Sebagian Besar Guru Intoleran

Penulis: Dhika Kusuma Winata dhika@mediaindonesia.com Pada: Rabu, 17 Okt 2018, 08:50 WIB Humaniora
Sebagian Besar Guru Intoleran

MI/PIUS ERLANGGA

SEKITAR 63,07% guru di Indonesia cenderung intoleran. Bahkan, di antara mereka masuk kategori sangat intoleran terhadap pemeluk agama lain.

Demikian hasil survei Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta mengenai pandangan keberagaman di kalangan guru muslim se-Indonesia. Hasil survei tersebut dirilis kemarin.

"Hasil ini merepresentasikan opini intoleransi guru beragama Islam di semua level pendidikan, dari TK hingga SMA atau madrasah aliyah. Sebagian besar masuk kategori intoleran dan sangat intoleran terhadap pemeluk agama lain," kata Direktur Eksekutif PPIM UIN, Saiful Umam, dalam rilis hasil survei bertajuk Pelita yang Meredup: Potret Keberagaman Guru Indonesia di Jakarta.

Menurutnya, hasil opini intoleransi tersebut diukur menggunakan sejumlah pernyataan. Di antaranya, pernyataan bahwa nonmuslim boleh mendirikan sekolah berbasis agama di lingkungan sekitar. Pernyataan lain yang diujikan ialah tetangga yang berbeda agama boleh mengadakan acara keagamaan di kediaman masing-masing.

Hasilnya, ujar Saiful, sebanyak 56% guru tidak setuju nonmuslim boleh mendirikan sekolah berbasis agama di sekitar tempat tinggal mereka. Sebanyak 21% guru juga tidak setuju bahwa tetangga yang berbeda agama boleh mengadakan acara keagamaan di lingkungan tempat tinggal mereka.

"Kedua contoh pernyataan itu memiliki muatan faktor tinggi dalam mengukur opini intoleransi," katanya.

Survei tersebut melibatkan 2.237 responden guru muslim di 34 provinsi. Guru yang menjadi responden berada di semua jenjang pendidikan dasar dan menengah mulai TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, hingga SMA/K/MA. Survei dilakukan pada 6 Agustus hingga 6 September 2018.

Saiful mengatakan, meski dari hasil survei menggambarkan potret buram sikap keberagamaan guru, dengan temuan tersebut tidak serta-merta guru berarti berbuat intoleran. Hasil tersebut hanya menggambarkan pandangan dan intensi intoleransi.

"Tapi belum tentu guru itu pernah melakukan aksi intoleran. Tapi jika ada kesempatan, memungkinkan (melakukan itu). Kalau ditanya aksi, kemungkinan akan melakukan tindakan intoleran sudah berkurang," ujarnya.

Hal itu, lanjutnya, tecermin pada uji pernyataan lanjutan yang diajukan kepada res-ponden. Pada uji intensi aksi intoleran, temuan survei menunjukkan sekitar 29% guru berkeinginan untuk menandatangani petisi menolak kepala dinas pendidikan yang berbeda agama. Sekitar 34% guru juga berkeinginan menandatangani petisi menolak pendirian sekolah berbasis agama non-Islam di sekitar tempat tinggal mereka.

Faktor ekonomi

Terkait dengan hasil survei, Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Heru Purnomo menyatakan faktor ekonomi bisa berkontribusi pada mengerasnya pandangan keagamaan guru. Pasalnya, kondisi kesejahteraan guru di Tanah Air belum merata. Hal itu membuat guru-guru mencari pandangan alternatif yang dinilai bisa membawa kondisi ekonomi yang lebih baik.

Faktor sosial juga dinilai berpengaruh dalam pembentukan pandangan intoleran di kalangan pendidik. Hal itu dikemukakan Ketua Yayasan Cahaya Guru, Henny Supolo. Menurutnya, guru yang memiliki opini intoleran cenderung minim mengalami interaksi sosial antarpenganut agama berbeda. (H-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More