Tiada HET, Harga Garam Anjlok

Penulis: (UL/WJ/N-3) Pada: Kamis, 18 Okt 2018, 22:30 WIB Nusantara
Tiada HET, Harga Garam Anjlok

ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho/

PETANI garam meminta pemerintah menetapkan harga eceran tertinggi (HET). Ketiadaan HET ini menyebabkan harga dipermainkan tengkulak. Saat ini produksi melimpah, tetapi harga anjlok. Untuk 1 kg garam di tingkat petani hanya dihargai Rp500.

Dari data yang dihimpun, petambak garam di Kabupaten Cirebon sejak Juli 2018 sudah memanen. Awalnya harga garam sempat menyentuh Rp 2 ribu/kg. Namun, terus turun menjadi Rp 1.600/kg, 1.200/kg hingga Rp 800/kg.

“Sekarang lebih parah lagi, hanya dihargai Rp450 hingga Rp 500/kg,” ungkap Yusuf, seorang petambak garam di Kalibangka, Desa Rawa­urip, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon, Kamis (18/10).

Menurut Yusuf, selama ini garam tidak memiliki standar harga. Tidak seperti beras yang harga eceran tertingginya sudah ditetapkan pemerintah. Akibatnya harga garam bergerak bebas disesuaikan dengan kemauan dari tengkulak.

Dijelaskan Yusuf, dengan musim kemarau yang cukup panjang tahun ini, petambak mampu menghasilkan 1 hingga 3 ton garam setiap harinya.

Namun, produksi yang berlimpah justru dihargai dengan harga yang sangat rendah.

Senada diungkapkan petambak lainnya, Wawan. Dirinya berharap pemerintah memperhatikan masalah petani garam. Selama ini, mereka merasa pemerintah belum hadir. Harga garam dikendalikan para tengkulak seenaknya. Petani garam tidak memiliki daya tawar.
Nasib serupa dialami peternak ayam petelur, harga telur saat ini turun drastis. Perkilo telur ayam hanya dihargai Rp16.500 di tingkat peternak. Padahal, biaya produksi mencapai Rp19 ribu per kg.

Oleh karena itu, para peternak yang tergabung dalam paguyuban peternak ayam petelur Surakarta, kemarin siang menggelar protes ke pemerintah dengan cara membagi-bagikan 700 telur matang secara gratis ke masyarakat yang lewat di Bundaran Gladak.

Mereka juga menggelar poster, yang intinya meminta perhatian pemerintah agar cepat bertindak melakukan penyelamatan. Saat ini harga telur sampai ke konsumen tidak boleh lebih dari Rp18 ribu. “Sebaiknya pemerintah adil, dulu ketika harga telur mencapai Rp30 ribu, kita diminta menurunkan. Saat anjlok seperti ini tidak berbuat apa-apa. Padahal, sesuai Permendag, harga telur normal Rp20 ribu,” tukas koordinator aksi, Joko Surono. (UL/WJ/N-3)


                      

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More