Pahlawan, Mulat Sariro Hangroso Wani

Penulis: Dominikus Dalu Sogen Asisten Madya Ombudsman pada Ombudsman RI Pada: Rabu, 07 Nov 2018, 05:10 WIB Opini
Pahlawan, Mulat Sariro Hangroso Wani

MI/Duta

BARANGKALI masih tepat pesan pahlawan nasional Pangeran Sambernyowo KGPAA Mangkunegoro I (1725-1795) untuk kondisi bangsa kita saat ini. Pesannya terkait dengan tiga hal. Yakni, merasa ikut memiliki (melu handarbeni), wajib ikut mempertahankan (melu hangrungkebi), serta mawas diri dan berani bertanggung jawab (mulat sariro hangroso wani).
     
Pesan kuat itu masih sangat relevan pada saat sekarang dalam menyambut Hari Pahlawan ke-73 pada 10 November 2018, di tengah hiruk pikuk negara ini menyongsong hajatan pilpres dan pileg tahun depan. Sebagai warga negara, diharapkan semua peserta pemilu mengutamakan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau kepentingan golongan sendiri.
     
Rasa cinta tanah air dan mempertahankan kelangsungan bangsa harus menjadi segala-galanya di atas ambisi pribadi atau golongan. Dengan demikian, proses demokrasi kita akan semakin dewasa. Siapa pun yang menang kelak dalam pemilu nanti harus mendedikasikan diri sebesar-besarnya untuk kepentingan bangsa dan negara.
     
Demikian pula kontestan yang kalah harus mengakui kekalahan dan tetap konstruktif menjadi oposisi bila hal tersebut menjadi pilihan untuk kebaikan bangsa ke depan.
    
Sebagai bangsa, kita semua diharapkan terus mempertahankan kemajuan negara yang sudah tercapai selama ini. Juga memperkuat, memperbaiki, serta mengisi segala kekurangan untuk lebih baik lagi pada masa yang akan datang. Semua pihak diharapkan menyongsong pesta demokrasi 2019 dengan sikap kenegarawanan, serta tetap mengedepankan moral dan etika dengan penuh rasa tanggung jawab untuk kemaslahatan masyarakat banyak.

Perilaku yang mengerus semangat kepahlawanan
Pada aspek lain, kiranya masih juga sangat relevan pesan Bung Karno sebagai pengingat menyongsong Hari Pahlawan bahwa 'perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri'.
     
Hal ini setidaknya dapat dilihat dari berbagai tantangan kehidupan berbangsa saat ini yang membutuhkan kesungguhan perhatian yakni menghadapi musuh dalam negeri sendiri.
    
Musuh utama bangsa ini setidaknya ada tiga, yaitu korupsi, penyalahgunaan narkoba, dan paham radikal yang ingin mengganti ideologi negara dengan paham tertentu. Memerangi korupsi yang sudah berurat dan berakar karena sudah menjadi budaya dalam kehidupan berbangsa ialah pekerjaan yang tidak ringan. Berapa banyak kasus OTT oleh KPK yang melibatkan pejabat publik setiap tahunnya.
    
Demikian pula masalah laten lainnya, seperti penyalahgunaan narkoba. Hal itu pun menjadi bagian yang harus mendapat perhatian sangat serius. Kejahatan model ini melemahkan bangsa karena masa depan generasi muda kita menjadi rusak.
      
Bangsa ini juga diuji dengan adanya pihak-pihak yang ingin  mengganti ideologi bangsa dengan paham lain yang tidak sesuai dengan konsensus pendirian bangsa sebagaimana amanat agung yang tertuang dalam pembukaan dan batang tubuh UUD 1945.  
    
Terdapat upaya yang secara sistematis ingin memecah belah bangsa dengan berkedok agama; menyebar paham radikalisme yang pada akhirnya membuat eksistensi negara besar ini terancam.

Pahlawan zaman now
Sebagai bangsa besar tentunya kita harus tetap optimistis. Masih banyak anak bangsa termasuk para pemimpin yang ada saat ini memiliki visi untuk mengabdikan diri dan berdedikasi untuk bangsa. Para pahlawan zaman now ini menjadi kebanggaan bangsa. Banyak di antara mereka bekerja tanpa publikasi di seluruh pelosok negeri dengan keahlian dan sumbangsih di bidang masing-masing.
    
Kita patut berbangga dengan prestasi anak bangsa Indonesia di berbagai bidang ilmu pengetahuan, baik tingkat nasional maupun internasional. Pada bidang olahraga, Indonesia sukses sebagai tuan rumah dan berprestasi pada Asian Games serta Asian Para Games 2018.
     
Selain itu, ada sumbangsih kita pada perdamaian dunia dalam berbagai misi kemanusiaan, seperti kepada negara Palestina. Rasa solidaritas sebagai bangsa juga terlihat ketika terjadi bencana alam atau musibah kecelakaan. Bantuan tenaga, materiil, dan dukungan moril diabadikan di negeri ini oleh sesama anak bangsa. Semua ini merupakan potensi bahwa bila kita bersatu, kompak, dan bekerja keras, semuanya akan bisa dicapai bersama.
    
Kita juga patut memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Syahrul Anto, penyelam yang meninggal dunia saat menjalankan misi kemanusiaan mencari korban pesawat Lion Air JT 610 di perairan Karawang, Jawa Barat. Jiwa kemanusiaan Syahrul Anto dan banyak lagi orang yang mendedikasikan hidupnya untuk menolong sesama yang tertimpa kemalangan merupakan wujud dari arti pahlawan sesungguhnya pada zaman now. Selamat Hari Pahlawan.

 

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More