Perempuan Iran Paling Rentan terhadap Sanksi AS

Penulis: Al Jazeera/Denny Parsaulian Sinaga/I-1) Pada: Jumat, 09 Nov 2018, 01:00 WIB Internasional
Perempuan Iran Paling Rentan terhadap Sanksi AS

AFP/ATTA KENARE

PADA 5 November, sanksi Amerika Serikat (AS) lebih lanjut terhadap Iran mulai berlaku dan akan membawa konsekuensi yang menghancurkan pada Republik Islam dan rakyatnya. Perempuan bersama dengan anak-anak dan orang-orang Iran yang miskin paling berisiko.

Fatemeh, 27, bekerja pada pusat kesehatan publik dan mengajar biologi di sekolah menengah di Ibu Kota Iran, Teheran.

Lahir di Iran setelah perang Iran-Irak, dia dan keluarganya kemudian pindah ke Kanada kemudian ke California pada usia 13 tahun.

Setelah lulus kuliah dia memutuskan ingin kembali ke Iran. Saat ini seperti banyak orang lain, dia sudah mulai merasakan efek dari sanksi. "Ini jelas tidak mudah," katanya kepada Al Jazeera. "Enam, tujuh bulan lalu, ketika dolar dan (rial) menjadi gila, harga naik. Itu membuat saya ragu jika (apakah kembali) benar-benar keputusan yang bagus, dan apakah saya dapat mempertahankan ini lebih lama lagi."

Menurut Fatemeh, berapa banyak uang yang dia hasilkan, kini tidak ada artinya dalam dolar.

Dengan devaluasi mata uang Iran, gaji bulanan Fatemeh kini hanya setara dengan sekitar US$160. Ini turun tajam dari apa yang dulu sekitar US$800.

Seakan menambah kesengsaraan perempuan, produk-produk perempuan seperti barang-barang kebersihan menstruasi dan obat-obatan tertentu telah menjadi semakin sulit ditemukan dan juga jauh lebih mahal.

Fatemeh mengatakan mencari merek Barat seperti Always atau Kotex bisa membuat frustrasi. "Saya pergi ke enam atau tujuh apotek dalam sehari dan saya tidak bisa menemukannya," katanya.

Dia berkelana ke Yordania, bagian kota yang lebih makmur, tetapi di sana juga hanya ada rak-rak kosong. Bahkan, merek Iran menjadi lebih mahal. Apa yang dulunya 100 ribu rial sekarang dijual 160 ribu rial, atau sekarang bernilai sekitar US$3,80.

Konsultan gender di International Crisis Group, Azadeh Moaveni, mengatakan ada kekurangan mikro setiap hari yang mengikis kualitas hidup warga di tiap kelas yang berbeda. "Seiring waktu, sanksi akhirnya memiskinkan kelas menengah."

Yasaman, lulusan universitas berusia 22 tahun, bekerja di restoran cepat milik keluarganya di Shiraz. "Orang-orang tidak membeli apa-apa sekarang jika mereka bisa menghindarinya. Saya belum pergi berbelanja baru-baru ini. Semua barang menjadi lebih mahal," katanya.

"Kami harus menaikkan harga di menu kami dan tampaknya pelanggan mengerti bahwa kami tidak punya pilihan."

Setelah perayaan Norouz (Tahun Baru) Maret lalu, Ayatollah Ali Khamenei menyerukan kepada Iran untuk mendukung produksi dalam negeri.

"Banyak orang telah setuju," kata Fatemeh, "Bahkan bagi mereka yang tidak terlalu setuju secara politik dengan Khamenei."

Namun, walaupun produk lokal, masih lebih mahal. Popok, misalnya, dibuat dari bahan baku impor.

Di luar efek langsung dan terlihat, analis memperingatkan bahwa sanksi dapat mengganggu dinamika keluarga. "Perempuan, sebagai penyelenggara kehidupan keluarga, perawatan kesehatan, pendidikan, akan sering memikul beban mencoba mencari alternatif bagi keluarga mereka," kata Moaveni. (

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More