Kerja Intelektual Hakim MK Tepis Godaan Setan

Penulis: Yose Hendra Pada: Jumat, 09 Nov 2018, 09:25 WIB Politik dan Hukum
Kerja Intelektual Hakim MK Tepis Godaan Setan

Mantan Ketua MK Jimly Asshiddiqie -- MI/ADAM DWI

DI tengah kepadatan rutinitasnya sebagai Hakim Mahkamah Konstitusi, Saldi Isra menjaga etos dan energi menulisnya. Saban hari, dia mengaku menghabiskan 2-3 jam, dari habis salat Subuh hingga menjelang berangkat kerja, untuk menulis.

"Setelah Subuh hingga ke kantor, 2 atau 3 halaman sehari. Hampir tiap hari. Kadang tiba di kantor pun diteruskan," kata Saldi Isra saat memberikan sambutan dalam peluncuran buku dalam rangka Peringatan 50 Tahun Prof Dr Saldi Isra SH di Convention Hall Universitas Andalas, Padang, Sumatra Barat, kemarin.

Saldi Isra merupakan guru besar Unand dalam bidang hukum tata negara yang saat ini mengabdikan diri menjadi hakim MK. Dari 16 judul buku yang diluncurkan siang itu, 5 judul buku ialah karya lelaki kelahiran Nagari Paninggahan, pinggiran Danau Singkarak, Kabupaten Solok, Sumbar, 20 Agustus 1968 lalu.

Peringatan milad mantan akivis antikorupsi itu dihadiri Ketua MK Anwar Usman, beberapa hakim konstitusi, seperti Maria Farida Indrati, I Dewa Gede Palguna Manahan Sitompul, dan Suhartoyo.

Juga hadir mantan Ketua MK Jimly Asshiddiqie dan pakar hukum tata negara Zainal Arifin Muchtar, Refly Harun, Irman Putra Sidin, aktifis Donal Fariz dan Indra J Piliang, Direktur Pemberitaan Media Indonesia Usman Kansong, dan Kepala Polda Sumatra Barat Irjen Pol Fakhrizal.

Jimly yang didaulat memberikan orasi ilmiah Buku dan Peradaban Bangsa mengatakan menulis bisa digunakan sebagai warisan dunia agar karya kita bisa dibaca dan dikenang.

"Orang Minangkabau memang mempunyai budaya lisan dan itu bisa hilang, kehadiran Saldi Isra bisa mengubah warisan itu menjadi tulisan," ungkapnya.

Ia mengatakan Mahkamah Konstitusi tidak bisa dilepaskan dari buku dan buku tidak terlepas dari peradaban. Pakar hukum tata negara itu mengharapkan hakim yang berada di Mahkamah Konstitusi harus membuat buku karena hal itu ialah kerja intelektual. Minimal, kata dia, tiga buku mengenai hukum melalui ide dari kegiatan setiap hari di MK.

"Dunia kehakiman kita kalau diisi dengan kerja intelektual, Insya Allah bersih sebab tiga 'ta' yang semuanya dinilai hasutan setan, seperti sebutan dulu, yakni harta, tahta, dan wanita. Dengan budaya menulis dan

membaca, kita (hakim) tidak mikir itu dan tahan godaan," jelas Jimly.

Kontitusi untuk Negeri

Lima buku konstitusi yang diluncurkan berjudul Konstitusi untuk Negeri: 50 Jejak Pena Saldi Isra, Pemilu dan Pemulihan Daulat Rakyat, Pergeseran Fungsi Legislasi, Living and Evolving Constitution of Indonesia, dan Sistem Pemerintahan Indonesia.

Buku Konstitusi untuk Negeri diterbitkan Media Indonesia (MI Publishing). Dalam pengantar penerbit, Usman Kansong mengatakan buku yang berisikan 50 tulisan opini Saldi yang pernah dimuat di MI itu sangat berharga baik secara praktis maupun akademis.

50 tulisan Saldi itu terdiri atas masalah legislasi, ketatanegaraan, pemilu, dan pemberantasan korupsi.

Pakar hukum tata negara UGM Zainal Arifin Mochtar memberikan pengantar dalam buku setebal 329 halaman itu yang berjudul Narasi Konsitusionalisme Saldi Isra.

Terkait dengan ulang tahun ke-50, Saldi jujur mengakui, sampai kini tidak tahu lahir tanggal dan bulan apa.

"Kata ayah saya ketika saya tanya waktu kecil, Anda lahir 2 tahun berjarak dengan kakak perempuan yang lahir tahun 1966. Dikatakan sekitar peringatan proklamasi. Ini inisiatif saya menentukan tanggal dan bulan, yakni 20 Agustus (1968)," kisah pendiri Pusat Studi Konstitusi (Pusako) FH Unand ini yang disambut tawa hadirin. (X-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More