh ke konsumsi pemerintah.

Apabila semua berjalan sesuai rencana, pertumbuhan ekonomi 2018 sebesar 5,2% mungkin tergapai. Semua menunggu pengumuman BPS Februari 2019. Intinya, happy ending kinerja perekonomian Indonesia dapat tercapai. Kembali ke film Harry Potter and the Deathly Hallows: Part II. Akhir cerita bahwa Harry Potter mengalahkan Lord Voldemort memang menggembirakan. Namun, jangan sampai peristiwa yang terjadi setelah itu dalam bentuk gangguan terhadap Hogwarts juga menimpa ekonomi RI.

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More