Pulau Pertama di Dunia untuk Suaka Orang Utan diresmikan di Indonesia

Penulis: Bintang Krisanti Pada: Selasa, 06 Nov 2018, 12:05 WIB Weekend
Pulau Pertama di Dunia untuk Suaka Orang Utan diresmikan di Indonesia

Yayasan BOS
Suaka Orangutan Pulau Badak Kecil, Kalimantan Tengah.

Yayasan BOS (Borneo Orangutan Survival) bersama dengan mitra Pemerintah dan swasta, meresmikan Suaka Orangutan Pulau Badak Kecil, salah satu pulau di Gugusan Pulau Salat Nusa, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Pulau Badak Kecil ini menjadi pulau pertama di dunia dengan vegetasi hutan alami bagi orang utan.

Pada peresmian yang berlangsung Senin (5/11) itu sekaligus dilakukan pemindahan enam unreleaseable orang utan ke kediaman baru mereka. 

Di Pusat Rehabilitasi Orangutan Yayasan BOS di Nyaru Menteng, ada sejumlah orang utan yang kendati usianya telah cukup dan sehat, namun tidak memiliki keterampilan dan perilaku dibutuhkan untuk hidup di alam liar. Mereka ini, yang biasa dikategorikan sebagai orang utan unreleasable, akibat dari berada terlalu lama dalam kurungan.

Suaka Orangutan Pulau Badak Kecil ini disiapkan melalui kerja bersama antara Yayasan BOS dan Pemerintah Indonesia serta PT. Sawit Sumber Mas Sarana (SSMS) Tbk., dengan dukungan dari organisasi mitra internasional Yayasan BOS dan World Animal Protection (WAP). Kondisi unreleasable bagi para orangutan ini tidak memupuskan harapan hidup mereka. Justru sebaliknya, lingkungan yang aman perlu disiapkan supaya mereka bisa hidup sejahtera.

Pulau Badak Kecil adalah pulau berhutan dengan luas sekitar 104 hektar, bagian dari gugusan Pulau Salat Nusa yang total luasnya mencapai 2.089 hektar, dikelola oleh Yayasan BOS bersama dengan PT. SSMS, dengan tujuan untuk menyiapkan lahan pra-pelepasliaran bagi orang utan yang telah lulus Sekolah Hutan dan lahan suaka bagi orang utan yang tidak bisa dilepasliarkan di hutan. Wilayah ini yang dinilai memiliki daya dukung ideal dengan vegetasi yang terpelihara baik, terisolasi oleh air sungai sepanjang tahun, dan tidak teridentifikasi memiliki populasi orang utan liar; dan dapat mendukung kemampuan adaptasi dan sosialisasi bagi orang utan.

"Kami bahagia melihat mereka (orang utan) akan menikmati kehidupan di Suaka Orangutan Pulau Badak Kecil, namun perlu disadari bahwa kita masih membutuhkan lebih banyak fasilitas suaka, butuh lebih banyak situs pelepasliaran, serta komitmen dan peran serta dari seluruh pemangku kepentingan untuk lebih ketat menjaga hutan dan mencegah orangutan keluar dari habitat aslinya," jelas CEO Yayasan BOS, Jamartin Sihite, dalam rilis yang diterima Media Indonesia, Selasa (6/11).

Enam orangutan yang dilepaskan di pulau suaka ini adalah Moncos (jantan, 20 tahun), Yasmine (betina, 23), Manis (betina, 22), Caesar (jantan, 28), Mama Lasa (betina, 26), dan Pepsi (betina, 21). Keenamnya akan dijaga, diamati, dan diberi pakan tambahan oleh tim dari Yayasan BOS seumur hidup mereka. (M-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More