Nilai-Nilai Kepahlawanan kian Langka

Penulis: Dhika Kusuma Winata Pada: Jumat, 09 Nov 2018, 08:07 WIB Humaniora
Nilai-Nilai Kepahlawanan kian Langka

ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
PENGANUGERAHAN GELAR PAHLAWAN NASIONAL: Presiden Joko Widodo (kanan) memberikan tanda jasa kepada ahli waris almarhum Depati Amir saat penganugerahan gelar pahlawan nasional di Istana Negara, Jakarta, Kakis (8/11/2018).

PERINGATAN Hari Pahlawan yang jatuh setiap 10 November merefleksikan penghargaan bangsa ini kepada tokoh-tokoh nasional di masa lalu yang pernah menjadi anutan publik.

Ironisnya, di era kekinian, Indonesia justru mengalami krisis sosok kepahlawanan. Pasalnya di ruang publik, para elite kerap hanya mempertontonkan perebutan kekuasaan dan kepentingan golongan.

Kalangan elite dinilai belum bisa dijadikan teladan sumber nilai kepahlawanan. Contohnya masih banyak elite ataupun pemimpin silih berganti menjadi pesakitan korupsi.

"Saat ini kita memang krisis figur pahlawan. Yang namanya pemimpin justru menjadi contoh buruk karena dipengaruhi kepentingan dan kekuasaan," kata sosiolog dan guru besar di Departemen Sosiologi Universitas Airlangga Surabaya, Bagong Suyanto, menegaskan hal itu saat dihubungi, kemarin.

Karena itu, menurut Bagong, pah-lawan tidak perlu lagi dipersepsikan berasal dari kalangan elite. Sosok kepahlawanan dari akar rumput perlu dimunculkan.

"Sekarang waktunya pahlawan didekonstruksi. Dicari figur pahlawan dari orang-orang kecil yang memiliki moralitas dan kepedulian yang tulus berbuat baik bukan karena butuh dukungan suara, melainkan karena panggilan hati," jelasnya.

Dalam kaitan yang sama, mantan Sekretaris Kerasulan Awam Konferensi Waligereja Indonesia Romo Suprapto menilai saat ini sosok tokoh yang dianggap dapat memberikan keteladanan di level nasional ialah Presiden Joko Widodo.

"Bangsa ini membutuhkan sosok anutan untuk memberikan keteladanan yang diperlukan masyarakat. Misalnya saja, keteladanan presiden kita yang luar biasa, Pak Jokowi. Bagi saya, dia adalah sosok penuh dedikasi menjalankan amanah yang diemban," ungkap Romo Suprapto, kemarin.

Gelar pahlawan

Dalam rangkaian peringatan Hari Pahlawan 10 November, Presiden Joko Widodo menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada enam tokoh melalui Keputusan Presiden Nomor 123/TK/Tahun 2018.

Penganugerahan gelar itu disampaikan Presiden Jokowi di Istana Negara, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, kemarin.

Keenam tokoh itu ialah almarhum Abdurrahman Baswedan dari Provinsi DI Yogyakarta, almarhumah Agung Hajjah Andi Depu dari Sulawesi Barat, almarhum Depati Amir dari Bangka Belitung, almarhum Mr Kasman Singodimedjo dari Jawa Tengah, almarhum Ir H Pangeran Mohammad Noor dari Kalimantan Selatan, dan almarhum Brigjen KH Syam'un dari Banten.

Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan penghargaan diberikan atas pengabdian dan jasa-jasa mereka yang luar biasa kepada negara dan bangsa sesuai dengan bidang perjuangan masing-masing.

Sekretaris Kemenko Polhukam Letjen TNI Agus Surya Bakti meminta peringatan Hari Pahlawan dijadikan momentum pengembalian semangat cinta tanah air di tengah banyaknya cobaan yang dihadapi bangsa ini. (Ins/Pol/Nic/Ant/X-6)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More