Revisi Nilai Tukar Antisipasi Gejolak Global

Penulis: Nur Aivanni Pada: Rabu, 17 Okt 2018, 04:45 WIB Ekonomi
Revisi Nilai Tukar Antisipasi Gejolak Global

ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

PEMERINTAH bersama Badan Anggara­n (Banggar) DPR RI akhir­nya menyepa­kati asumsi nilai tukar rupiah dalam RAPBN 2019 sebesar 15.000 per dolar AS. Asumsi yang ditetapkan ini sedikit berubah dari yang dipatok pada rapat Panja A sehari sebelumnya sebesar Rp14.500. Hal itu bertujuan menyiasati dampak tekanan ekonomi global akibat perang dagang maupun perkembangan ekonomi Amerika Serikat.

“Kita sudah menyetujui asumsi dasar ekonomi makro 2019,” kata Wakil Ketua Banggar DPR RI Said Abdullah seusai mengetukkan palu atas persetujuan para anggota Banggar dalam rapat kerja bersama pemerintah yang membahas RUU APBN 2019, di Ruang Banggar, Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (16/10).

Dalam rapat tersebut, hanya asumsi nilai tukar yang berubah. Sementara itu, asumsi dasar ekonomi makro 2019 lainnya yang telah disepakati dalam nota keuangan tidak berubah. Pertumbuhan ekonomi, misalnya, tetap diperkirakan 5,3%, inflasi 3,5%, dan tingkat bunga SPN tiga bulan 5,3%. Begitu pun dengan harga minyak mentah Indonesia yang ditetapkan US$70/barel, lifting minyak 775 ribu barel per hari, lifting gas 1.250 ribu barel per hari, dan cost recovery US$10,22 miliar.

Menteri Keuangan Sri Mulya­ni mengungkapkan perubah­an asumsi nilai tukar rupiah dalam APBN dilakukan karena  Indonesia perlu mewaspadai dinamika ekonomi global yang makin dinamis yang dipicu antara lain oleh kebijakan pemerintah Amerika Serikat (AS) yang menaikkan suku bunga, pengetatan likuiditas dolar Amerika, serta perang dagang antara AS dan Tiongkok. Dari dalam negeri, kenaikan impor yang cukup tinggi di atas ekspor mengakibatkan neraca perdagangan yang masih defisit pada Agustu­s 2018. Selain itu, dari hasil Pertemuan Tahunan IMF-WBG 2018 di Bali baru-baru ini mengindikasikan masih akan terjadi ketidakpastian ekonomi global 2019, tapi dengan arah yang lebih positif daripada tahun ini.  

Dengan berkaca pada sejumlah faktor itu, anggota Banggar DPR dari Fraksi NasDem Johnny G Plate menilai usul pemerintah yang meminta perubahan asumsi nilai tukar rupiah sangat relevan. “Perubahan asumsi makro itu relevan dengan perkembangan ekonomi yang terkini, ini bukan masalah ekonomi dalam negeri, nilai tukar ini sangat dipengaruhi faktor eksternal,” kata Johnny.

Untuk diketahui, usul perubahan asumsi nilai tukar rupiah sebesar Rp15.000 dalam RAPBN 2019 merupakan masukan Bank Indonesia. Bank sentral memprediksi tahun depan nilai tukar rupiah akan bergerak di kisaran 14.800-15.200 per dolar AS.

Ekonom Bank BCA David Sumual menilai asumsi nilai tukar rupiah memang harus dinaikkan dengan melihat situasi perekonomian global saat ini. Ia mengatakan asumsi nilai tukar rupiah dalam RAPBN 2019 bisa berada di kisaran 15.000-15.500 per dolar AS. “Sedikit konservatif enggak ada masalah. Di atas Rp15.000 malah cukup bagus, tapi jangan di atas Rp16.000,” katanya, Selasa (16/10).

Sementara itu, nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada kemarin sore menguat sebesar 40 poin menjadi Rp15.180 jika dibandingkan dengan posisi sebelumnya 15.220 per dolar AS. Analis senior CSA Research Institute Reza Priyambada menilai membaiknya kinerja neraca perdagangan Indonesia pada September 2018 manjadi salah satu faktor yang menopang fluktuasi rupiah. (Ant/E-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More