Musim Tanam Padi Mundur di Malang

Penulis: Bagus Suryo Pada: Minggu, 21 Okt 2018, 17:30 WIB Nusantara
Musim Tanam Padi Mundur di Malang

MI/CIKWAN

MUSIM tanam di Kabupaten Malang, Jawa Timur, mundur lantaran ketersediaan air irigasi tidak mencukupi kebutuhan untuk pertanian.

"Petani memulai tanam lagi sekitar Desember," tegas petani di Dusun Genteng, Desa Purwoasri, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Suprono kepada Media Indonesia, Minggu (21/10).

Petani mengaku pasrah dengan kondisi kemarau tahun ini. Sebab pengairan sawah selama ini hanya mengandalkan sumber mata air di desa setempat yang mulai berkurang. Mereka berharap musim hujan segera datang untuk bisa memulai musim tanam.

Suprono mengatakan baru saja panen di lahan miliknya seluas 2.500 meter persegi. Akhir musim panen tahun ini, ia mendapatkan 18 kuintal atau 1,8 ton gabah kering panen (GKP). 

Kendati terpaksa memulai tanam pada Desember mendatang, ia masih tertolong dengan hasil panen yang dinilainya cukup lumayan. Sebab harga GKP rata-rata Rp4.600 per kg. Harga itu jauh lebih tinggi ketimbang harga pokok pembelian (HPP) GKP Rp3.700 per kg.

Dengan harga GKP itu, Suprono setidaknya mendapatkan hasil panen dari menjual gabah mencapai Rp8,28 juta. Sementara biaya produksi mengolah lahan 1/4 ha miliknya hingga panen hanya Rp1,8 juta. Setidaknya ia mendapatkan Rp6,48 juta sekali panen.

"Sebagian hasil panen ini saya jual untuk modal tanam lagi. Sebagiannya untuk cadangan pangan keluarga," tuturnya.

Hasil panen kali ini, lanjutnya, cukup lumayan ketimbang panen sebelumnya banyak menelan kerugian akibat terserang hama tikus dan wereng.

Sementara itu, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Pemkab Malang Budiar Anwar mengatakan terus memacu luas tambah tanam sawah. Hal itu guna mendongkrak lebih banyak surplus beras meski panen padi hingga data Agustus 2018 mencapai 369.788 ton.

"Luas tambah tanam surplus 1.700 hektare ketimbang tahun lalu," tegasnya.

Penambahan areal tanam itu, kata Budiar, menjadi prioritas pemerintah pusat sampai daerah. Karenanya upaya itu terus digalakkan meskipun musim kemarau.

Berdasarkan data di Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan setempat mengungkapkan target tanam padi selama musim penghujan (Oktober 2017-Maret 2018) seluas 43.526 ha, tapi terealisasi 42.197 ha. Sedangkan areal tanam pada musim kemarau 2018 (April-September) targetnya 29.450 ha, terealisasi hanya 27.083 ha.

Adapun produksi padi 2018 mengacu rerata angka sementara menyebutkan untuk periode pertama selama Januari-April, yaitu areal panen seluas 28.210 ha mampu produksi 199.752 ton GKP.

Panen pada periode kedua (Mei-Agustus) mampu produksi padi sebanyak 170.036 ton di lahan seluas 24.013 ha. Dengan demikian, total produksi padi Januari-Agustus 2018 mencapai 369.788 ton. Produksi itu terus bertambah setelah panen September-Oktober. (OL-3)
 

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More