Milenial Suka dengan Kejutan

Penulis: Insi Nantika Jelita Pada: Senin, 22 Okt 2018, 08:05 WIB Politik dan Hukum
Milenial Suka dengan Kejutan

Ketua DPP Partai NasDem Willy Aditya -- MI/Susanto

PESERTA Pemilu 2019 perlu cara jitu untuk mendulang suara kaum milenial. Ada lima prinsip yang perlu digunakan saat berkampanye bagi caleg maupun capres dan cawapres.

CEO Alvara Research Center Hasanudin Ali menjelaskan, pertama harus memperhatikan bahasa yang kerap digunakan para pemilih. Seperti bahasa-bahasa yang bertebaran di media sosial.

"Kampanye yang digunakan harus menggunakan bahasa-bahasa yang praktis, tidak boleh janji-janji yang mengawang dan seterusnya," kata Hasanuddin dalam sebuah diskusi di Cikini, Jakarta Pusat (20/10).

Kedua, peserta politik harus autentik apa adanya. Menurut Hasanuddin, penampilan karakter tidak boleh pencitraan. "Seperti wanita, bedak jangan terlalu tebal, para milenial tidak suka. Lebih suka apa adanya.''

Ketiga ialah pembaharuan. Hasanuddin mengatakan sesuatu yang disampaikan para calon harus memiliki unsur kejutan untuk para milenial.

Generasi milenial suka dengan kejutan yang tak terpikirkan sebelumnya. Dia mencontohkan Presiden Joko Widodo yang menggunakan moge dalam video pembuka Asian Games 2018. "Keempat interactivity atau harus interaktif, cara kampanye harus dialogis tidak statis atau monoton. Milenial tak suka kampanye dengan sistem satu arah," ujar Hasanuddin.

Terakhir, kreativitas. Peserta Pemilu 2019 harus kreatif dalam berkampanye. Seperti menggunakan meme atau tipografi yang menarik."Cara ini menentukan karena pemilih milenial sangat menentukan nasib Indonesia. Berdasarkan persentase ada 43% pemilih yang berumur 17-30 tahun."

Dalam survei Alvara ada 22% kaum millenial menyukai pemberitaan politik. Adapun 70% lainnya, pemuda berusia 21-35 tahun tersebut lebih menyukai pemberitaan lifestyle, musik, IT, maupun film.

Cara sendiri

Ketua DPP Partai NasDem Willy Aditya menilai generasi milenial punya cara sendiri menilai pemimpin yang pantas dipilih. Usia diyakini bukan satu-satunya ukuran para generasi milenial memilih pemimpin.

"Tipologi pemilih kita sebenarnya sentris. Dia tidak mesti oleh anak muda pilih anak muda. Tipologi pemilih kita itu cair," ucap Willy.

Menurut Willy, sikap politik pemilih millenial cenderung sulit diprediksi. Permasalahannya tinggal pemimpin atau partai partai politik bisa atau tidak mengakomodasi suara mereka.

"Anak-anak muda biasanya preferensinya suka dengan hal-hal yang baru. Kita minta teman-teman (ka-der) update dengan hal-hal yang sama," jelas Willy.

Partai NasDem, kata dia, akan selalu mengakomodasi generasi milenial. NasDem berupaya menyesuaikan apa yang menjadi kebutuhan mereka. "Jadi kita menghadirkan apa yang menjadi preferensi mereka terus gaya bahasa, pola komunikasi, pola ke-giatannya. Maka kemudian kita gunakan hal seperti itu," ujarnya.

Seperti diketahui, kompetisi politik elektoral 2019 diperkirakan akan didominasi generasi milenial. Berdasarkan proporsi usia pemilih, Pemilu 2019 akan diikuti sekitar 40% pemilih usia 17-35 tahun. Itu artinya generasi milenial akan turut mewarnai peta dukungan politik 2019, bahkan akan menentukan siapa calon presiden Indonesia mendatang.

Karakter mendasar yang membedakan generasi X (36 tahun-55 tahun) maupun generasi baby boomers (55 tahun ke atas) dengan generasi milenial (17 tahun-35 tahun) ialah melek informasi dan terkoneksi (connected) melalui jejaring media sosial digital, yang terhubung melalui internet. (P-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More