Kapal TNI AL Temukan Longsoran Dasar Laut di Palu

Penulis: Antara Pada: Jumat, 12 Okt 2018, 21:30 WIB Nusantara
Kapal TNI AL Temukan Longsoran Dasar Laut di Palu

ANTARA FOTO/Joko Sulistyo

SALAH satu kapal TNI AL yang diterjunkan Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI Angkatan Laut (Pushidrosal), KRI Spica-934 menemukan adanya longsoran dasar laut pada kedalaman 200-500 meter di Tanjung Labuan/Wani Teluk Palu saat melakukan survei dan pemetaan pascagempa dan tsunami di perairan Teluk Palu.

Kapushidrosal Laksamana Muda TNI Harjo Susmoro, dalam keterangannya, di Jakarta, Jumat (12/10), mengatakan, hasil data ini diperoleh KRI Spica setelah melakukan survei full covered dengan menggunakan Multibeam Echosounder EM-302 yang mampu mengukur kedalaman hingga 6.000 meter di dalam Teluk Palu.

Hasil yang diperoleh Tim Pushidrosal ini, kata Harjo, dibenarkan oleh Pakar Tsunami Dr Gegar Sapta Prasetya dan Dr Rahman Hidayat yang ikut on board di KRI Spica dan menyebutnya sebagai submarine slumps yang diperkirakan sebagai asal kekuatan tsunami tersebut.

Laksmana Muda Harjo yang juga merupakan Indonesia Chief Hydrographer ini menjelaskan, KRI Spica juga mengecek kemungkinan adanya spot kedangkalan di mulut teluk dan menambah area di luar perairan Teluk Palu.

"Hal ini bertujuan memperkuat data untuk pembuatan peta tematik mitigasi bencana," tutur Kapushidrosal.

Data akuisisi terbaru dari Pushidrosal tentunya dapat memberikan informasi dasar laut yang lebih detail mengingat kemampuan 'Multibeam
Echosounder
' yang digunakan menghasilkan sapuan batimetri full coverage. Setiap perubahan topografi dasar laut dapat digambarkan dengan lebih jelas.

Bagi pemerintah pusat, kata dia, data dan informasi ini menjadi dasar membuat kebijakan bagaimana melakukan prediksi proses-proses geologi ke depannya serta menjadi informasi penting dalam usaha mitigasi bencana pascagempa disertai tsunami dimasa yang akan datang.

Sedangkan bagi Pemerintah Daerah di Provinsi Sulteng dan Pemkot Palu, data tersebut dapat digunakan dalam perencanaan pembangunan kembali infrastruktur disekitar pesisir serta penataan kembali rencana detail tata ruang.

Kapushidrosal menyebutkan, longsoran tanah di bawah laut ini sangat sulit diprediksi meski berbagai alat deteksi dini telah dipasang.

"Terkadang ilmu pengetahuan dan teknologi tidak mampu menjelaskan seluruh kejadian dipermukaan bumi ini. Sebagai bangsa yang berkeyakinan adanya kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa, hendaknya tidak mengabaikan akan kekuasan dan ketetapan-Nya, maka hendaknya upaya yang harus kita lakukan adalah dengan berusaha semakin mendekatkan diri kepada-Nya dengan meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita agar bisa dihindarkan dari berbagai bencana alam yang sekarang dirasa semakin meningkat," ujar Harjo, mengingatkan. (OL-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More