Warga Krimea Kenang Korban Pembantaian

Penulis: (AFP/Yan/I-2) Pada: Sabtu, 20 Okt 2018, 08:10 WIB Internasional
Warga Krimea Kenang Korban Pembantaian

AFP/ANDREY PETRENKO

WARGA Krimea, kemarin, menggelar upacara peringatan untuk 20 orang yang tewas dalam tragedi penembakan di sebuah kampus di Kota Kerch. Peristiwa penembakan yang dijuluki 'Russia Columbine' itu merupakan insiden pembantaian terburuk dalam sejarah negara tersebut.

Seperti diketahui, pada Rabu (17/10), seorang pemuda berusia 18 tahun, Vladislav Roslyakov, menembaki orang-orang di kampus teknik di Kota Kerch sebelum akhirnya pelaku bunuh diri. Selain korban tewas, lebih dari 40 lainnya terluka dalam serangan itu.

Upacara untuk mengenang para korban yang dihadiri otoritas dari wilayah semenanjung yang dianeksasi Rusia itu dimulai pada pagi hari dan dipusatkan di jantung Kota Kerch. Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, keamanan telah ditingkatkan di kota berpenduduk 150 ribu ribu yang terletak di timur jauh Krimea itu.

Sebagai informasi, di kota itu telah berdiri jembatan baru yang menghubungkan daratan Rusia ke Krimea. Petugas telah menutup semua jalan utama dan warga terlihat meletakkan bermacam jenis bunga di alun-alun pusat kota.

Menurut agenda, upacara berkabung diisi dengan prosesi menuju permakaman baru di Kerch. Sementara itu, menurut Menteri Kesehatan Rusia Veronika Skvortsova, dari para korban yang terluka, beberapa di antaranya dalam kondisi yang sangat serius.

Mereka yang dirawat di rumah sakit, sebagian besar terluka akibat ledakan yang menyemburkan bola logam dan barang-barang lainnya. "Enam korban telah di-pindahkan ke Moskow untuk perawatan lebih lanjut," kata Wali Kota Moskow Sergei Sobyanin.

Sebelumnya, pada Kamis (18/10), seorang gadis yang mengaku sebagai mantan pacar Roslyakov mengatakan kepada media Rusia bahwa mantan pacarnya pernah berbicara akan membalas dendam untuk tindakan bullying yang dia alami. "Dia mengatakan bahwa dia kehilangan kepercayaan pada orang-orang ketika teman-teman sekelasnya mulai mempermalukan dia karena dia tidak seperti orang lain," kata Zlata, 15, kepada saluran televisi RT.

Di melanjutkan, pelaku ke-rap bercerita tentang se-ringnya dia berkelahi dengan orang-orang di sekitarnya. Roslyakov juga menambahkan bahwa dia tidak ingin hidup karena itu.

Sementara itu, Presiden Putin mengatakan aksi pembu-nuhan itu ialah hasil globalisasi dan kelanjutan dari tren yang telah dimulai di Amerika Serikat.

Berita Terkini

Read More

Poling

Minggu (17/3) digelar debat ketiga Pilpres 2019. Debat kali ini diikuti oleh Calon Wakil Presiden Ma'ruf Amin dan Sandiaga Salahudin Uno. Debat ini akan mengangkat tema pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial, dan budaya. Menurut Anda siapa yang akan unggul dalam debat kali ini?





Berita Populer

Read More