Muhammadiyah Tegaskan Islam tidak Menentang Globalisasi

Penulis: Syarief Oebaidillah Pada: Jumat, 12 Okt 2018, 21:35 WIB Humaniora
Muhammadiyah Tegaskan Islam tidak Menentang Globalisasi

Ist

KETUA Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, bersama Sekretaris Umum PP Muhammadiyah dan Ketua Umum PP Aisyiyah menghadiri VI Congress of the Leaders of World and Traditional Religions yang diselenggarakan di Kazakhsztan pada 10 hingga 11 Oktober 2018.

Kegiatan ini dihadiri 82 negara perwakilan, yang terdiri atas pemimpin organisasi agama Islam, Kristen, Hindu, serta perwakilan organisasi internasional, seperti Aliansi Peradaban PBB, OSCE, dan UNESCO.

Pertemuan ini membahas peran para pemimpin agama dalam menjaga dunia yang aman. Serta melibatkan pemangku agama dalam membangun kepercayaan dan saling menghormati, memerangi ekstremisme agama dan menciptakan dunia yang aman.

Pembukaan acara yang digelar di Atrium Hall the Palace of Peace and Accord pada Rabu (10/10) dihadiri Presiden Kazakhsztan Nursultan Nazarbayev dan Presiden Serbia Aleksandar Vucic.

Pada kesempatan presentasi yang digelar Kamis (11/10) kemarin, Haedar menyampaikan materi terkait 'Religion and Globalization: Challenges and Responses'. Haedar mengutarakan bahwa pada dasarnya agama tidak selalu menentang globalisasi. Menurutnya, Islam sejak awal berkembangnya telah mensyiarkan dari dunia tanpa batas.

"Islam secara konsisten menyerukan pesan universal yang tidak terbatas suku tertentu dan etnis, geografi dan daerah. Islam telah menyerukan persaudaraan universal dan kerja sama antara orang-orang dari elemen penting dunia," kata Haedar melalui keterangan tertulis yang diterima Jumat (12/10).

Selain memberikan dampak positif, Haedar mengingatkan globalisasi juga bisa ber dampak negatif. Dalam hal ini peran agama Islam sangat dibutuhkan guna memerangi dampak negatif globalisasi, seperti yang tertuang dalam surah al-Maidah ayat 2 dan surah al-A'raf ayat 56.

"Dalam hal ini Islam, harus memosisikan diri dalam proses yang tak terelakkan globalisasi. Agama harus tetap sebagai sumber dorongan untuk globalisasi yang akan membawa kebaikan bersama, tapi pada saat yang sama, harus berfungsi sebagai pengingat dan alarm bagi umat manusia untuk tidak terlibat dalam perbuatan yang merusak," jelas Haedar.

Ia juga menuturkan bahwa pengaruh globalisasi tidak hanya berada di tangan para ulama atau pemimpin agama dalam arti konvensional, tetapi juga menjadi kewajiban atas semua umat manusia untuk selalu waspada bahwa globalisasi adalah sebuah fenomena, yang terkadang memiliki sisi yang baik maupun buruk, dan karena itu agama tidak bisa berperan sendiri.

Di akhir presentasinya, Haedar juga menyatakan Muhammadiyah sebagai organisasi Islam modern terbesar di Indonesia secara konsisten menyerukan masyarakat dunia untuk pengembangan spiritual yang berpengaruh terhadap globalisasi.

Muhammadiyah sejauh ini telah banyak terlibat aktif dalam isu perdamaian, di antaranya Muhammadiyah berperan dalam dialog konflik yang terjadi di Filipina Selatan, mengirim tim emergensi ke bencana Nepal, dan juga terlibat aktif dalam membantu menangani pengungsi Rohingnya di Myanmar dan Bangladesh.

"Muhammadiyah mendesak anggotanya, pada khususnya, dan muslim di seluruh dunia pada umumnya, untuk selalu melakukan ijtihad menghadirkan Islam yang berkemajuan, dan sesuai dengan kebutuhan modernitas saat ini, serta mencegah bencana efek samping dari globalisasi yang terjadi," pungkas Haedar. (RO/OL-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More