Holding Migas Jadikan PGN Pemain Kelas Dunia

Penulis: (E-2) Pada: Jumat, 09 Nov 2018, 06:00 WIB Ekonomi
Holding Migas Jadikan PGN Pemain Kelas Dunia

ANTARA FOTO/M N Kanwa

PEMANFAATAN gas bumi di Indonesia belum optimal. Selain belum ­dieksplorasi sepenuhnya, ­manajemen rantai pasoknya juga masih lemah. Apalagi terdapat beberapa korporasi pelat merah yang bermain di sektor yang sama. Hal tersebut membuat pengelolaan dan pelayanan dari entitas milik negara menjadi tidak maksimal.

Hal itulah, kata Direktur Utama PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) Gigih Prakoso, yang mendasari dibentuknya holding migas.

“Bukan sekadar sinergi BUMN, untuk sektor energi pemerintah bahkan telah menyusun langkah maju dengan membentuk holding migas,” ungkapnya dalam kegiatan Sharing Session di Kantor PGN Area Batam, seperti rilis yang diterima, kemarin. Kegiatan itu merupakan bentuk program pengenalan bagi direksi dan menjadi aktivitas pertama yang dilakukan Gigih di Batam sejak menjadi Direktur Utama PGN per September lalu.

Gigih mengatakan, dengan terbentuknya holding migas, dengan PT Pertamina (persero) bertindak sebagai induk perusahaan sektor migas, strategi memperkuat energi nasional perlahan diwujudkan.

Menurut dia, bersatunya PGN dan PT Pertamina Gas (Pertagas) juga akan meningkatkan utilisasi infrastruktur dan memperkuat rantai pasok. Dengan terintegrasinya infrastruktur PGN dan Pertagas, secara langsung sub-holding gas ini menguasai lebih dari 96% portofolio hilir gas. Hal itu pun akan menyukseskan ketercapaian target RUEN (Rencana Umum Energi Nasional) hingga 2025.

“Dengan kekuatan tersebut, pelayanan gas bumi untuk semua segmen bisa dinikmati rakyat dari Aceh hingga Papua.”

Visi masa depannya ialah menjadikan PGN sebagai pemain bisnis gas yang berskala global, dengan terlebih dahulu memperkuat bisnis gas di dalam negeri,” tukas Gigih.

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More