Dari Medsos, Orang kini Pilih Aplikasi Messaging untuk Sumber Berita

Penulis: M Anwar S Pada: Jumat, 09 Nov 2018, 10:35 WIB Humaniora
Dari Medsos, Orang kini Pilih Aplikasi Messaging untuk Sumber Berita

MI/M Anwar S

PENGGUNAAN media sosial hingga kini masih meluas di berbagai negara. Namun ternyata orang kini lebih memilih mendapat berita dari aplikasi messaging daripada melalui media sosial.

"Di banyak negara, jumlah orang yang menggunakan media sosial sebagai sumber pencarian berita mulai menurun. Mereka kini berpindah ke messaging seperti Whatsapp," ungkap Rasmus Nielsen selaku Direktur Reuters Institute for the Study of Journalism dalam presentasinya di Digital Media Asia 2018 di Hong Kong, Jumat (9/11).

Menurut dia, hasil ini didapat dari hasil survei Reuters ke 74 ribu responden dari 37 negara di bulan Januari-Februari 2018.

"Juga tidak benar jika publik selalu percaya dengan berita yang didapat dari media sosial. Mereka ternyata skeptik dengan apa yang ditemui di media sosial," tambahnya.

Masalah 'fake news'

Rasmus Nielsen juga menyoroti tentang fake news atau berita bohong. Dari hasil survei, ternyata publik memiliki pemahaman berbeda tentang fake news.

"Hanya 26% yang mendefinisikannya sebagai berita bohong. Lebih besar daripada itu, 42%, lebih menganggapnya soal jurnalisme yang buruk seperti adanya kesalahan penulisan atau clickbait (judul berita yang menipu)," ujarnya.

Dikatakannya, mayoritas publik atau 75% menganggap penerbit beritalah yang harus bertanggung jawab soal fake news dibanding yang menyerahkan masalah penanganannya kepada pemerintah.

Terkait konten berbayar, Nielsen menyatakan, tidak benar jika generasi milenial tidak mau membayar untuk mendapat berita dari internet.

"Sama seperti untuk video dan lagu, mereka mau membayar untuk berita. Tantangannya sekarang adalah menghasilkan berita yang disukai oleh segmen tersebut," pungkas Nielsen. (X11)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More