Mewujudkan Kampus Berkelanjutan

Penulis: Fathurrozak Pada: Sabtu, 13 Okt 2018, 23:40 WIB Weekend
Mewujudkan Kampus Berkelanjutan

MI/Duta

PERNAHKAH Muda melihat foto Kuda Laut membawa kapas pentul (cotton bud) karya Justin Hofman? Foto yang diambil di laut Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, pertengahan 2016 sempat viral. Tentunya ironi sebab sampah telah mencemari alam kita sebegitu jauhnya. Lalu, apa hubungannya dengan kita nih? Apakah kita punya dampak yang bisa menyebabkan keberlangsungan lingkungan?

Mari kita bicara dari lingkungan terdekat kita, sebutlah kampus. Seberapa sering Muda menggunakan plastik dalam sehari? Sepertinya kehidupan kita tidak bisa lepas dari plastik. Jadi apa tanggung jawab yang harus kita lakukan?

Kampus, sebagai institusi nonprofit juga punya tanggung jawab sosialnya. Termasuk kita para penghuninya. Mengacu pada peraturan international standardization organization (ISO), setiap organisasi memiliki tanggung jawab sosialnya, baik yang profit seperti perusahaan, maupun lembaga nonprofit seperti yayasan dan universitas. Tanggung jawab sosial ialah tanggung jawab atas dampak dari keputusan yang kita ambil dan aktivitas yang kita lakukan, terhadap lingkungan hidup. ISO yang berlaku di universitas ialah ISO 26000, yaitu yang tidak memerlukan standardisasi badan audit.

Berbicara tanggung jawab sosial, tidak jauh dengan istilah pembangunan berkelanjutan (sustainable development), yaitu memenuhi kebutuhan saat ini, tanpa mengurangi kemampuan generasi penerus untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Merujuk pada laporan cendekiawan Gro Harlem Bruntland, yang diterbitkan World Commision Environment and Development (WCED) pada 1987, dan menjadi fondasi perkembangan makna serta prinsip pembangunan berkelanjutan.

Dalam diskusi Ide Kreatif Mahasiswa Mewujudkan Sustainable Kampus oleh Direktur Eksekutif Center for Enterpreneurship, Change and Third Sector (CECT) Maria R Nindita Radyati mengenalkan konsep kampus berkelanjutan (sustainable campus). Peran apa saja yang bisa dilakukan mahasiswa untuk menjadi bagian mewujudkannya.

"Menciptakan kampus berkelanjutan, harus perhatikan 5P, yaitu people, peace, partnership, prosperity, dan planet. Apakah di kampus itu ada kemungkinan konflik seperti berantem antarfakultas, atau saling mendukung? Kalau mau bikin sustainable campus, ya kalian yang tahu, kondisi di kampus seperti apa? Kita harus bikin program yang menciptakan peace, kuncinya peace, ya partnership," katanya di hadapan para mahasiswa peserta diskusi, Kamis, (4/10), di Gedung M, lantai 12 Universitas Trisakti, Jakarta Barat.

Pembuat perubahan

Selain itu, sektor yang juga perlu diperhatikan untuk mewujudkan kampus berkelanjutan di antaranya, kurikulum, operasional kampus, riset, dan kesepakatan komunitas (community engagement). Sektor komunitas inilah yang bisa mengoptimalkan peran mahasiswa untuk berkontribusi menjadi pembuat perubahan.

"Campus operational bisa buat peraturan agar kantin kampus tidak menggunakan wadah plastik dan styrofoam, punya tempat sampah yang terpisah. Kalau community engagement, misal kesepakatan membawa botol minuman dari rumah, membawa bekal, atau lainnya," contoh Maria. Perempuan yang pernah menjadi dosen tamu di salah satu kampus di Israel ini pun menuturkan, aspek penting untuk membentuk kampus berkelanjutan ialah sikap dan kebiasaan mahasiswanya.

