Penculikan Meresahkan

Penulis: Mathias S Brahmana Pada: Senin, 05 Nov 2018, 06:00 WIB Opini
Penculikan Meresahkan

PENCULIKAN. Lalu lintas jejaring sosial sebulan terakhir diserbu berita dan video penculikan anak. Video seketika viral dikarenakan masyarakat luas ikut membantu sebagai agen penyebaran.


Konten tersebar lewat grup medsos tanpa melalui jaring pengaman. Warganet merasa lebih mudah langsung meneruskan ketimbang menguji kesahihan konten, lokasi dan waktu.

Salah satu video yang cukup viral ialah anak diculik ketika keluar dari mal. Sang anak yang membuntuti ibunya tiba-tiba diambil paksa seorang lelaki. Sang ibu coba mengejar tapi dihalangi dua pelaku lainnya. Warga menyaksikan tapi diam saja.

Video viral penculikan di depan mal itu tidak tercatat dalam laporan kepolisian Indonesia. Apakah kejadinya di luar negeri? Tahun berapa? Apa kepentingannya memviralkan kepada warganet di Indonesia? Belum terjawab!
Sejumlah video penculikan anak kini bertebaran di medsos. Penyidik Badan Reserse Kriminal Polri telah menangkap dua terduga penyebar hoaks (berita bohong) pada 1 November 2018. Pelaku berinisial WA, 31, dan RA, 33.
WA tinggal di Bogor dan bekerja sebagai satpam perumahan di wilayah Jakarta Selatan. WA memosting penculikan anak marak di Jakarta melalui akun Facebook wandaajh.okehh.


Sementara RA, warga Senen, Jakarta Pusat, berprofesi sebagai sopir pribadi. Kabareskrim Polri Komjen Arief Sulistyanto menyatakan WA dan RA hanya iseng menebarkan berita penculikan anak.
Sesederhana itukah? Apakah Kabareskrim tidak menggali kemungkinan ada motif politik di balik intensifnya penebaran gambar/video penculikan anak belakangan ini.

Apakah penyidik tidak merasakan konten penculikan itu telah mempermalukan polisi seolah-olah kewalahan menghadapi aksi kriminal jalanan. Apakah penyidik tidak merasakan keluhan ibu-ibu yang panik mempertanyakan keberadaan polisi.

Apakah polisi sudah mendalami media sosial apa saja yang digunakan WA maupun RA. Sudahkah dibedah dengan siapa saja mereka berkomunikasi. Untuk apakah RA selaku sopir pribadi menggunakan dua SIM <i>card<p>. Bagaimana pergerakan rekening bank mereka.

Banyak sekali pertanyaan yang membuat penasaran. Siapa sebenarnya yang disasar video itu. Adakah mengarah kepada Kapolri Jenderal Tito Karnavian atau Presiden Republik Indonesia Joko Widodo?

Apakah beredarnya berbagai macam berita dan video penculikan anak bersih dari motif terselubung. Jika 2018 merupakan tahun politik berjalan, tentu segala kemungkinan bisa saja terjadi.

Penebaran konten penculikan anak terkesan masif dengan terus beredarnya gambar dan video berbeda-beda. Terkini, polisi menemukan lima berita bohong penculikan anak.

Penculikan anak di Pontianak, Kalimantan Barat, diedarkan 19 Oktober 2018, dengan mengambil foto kasus pencurian telepon seluler di Kabupaten Bogor yang terjadi 16 Oktober 2018.

Berita penculikan anak di Cakung, Jakarta Timur, dengan mata bolong, beredar 21 Oktober 2018. Ternyata anak tersebut memang meninggal akibat kelelahan setelah bermain sepeda dengan teman-temannya pada 20 Oktober 2018. Fotonya kemudian muncul tanpa mata.

Penemuan mayat anak di Kemayoran, Jakarta Pusat, dengan kondisi organ tubuh kosong pada 24 Oktoher 2018, juga viral. Padahal foto merupakan korban yang diduga diperkosa dan dibunuh di Kabupaten Rokan Hilir, Riau, pada 24 Oktober 2018.

Selanjutnya, berita penculikan anak dengan mengambil organ tubuh di Jakarta Utara pada 24 Oktober 2018. Ceritanya, anak berinisial MRS meninggalkan rumah untuk mencari ibunya.

Dia sempat kesasar dan dikabarkan diculik dan diambil organnya. Seharusnya foto itu gugur karena sang anak kemudian pulang. Tapi di lapangan, konten tetap saja beredar sebagai berita penculikan.

Kasus lainnya, berita penculikan anak di Kabupaten Kerinci, Jambi, 17 Oktober 2018. Pelaku menggunakan foto berita penculikan anak di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, yang terjadi pada 23 Maret 2017.

Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri Irjen Setyo Wasisto menyatakan pihaknya sedang meneliti kaitan kasus satu sama lain. Polisi berupaya membuktikan agenda tersembunyi. Setyo juga menyatakan para pelaku segera ditangkap.  
Ada banyak masalah diduga sedang diskenariokan. Kurang mendalamnya penyidikan kepolisian membuat kumpulan setan hoaks semakin vocal dan berani menunjukkan dirinya.

Satu kasus fokus digulir dan dibesarkan agar masyarakat berpikiran keamanan keluarga mereka sudah terancam. Bayangkan, buah hati bisa diculik kapan saja. Bunda menjadi cemas, keluarga gundah gulana. Jika anak bisa diculik dari tengah-tengah keluarga, berarti pemimpin tidak mampu mengelola negara.

Penebaran hoaks sekarang ini mengesankan modus penggiringan sedang berlangsung. Masyarakat akan terus disuguhkan berita dan tontonan seolah-olah negara menuju k\ehancuran.

Tujuan pelaku akan berhasil jika masyarakat berpikiran negara yang kita tinggali sekarang ini sudah menakutkan sekaligus mengerikan. Padahal faktanya tidaklah demikian.

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More