Ratna Sarpakenaka

Penulis: ONO SARWONO Pada: Minggu, 14 Okt 2018, 03:30 WIB Weekend
Ratna Sarpakenaka

PEMBOHONG, pemfitnah, hedonis, dan rai gedhek (tidak punya malu) merupakan sederet 'atribut' Sarpakenaka, ratna sentana dalem (keluarga raja) yang sangat populer di Negara Alengka. Ia juga dikenal sebagai pemain drama yang piawai memutarbalikkan fakta.

Selain berwatak miring, Sarpakenaka masih memiliki karakter asor (nista) dan gemar berperilaku ekstrem kiri. Misalnya, ia suka berlagak sapa sira sapa ingsun (congkak), serakah, liar. Pun ia menderita hiperseksual dan gampang jatuh cinta. Bila menginginkan sesuatu, harus segera terpenuhi. Demi nafsunya itu, ia tega melakukan apa pun.

Resminya, Sarpakenaka memiliki dua suami, Ditya Kardusana dan Ditya Nopati. Namun, kesehariannya ia memiliki banyak lelaki simpanan, satu di antaranya Kala Marica, kepala dinas intelijen Alengka.

Langsung terpikat

Sarpakenaka merupakan satu-satunya perempuan dari empat bersaudara keturunan Wisrawa-Dewi Sukesi. Kakak-kakaknya ialah Raja Alengka Prabu Dasamuka dan Kumbakarna, sementara adiknya bernama Gunawan Wibisana.

Secara etimologi, sarpa berarti 'ular', sedangkan kenaka maknanya 'kuku'. Jadi, secara bebas, nama Sarpakenaka bisa diartikan kuku tajam bak gigi ular berbisa. Memang, kuku runcing di seluruh ujung jemari tangan dan kakinya menjadi bagian senjata andalannya.

Pada suatu hari, Sarpakenaka nganglang jagat, jalan-jalan dengan cara terbang mengelilingi wilayah Alengka hingga garis perbatasan dengan negara lain. Ini salah satu kesenangan sang ratna yang biasanya dilakukan pada pagi atau sore hari, kala mentari menampakkan wajah terindahnya di ufuk timur atau barat.

Ketika melayang di atas Hutan Dandaka, Sarpakenaka mendadak terpana. Matanya menangkap dua lelaki bersama seorang putri yang tampak sedang lelana brata, menjalani laku prihatin. Tanpa henti dari berbagai sudut Sarpakenaka memelototi mereka dari atas.

Tidak tahan berlama-lama dengan fantasinya, Sarpakenaka lalu mendarat lembut. Namun, sebelum menemui ketiga pengelana, ia terlebih dahulu mendandani diri sehingga menjadi perempuan cantik nan jelita. Aslinya, Sarpakenaka berwajah raksasa dan polah tingkahnya kelaki-lakian.

Kodratnya, selain bisa terbang, Sarpakenaka memiliki ilmu yang bisa mengubah diri sesuai dengan kehendaknya. Sayangnya, anugerah dewa yang langka itu tidak ia gunakan untuk mengabdi kepada kemanusiaan dan peradaban, tetapi melulu untuk memuaskan nafsu.

Berlanggam kenes dan kemayu, Sarpakenaka beranjak memberanikan diri menemui tiga orang asing yang ia yakini bukan bangsa Alengka. Bukan karena dari pakaian yang mereka kenakan, melainkan yang lebih pasti semua warga Negara Alengka berwujud raksasa.

Setelah mendekat, Sarpakenaka bertanya siapa nama dan dari mana kepada ketiga tamu itu. Dua kesatria secara bergantian mengaku bernama Rama Regawa dan Leksmana Widagdo dari Negara Ayodya, sementara sang putri memperkenalkan diri sebagai istri Rama, bernama Sinta.

Rama menjelaskan bahwa Leksmana ialah adiknya. Keberadaannya di hutan dalam rangka menjalani laku prihatin. Ini sebagai proses yang mesti ia tempuh untuk menggayuh kemuliaan hidup. Rama pun kemudian balik bertanya kepada seorang putri cantik yang sendirian di hutan.

