Indonesia Pasti Berdarah Andaikan Polisi tidak Cepat Ungkap Hoaks Ratna

Penulis: Micom Pada: Selasa, 16 Okt 2018, 18:15 WIB Politik dan Hukum
Indonesia Pasti Berdarah Andaikan Polisi tidak Cepat Ungkap Hoaks Ratna

MI/Ramdani

SEANDAINYA Polri tidak bergerak cepat membongkar kebohongan Ratna Sarumpaet soal penganiayaan yang dialaminya bisa jadi Indonesia sudah 'berdarah-darah'. Sebab, masyarakat akan terbelah pendapatnya, dan berujung pada konflik di antara masyarakat sendiri.

Hal itu terungkap dalam diskusi bertema 'Negara Darurat Hoaks' yang digelar Masyarakat Anti-Fitnah Indonesia di Gedung Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jakarta, Selasa (16/10) sore.

Salah satu pembicara, Saor Siagian, mengatakan, dirinya merasa merinding saat lagu Indonesia Pusaka diputar di awal diskusi itu. Dia membayangkan betapa mahalnya persatuan Indonesia yang hampir saja rusak hanya karena hoaks yang disebarkan oleh Ratna Sarumpaet cs.

"Indonesia pasti berdarah-darah sekiranya polisi tidak bergerak cepat membongkar hoaks Ratna itu," kata Saor, yang dikenal juga sebagai anggota Forum Advokat Pengawal Konstitusi itu.

Sekjen DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Hasto Kristiyanto, yang menjadi peserta di diskusi itu, mengaku sependapat dengan Saor. Dia mengingat, pada hari pertama hoaks Ratna diledakkan, Prabowo didampingi tokoh seperti Amien Rais, mengajukan gugatan keras.
Prabowo berpidato, berusaha menusuk jantung pemerintahan Jokowi yang dituduh melanggar HAM.

"Pemerintahan Pak Jokowi (Joko Widodo) dituduh melanggar Hak Asasi Manusia, dituduh melakukan penganiayaan pada seorang ibu-ibu usia 70-an tahun. Sangat dashyat. Pidato yang bisa membakar negeri dengan pertumpahan darah," kata Hasto.

Hasto melanjutkan, dengan gerak cepat kepolisian, hoaks Ratna terbongkar. Dan Prabowo mengaku bahwa dia memang grasa-grusu. Masalahnya, kata Hasto, kini publik mempertanyakan banyak hal. Khususnya soal apakah kebohongan itu sekadar akal-akalan Ratna sendiri, atau merupakan kebohongan terencana, sistematis, dan terstruktur.

"Apakah Pak Prabowo tersebut meminta maaf karena ketahuan bahwa penganiayaan itu sebagai skenario penipuan terencana, atau karena tulus telah dibohongi?" ujar Hasto.

"Siapa di republik ini yang berani bertindak bohong kepada sosok seperti Pak Prabowo? Lalu bagaimana dengan teori firehouse of the falsehood ala Rusia dan telah dipraktikkan di AS?" lanjutnya.

Pertanyaan publik soal kemungkinan kebohongan Ratna sudah direncanakan itu wajar. Sebab Hanum Rais, putri Amien Rais, sempat menyatakan bahwa dirinya adalah seorang dokter yang telah meraba dan memeriksa luka Ratna Sarumpaet. Dia mengaku bisa membedakan gurat luka paskaoperasi dan mana luka paskapenganiayaan.

"Inikah suatu pernyataan dengan referensi profesi yang bisa dikategorikan pelanggaran kode etik kedokteran," kata Hasto.

"Lalu bagaimana sekiranya hal tersebut (kebohongan Ratna) memang proyek penipuan terencana? Mengingat Hanum Rais sebagai seorang dokter pun sampai memertaruhkan profesi dokternya?" ujar Hasto lagi.

Apa pun itu, senada dengan Saor, Hasto mengatakan pihaknya sangat bersyukur dengan gerak cepat Kepolisian yang membongkar kebohongan Ratna Sarumpaet. Selain kepada kepolisian, Hasto juga berterima kasih kepada dokter Tompi, yang sejak awal berusaha menggugah kesadaran publik soal kebohongan Ratna melalui akun Twitter-nya.

"Terima kasih kepada Dokter Tompi yang melalui cuitan di Twitter mampu menggugah kesadaran publik adanya sesuatu yang ganjil, di tengah sikap keras kepala Fadli Zon yang mencoba bertahan pada kebohongan yang direncanakan," ujar Hasto. (RO/OL-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More