Bung Karno dan Ekonomi Kreatif 

Penulis: Teguh Boediyana Pada: Rabu, 31 Okt 2018, 23:50 WIB Opini
Bung Karno dan Ekonomi Kreatif 

Dok.Pri

MENYEBUT nama Bung Karno sama artinya memahatkan sosok ini sebagai pendiri bangsa. Selain sebagai proklamator dan presiden pertama Republik Indonesia, Bung Karno dikenal sebagai politikus ulung, orator hebat, nasionalis tulen, pencinta seni, pemimpin bangsa yang visioner, dan berbagai kelebihan lain. 

Tetapi  jarang sekali orang mengenal bahwa sesungguhnya Bung Karno seorang yang memiliki konsep hebat dalam bidang ekonomi. Meskipun pendidikan formalnya arsitek, tetapi Bung Karno sangat menguasai ekonomi makro. Itu tergambar dalam pembelaan Bung Karno di depan pengadilan Belanda 1930. 

Selama menjadi Presiden mulai 1945 sampai 1959, rakyat dan dunia tidak sepenuhnya memahami bahwa Bung Karno adalah seorang yang memiliki konsep  membangun bangsa dalam bidang ekonomi. Hal ini dapat dimengerti karena setelah dilantik sebagai Presiden, Bung Karno lebih tampil sebagai kepala negara dan tidak sebagai kepala pemerintahan.  Kegiatan pemerintahan dipegang perdana menteri. 

Sebagian rakyat baru memahami kelebihan Bung Karno dalam bidang ekonomi setelah Dekrit Presiden 5 Juli 1959, di mana Republik  Indonesia kembali ke UUD 1945 dan berdasar UUD 1945 Presiden selain kepala negara juga sebagai kepala pemerintahan.  

Melanjut  dari Dekrit  tersebut, Presiden Soekarno memberi judul pidatonya pada 17 Agustus 1959 'Penemuan Kembali Revolusi Kita'. Keseluruhan isi pidato tersebut ditetapkan sebagai GBHN dan sebagai Manifesto Politik. Sebagai GBHN dan Manifesto Politik, maka dipastikan  kebijakan  di bidang ekonomi masuk di dalamnya.  

Ekonomi kreatif
Sejak sekitar 9 tahun lalu, mencuat istilah ekonomi kreatif yang kemudian pengembangannya menjadi salah satu tugas seorang menteri di era Presiden SBY. Apakah ekonomi kreatif itu dan sebagai sesuatu yang baru di khasanah perekonomian Indonesia? Dari Wikipedia didefinisikan bahwa ekonomi kreatif adalah suatu konsep di era ekonomi baru, yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan ide dan pengetahuan dari sumber daya manusia sebagai faktor produksi yang utama. 

Menurut Jhon Howkins dalam bukunya The Creative Economy: How People Make Money from Ideas, ekonomi kreatif adalah : the creation of value as a result of idea. 

United Nation Conference on Trade and Development  mendefinisikan  ekonomi kreatif adalah An evolving concept based on creative assets potentionally generating economic growth and development.

Dalam cetak biru Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2009–2015, ekonomi kreatif didefinisikan sebagai 'era baru  ekonomi setelah ekonomi pertanian, ekonomi industri, dan ekonomi informasi, yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan ide dan pengetahuan dari sumber daya manusia sebagai faktor produksi utama dalam kegiatan ekonominya.'

Pertanyaan selanjutnya, apakah Bung Karno sebagai seorang nasionalis dan visioner telah memikirkan pengembangan sumber daya manusia sebagai basis untuk pengembangan perekonomian di Tanah Air? 

Bung Karno telah jauh hari meletakkan dasar pengembangan ekonomi bangsa yang mengandalkan pada ide dan berbasis sumber daya manusia. Dalam Deklarasi Ekonomi (DEKON) yang dicanangkan pada 28 Maret 1963 oleh Presiden Soekarno, secara jelas disebutkaan sebagai berikut;

"Teranglah, saudara-saaudara, bahwa jalan ke arah Sosialisme Indonesia harus ditempuh secara gotong royong antara Pemerintah dan rakyat. Khususnya dalam keadaan sekarang soal pembangunan di Indonesia tidak berlangsung hanya melalui modal Pemerintah akan tetapi juga modal yang dikumpulkan oleh rakyat, baik modal material maupun mnodal pengalaman, dan lebih lebih modal dalam arti semangat dan patriotism merupakan syarat mutlak bagi  kemajuan kita semuanya. Pertumbuhan selanjutnya kea rah Sosialisme Indonesia  akan dilaksanakan oleh bangsa Indoesia sendiri secara kreatif, disesuaikan dengan ciri-ciri kepribadian nasional dari bangsa Indonesia sendiri."

Dalam butir 22 b dari Deklarasi Ekonomi juga tersurat 'Memperkembangkan segala aktivitas dan daya kreatif rakyat.' 

Dari kutipan tersebut sudah sangat jelas bahwa Bung Karno dapat dikatakan sebagai pemimpin bangsa yang meletakkan dasar ekonomi kreatif dalam pembangunan bangsa. Konsep ekonomi yang tertuang dalam GBHN dan Manipol sangat tegas menggambarkan selain cita cita terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur, juga  adalah bagaimana membangun kemampuan bangsa untuk menjalankan roda ekonomi. 

Hal mendasar lainnya yang ditegaskan oleh Bung Karno bahwa salah satu modal besar yang dimiliki bangsa Indonesia adalah percaya kemampuan bangsa sendiri. Kombinasi ekonomi kreatif, sumber daya manusia, kemampuan bangsa sendiri, dan berdikari di bidang ekonomi akan merupakan kekuatan besar untuk terwujudnya cita-cita bangsa yaitu masyarakat adil dan makmur.

Tampaknya kita perlu untuk menengok kembali apa yang dicanangkan oleh Bung Karno, selain berdikari di bidang ekonomi juga bagaimana memaksimalisasi daya kreativitas rakyat dan didorong dengan percaya pada kemampuan bangsa sendiri. 

Negara kita kaya akan seni dan budaya dan sumber daya alam yang dapat dikonversi menjadi kekuatan ekonomi yang riil. Selain itu keberadaan usaha mikro, kecil dan menengah (yang jumlahnya sekitar 59 juta unit), serta koperasi yang jumlahnya sekitar 150 ribu, adalah potensi yang perlu diberdayakan dan digali kreativitasnya untuk mempertahankan kedaulatan ekonomi bangsa Indonesia. 
 

Penulis adalah pengamat ekonomi kerakyatan

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More