Anak Muda Indonesia Menuju Indonesia Maju

Penulis: Chrisma A Albandjar Praktisi Kebijakan Publik Pada: Selasa, 23 Okt 2018, 00:15 WIB Opini
Anak Muda Indonesia Menuju Indonesia Maju

MI/seno

INDONESIA membuat tercengang dunia dengan tarian, nyanyian, dan pertunjukan pada Asian Games yang lalu. Memang itulah DNA bangsa Indonesia yaitu kreatif. Ketika kita 'menjual' Indonesia, yang kita tunjukkan ialah tarian, nyanyian, lukisan, cerita, dan panorama karena memang Indonesia adalah negara kreatif.
    
Kekayaan Indonesia ialah pada kreativitasnya. Bukan tanpa alasan Presiden Joko Widodo membentuk Badan Ekonomi Kreatif pada 2015. Di 2028, 100 tahun setelah Sumpah Pemuda, jumlah penduduk usia produktif Indonesia diperkirakan 60%-70% dari total penduduk. Pada dekade yang sama itu pula, kian banyak pekerjaan diambil alih oleh robot, mesin, ataupun artificial intelligence. Namun, tidak dalam hal kreativitas dan bakat, dan kedua hal itulah yang dimiliki Indonesia.
    
Kompetitif dan produktif, dua hal yang selalu disebut Presiden Joko Widodo, ialah kunci kemenangan Indonesia untuk menjadi negara maju. Kreatif sebagai modal dasar bangsa Indonesia dapat memenangi pertarungan global dan kompetitif. Modal yang sudah dimiliki sejak zaman nenek moyang.
    
Selama 4 tahun terakhir, tiga hal penting sudah dikerjakan pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla untuk memperkuat daya saing dan produktivitas, juga menjadikan Indonesia negara maju dan memastikan di 2030 kita mampu menjadi negara maju yang produktif dan kompetitif.

Hal pertama ialah memperkuat infrastruktur serta kesempatan untuk bekerja dan berusaha sehingga Indonesia menjadi kompetitif dan produktif. Tanpa infrastruktur transportasi, sulit bagi perdagangan Indonesia untuk menekan biaya. Tanpa infrastruktur backbone internet yang kuat, sulit bagi ekonomi digital untuk berkembang. Tanpa infrastruktur pembiayaan yang tepat, sulit bagi anak muda untuk berusaha dan berkembang, ataupun memiliki desa yang mandiri.
     
Kedua, menghubungkan pendidikan vokasi dengan bisnis. Pendidikan vokasi yang terhubung dengan bisnis memungkinkan anak muda Indonesia untuk mendapat pekerjaan. Utamanya pekerjaan yang memadai, apalagi dengan kondisi pendidikan saat ini yang rata-rata hanya kelas 2 SMP.
     
Ketiga, memastikan bahwa di masa depan, anak muda Indonesia cerdas dan mampu bersaing, dengan cara meningkatkan gizi dan menekan angka stunting. Kesehatan merupakan 'infrastruktur' kunci untuk penguatan sumber daya manusia.
     
Kecerdasan ialah sesuatu yang harus direncanakan sejak 1.000 hari pertama manusia terbentuk, yaitu dari kehamilan hingga berusia 3 tahun. Setelah lewat masa itu, yang bisa dilakukan hanyalah mengoptimalkannya saja, bukan membentuk.
    
Kreativitas ialah bibit yang membutuhkan medium untuk berkembang dan berbuah. Bibit yang sudah diberkahi Tuhan Yang Mahakuasa untuk bangsa Indonesia yang menjadi kekuatan negara ini. Berkat yang diberikan Tuhan Yang Mahakuasa kepada kita ialah negara yang berwarna, beraneka ragam dalam satu bangsa, bangsa Indonesia.
    
Sudah jelas bahwa Indonesia bukanlah negara yang seragam dan tidak bisa diseragamkan. Karena itulah, menjadikan ekonomi kreatif sebagai kekuatan Indonesia ialah strategi kunci Presiden Joko Widodo agar anak muda Indonesia memenangi persaingan global.
    
Jadi jelas, bukan sekadar 'kekinian' yang ditunjukkan Presiden Joko Widodo ketika membentuk Badan Ekonomi Kreatif, atau menggunakan budaya pop sebagai analogi ketika berbicara di forum internasional, juga menggunakan berbagai produk kreatif dalam berbagai kesempatan.
    
Presiden Joko Widodo ingin menunjukkan kepada dunia dan masyarakat Indonesia bahwa keberagaman budaya dan kreativitas kita adalah kekuatan besar yang sedang kita eksplorasi dan dorong sebagai bagian dari perjalanan kita menuju Indonesia maju.
    
Jika pada 28 Oktober 1928 pemuda kita bersumpah mempersatukan Indonesia, kini saatnya kita mendorong persatuan itu ke langkah yang lebih jauh yakni menjadi negara maju.
    
Dengan perkiraan jumlah usia produktif hampir dua kali lipat usia nonproduktif di 2028, dapat kita bayangkan dahsyatnya kekuatan anak muda Indonesia yang kreatif, produktif, dan kompetitif. Ini sesuatu tujuan yang tidak bisa dicapai dengan menggunakan prinsip Roro Jonggrang, diraih dalam semalam.
    
Dibutuhkan waktu, kecerdasan, infrastruktur, konsistensi, dan visi kuat anak muda Indonesia saat ini, persis seperti yang terjadi 90 tahun lalu yakni pada 28 Oktober 1928.

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More