Dalam mewujudkan konsep pembangunan berkelanjutan, ada beberapa isu yang berkaitan. Menurut Maria, di antaranya NEWS (nature, economy, wellbeing, dan society).

Nature tentu bersinggungan dengan kondisi alam kita, seperti perubahan iklim, deforestasi, dan keanekaragaman hayati. Di kampus, kita bisa berkontribusi dengan melakukan komitmen pada tindakan yang tidak memperburuk perubahan cuaca, seperti penggunaan air, listrik, dan daur ulang kertas.

Melalui aspek wellbeing yang melingkupi sisi kebahagiaan individu, mahasiswa bisa berkontribusi dengan mengikuti kegiatan kebudayaan dan kesenian. Sementara itu, lewat aspek society, tentu bersinggungan dengan budaya dan kebiasaan yang memengaruhi sikap, seperti kebersihan, kebiasaan memilah sampah, dan higienitas makanan di kantin kampus.

Dengan keterlibatan semua pihak menjalankan 5P bisa menciptakan kampus yang berkelanjutan. (M-3)

How To

Mewujudkan konsep kampus berkelanjutan bisa kita mulai dari diri sendiri. Ada beberapa kiat yang bisa Muda terapkan untuk berkontribusi mewujudkan kehidupan berkelanjutan di lingkup kampus. Mari kita coba hal-hal ini.

1. Berhenti gunakan barang sekali pakai

Sadarkah Muda kalau barang-barang sekali pakai akan sangat berdampak pada volume sampah? Sedotan, stirofoam, sendok, dan garpu plastik yang sekali pakai tentu akan sangat memengaruhi lingkungan kita. Mari kita mulai menguranginya, dengan tidak menggunakan barang-barang sekali pakai tersebut. Seperti membeli sedotan yang kini bisa dipakai berkali-kali, membawa botol minum, atau kotak bekal. Mungkin terlihat rumit, tapi akan sangat berkontribusi untuk kehidupan kita mendatang.

2. Gaya hidup minimalis

Nah, ini juga sangat patut kamu terapkan. Bergaya hidup minimalis berarti hanya akan membeli barang bila kamu benar-benar sangat membutuhkan. Seperti membeli baju yang tidak perlu terlalu sering atau Muda bisa mencoba membuat makanan sendiri untuk dikonsumsi daripada memesan makan di luar.

3. Serba digital

Di era digital ini sebenarnya bisa membantu peran kita mewujudkan kehidupan yang berkelanjutan. Muda bisa menyimpan catatan-catatan atau bahkan merekam dengan ponsel yang dimiliki sehingga kamu bisa menghemat penggunaan kertas.

Jadi, langkah mana dulu nih, yang mau Muda coba untuk berkontribusi mewujudkan kehidupan berkelanjutan di kampusmu?

Opini Muda

Bunga Jasmin

Mahasiswi Arsitektur Lansekap Universitas Trisakti

KAMPUS yang baik itu yang melayani penggunanya, di antaranya dari infrastruktur hingga birokrasi. Sustainable campus itu didukung dari nature, ekonomi, wellbeing, dan sosial, visinya ya yang berkelanjutan, enggak cuma sekarang saja, melainkan berpikir untuk keberlanjutan.

Di kampusku belum dimanfaatin, padahal ada beberapa bidang fakultas dan jurusan yang bisa mendukung sustainable campus ke depannya, hanya belum dimanfaatin secara optimal. Dari hal kecil, seperti pemilahan tempat sampah saja belum diterapkan. Jadi, mungkin saya akan mencoba mengajukan ide ini.

Putra Adyaksa

Mahasiswa Teknik Lingkungan Universitas Trisakti

KALAU baru tahu banget, ada kampanye, dari individu attitude belum terbangun, wacana, belum terealisasi, dosen ajak, attitude mahasiswa masih kurang.

Tertarik dari ide bisa dapatkan untung, siapa yang enggak suka kalau dapat untung, gerakan biasa, tertarik.

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More