Rattanaphiboonkij Paripurna di Bali

Penulis: Achmad Maulana Pada: Jumat, 09 Nov 2018, 15:05 WIB Olahraga
Rattanaphiboonkij Paripurna di Bali

ANTARA/Nyoman Budhiana

PEGOLF Thailand Varanyu Rattanaphiboonkij tampil sebagai juara turnamen Combiphar Players Championship yang berlangsung di New Kuta Golf, Bali, 1-9 November 2018. 

Pegolf berusia 21 tahun Ia pun menjadi pegolf pertama yang menjuarai turnamen Asian Development Tour sebanyak dua kali musim ini.

Rattanaphiboonkij juara di turnamen berhadiah uang total senilai US$100 ribu tersebut setelah mengumpulkan pukulan 15 di bawah par. Ia mengungguli pegolf Finlandia, Janne Kaske yang mengoleksi 14 under par pukulan. Adapun posisi ketiga ditempati Justin de los Santos (Amerika Serikat) dengan total pukulan 10 di bawah par.

Rattanaphiboonkij mengaku puas dengan kesuksesannya itu. Apalagi ia baru pertama kali bermain di Bali. 

"Sebenarya saya bermain buruk di awal-awal ronde ini. Tetapi saya kemudian dapat momentu setelah hole ke 10. Saya pun akhirnya bisa melewati Kaske," kata Rattanaphiboonkij yang mendapat uang sebesar US$17,500.

Sementara itu, para pegolf Indonesia gagal berbicara banyak. Dari lima pegolf yang lolos cut-off tidak ada yang mampu masuk sepuluh besar. Elki Kow menjadi Tanah Air yang menempati posisi tertinggi dengan berada di urutan ke-28 (tie) bersama tiga pegolf lainnya dengan total pukulan satu di atas par.

Ketua Asian Development Tour Jimmy Masrin menyebut kegagalan para pegolf Indonesia untuk bersaing dengan para pegolf asing, selain karena kurang jam terbang, juga kurang beruntung. 

"Sebenarnya kalau kita lihat di lapangan, para pegolf kita tidak jauh tertinggal secara teknis. Namun itu, secara mental mereka kalah. Hal itu terkait dengan jam terbang," kata Jimmy.

"Terus terang karena kita bermain di lapangan sendiri, ada ekspektasi tinggi awalnya. Kita berharap ada 8 atau 10 pegolf yang lolos cut off, tetapi ternyata cuma lima," imbuhnya.

Ia menyebut kurangnya dukungan dari sponsor untuk pegolf memang membuat olahraga golf Indonesia sulit bersaing dengan negara-negara lain. Bahkan di tingkat Asian Tenggara, Indonesia kalah dari Thailand dan Malaysia.

Senada, Presdir Combipar, Michael Wanandi menyebut, salah satu kekurangan atlet Indonesia adalah kurang mendapat sponsoship. Itu sebabnya mereka berusaha membantu mensponsori berbagai kegiatan olahraga di Tanah Air.

"Terus terang kita masih kekurangan turnamen, khususnya golf. Itu sebabnya kami juga berharap perusahaan swasta lain ikut membantu mensponsori olahraga di Indonesia," tegas Michael.

General Manager New Kuta Golf & Ocean View, Bagus Kurniadji pun menyebut kurangnya dukungan sponsor memang membuat mereka kesulitan dalam menggelar turnamen skala internasional. 

"Untuk menarik minat para pegolf elite, kita harus menyediakan hadiah yang besar. Itu sulit tanpa adanya dukungan sponsor dan pemerintah. Padahal potensi golf dalam meningkatkan sektor pariwisata cukup besar." (OL-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More