Mara, antara Sains dan Takhayul

Penulis: Ardi Teristi Hardi Pada: Selasa, 06 Nov 2018, 17:19 WIB Weekend
Mara, antara Sains dan Takhayul

Dok.IMDB

Film genre horor belakangan ini tengah marak di bioskop. Salah satunya yang tengah tayang ialah Mara. Film horor itu cukup menarik diikuti karena membenturkan kepercayaan masyarakat dengan sains.

Film dibuka dengan adegan seorang anak kecil bernama Sophie (Mackenzie Imsand) terjaga dari tidur dan mendengar suara aneh. Ia lalu berjalan menuju kamar orang tuanya. Namun, belum sempat masuk ke dalam kamar, sang ibu, yang diperankan Rosie Felner, tiba-tiba keluar kamar sambil mendekap Sophie dan berteriak agar jangan melihat ke dalam. Di kamar, tubuh ayahnya sudah tergeletak tak bernyawa.

Di sinilah cerita intinya dimulai. Seorang karakter utama yang berprofesi psikolog forensik, Kate (Olga Kurylenko), hadir. Tugas Kate adalah membantu polisi mengungkap kematian ayah Sophie yang janggal karena mati di saat tidur. Film berkategori 13+ ini kemudian membenturkan persepsi soal kelumpuhan tidur, suatu keadaan yang telah dialami banyak orang. Tubuh tiba-tiba tidak dapat digerakkan saat antara tidur dan sadar. Kebanyakan kepercayaan masyarakat di berbagai belahan dunia menganggap gangguan tidur itu disebabkan ditindih oleh iblis, yang dalam film ini bernama Mara. Namun, dunia sains menyebut fenomena yang di kalangan masyarakat awam Indonesia lazim disebut 'tindihan' itu sebagai sleep paralysis.

Di sisi lain, orang yang mati saat tidur ternyata bukan hanya satu dua orang. Sebelum mati, mereka akan terlebih dulu melewati beberapa fase, dan menjumpai Mara. "Jika ini kasus halusinasi, lalu kenapa kita semua melihatnya? Mara nyata dan dia pernah membunuh sebelumnya," kata Dougie (Craig Conway), salah satu tokoh yang mengalami kelumpuhan tidur.

Sekitar 98 menit, penonton diajak untuk tidak berkedip dan sesekali harus senam jantung karena adegan-adegan yang --dengan ditopang efek suara-- membuat kaget. Cukup menghibur kendati alur dan gaya bercerita film yang yang disutradarai oleh Clive Tonge ini tidak menawarkan kebaruan. (AT/M-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More