Mengadu ke Dasamuka

Setelah menyebutkan namanya, Sarpakenaka tanpa sungkan langsung mengutarakan ketertarikannya kepada Rama dan berharap diperistri. Dijadikan selir atau istri kedua pun ia bersedia. Namun, Rama menjawab dirinya hanya ingin memiliki satu istri dan pendampingnya itu ialah Sinta.

Sarpakenaka tidak menyerah, dan melancarkan jurus-jurus rayuan. Namun, lagi-lagi Rama dengan lembut berusaha memadamkan api nafsu perempuan jalang tersebut. Bahwa dirinya telah bersumpah melaksanakan eka patnivrataa atau menikah sekali selama hidup. Ia menyarankan Sarpakenaka mendekati Leksmana yang masih bujang.

Sarpakenaka langsung memalingkan mukanya ke arah Leksmana. Hatinya berbisik, Leksmana tidak kalah tampannya jika dibandingkan dengan Rama. Ia pun terpikat dan kemudian melangkah kaki mendekati Leksmana dan mengemis cintanya. Sayang, cintanya bertepuk sebelah tangan. Berulang kali Leksmana mengatakan dirinya belum memikirkan istri dan kini sedang konsentrasi menjalani laku prihatin.

Akibat sudah terbelenggu nafsu birahi, Sarpakenaka tanpa malu terus mendesakkan keinginannya. Karena itulah, Leksmana sempat kehilangan kesabaran dan ditamparnya muka Sarpakenaka sehingga badhar atau kembali ke wujud aslinya, raksesi. Dengan kemarahan memuncak, Sarpakenaka lalu mengancam akan membalasnya di kemudian hari.

Sarpakenaka bergegas kembali ke Istana Alengka dan mengadukan peristiwa itu kepada Dasamuka. Sarpakenaka berbohong, memutarbalikkan fakta. Ia mengaku dikejar-kejar dan akan diperkosa dua lelaki di Hutan Dandaka bernama Rama dan Leksmana. Karena menolak, kedua lelaki itu kemudian memukulinya hingga sekitar mata, bibir, dan pipinya bengkak.

Tanpa cek dan pendalaman, Dasamuka menelan semua laporan adiknya. Ia murka karena merasa dikembari kedigdayaannya. Dengan didampingi Kala Marica, orang kepercayaannya, Dasamuka buru-buru terbang menemui dua orang yang diyakini telah melakukan pemukulan terhadap Sarpakenaka.

Namun, setelah sampai di tempat, kemurkaan Dasamuka memudar, luluh seketika ketika melihat Sinta di antara kedua lelaki yang ia buru. Hatinya bergetar dan jantungnya berdegub lebih kencang. Dia yakin, perempuan yang membuat dirinya 'kelabakan' seperti itu tidak lain pasti titisan Dewi Sri Widowati. Itulah perempuan yang ia cari-cari.

Secara kesatria

Dasamuka lalu memanggil Marica untuk membicarakan cara mendapatkan Sinta. Menurut Dasamuka, Alengka akan menjadi negara adidaya dan berlimpah kemakmuran bila dirinya bisa memperistri Sinta.

Maka, terjadilah konspirasi. Marica mengubah diri sebagai kijang untuk memisahkan Rama dan Leksmana dari Sinta. Dasamuka menjadi orang tua lemah untuk mengelabui Sinta yang kemudian berhasil ia culik.

Sejak saat itu, terjadilah kisah-kisah heroik Rama dan Leksmana dalam upaya merebut kembali Sinta dari genggaman Dasamuka. Pada perang brubuh (perang habis-habisan), Sarpakenaka sirna di tangan Leksmana.

Hikmah kisah ini ialah kebohongan-kebohongan. Sarpakenaka berbohong dengan mengubah diri agar kelihatan cantik. Ia juga berbohong dengan mengarang atau memutarbalikkan fakta dalam upaya mencapai tujuan.

Dalam konteks politik kebangsaan, cara-cara bohong sebagai strategi memenangi kontestasi inilah yang mesti kita enyahkan. Selain itu, amoral sangat berbahaya. Bangsa ini mesti komit berpolitik secara kesatria tanpa kebohongan-kebohongan. (M-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More