Di Tengah Perang Tarif, Neraca Dagang Tiongkok Terhadap AS Catatkan Surplus

Penulis: Tesa Oktiana Surbakti Pada: Jumat, 12 Okt 2018, 16:55 WIB Internasional
Di Tengah Perang Tarif, Neraca Dagang Tiongkok Terhadap AS Catatkan Surplus

Nicolas ASFOURI / AFP

NERACA perdagangan Tiongkok terhadap Amerika Serikat (AS) periode September 2018 mengalami surplus sebesar US$34,1 miliar. Padahal, konflik dagang kedua negara tengah mengeruh akibat serangan tarif terhadap komoditas impor.

Hubungan perdagangan dua negara ekonomi raksasa memburuk sepanjang tahun ini. Presiden AS Donald Trump bahkan bersumpah tetap menggencarkan serangan apabila Tiongkok tak kunjung luluh.

Pada September kemarin, AS memberlakukan putaran tarif baru pada komoditas impor Tiongkok senilai US$200 miliar. Pun Tiongkok tidak tinggal diam dengan meluncurkan tarif balasan terhadap komoditas AS sebesar US$60 miliar.

"Friksi perdagangan AS-Tiongkok sebenarnya menimbulkan masalah, sekaligus mengguncang kinerja perdagangan luar negeri secara keseluruhan," ujar Juru Bicara Administrasi Umum Bea Cukai Tiongkok Li Kuiwen.

Kendati demikian, laju peningkatan ekspor yang lebih cepat daripada impor, mendorong terjadinya surplus dalam neraca perdagangan Tiongkok terhadap AS.

Administrasi Umum Bea Cukai Tiongkok mencatat kinerja ekspor Tiongkok ke AS mengalami kenaikan menjadi US$46,7 miliar. Sementara itu, arus impor turun sebesar US$12,6 miliar.

Kinerja ekspor tercatat melonjak hingga 14,5%, di luar proyeksi sejumlah analis. Berangkat dari data perdagangan sebelumnya, neraca perdagangan Tiongkok periode Oktober 2018 diyakini tetap kuat. Namun, analis memperkirakan dampak perang dagang masih membayangi kinerja perdagangan dalam beberapa bulan mendatang.

"Gambaran besarnya ialah ekspor Tiongkok sejauh ini bertahan dengan baik. Utamanya dalam menghadapi ketegangan konflik dagang dengan AS. Kemungkinan kinerja perdagangan juga dipengaruhi peningkatan daya saing dan pelemahan nilai tukar renminbi (yuan)," tutur ekonom dari Capital Economics, Julian Evans-Pritchard.

Dalam enam bulan terakhir, nilai tukar yuan terhadap dolar AS terdepresiasi sekitar 9%. Hal itu memitigasi naiknya harga komoditas Tiongkok yang terimbas pemberlakuan tarif dari AS.

Kurs dolar AS terhadap mata uang global memang semakin perkasa, seiring kebijakan Bank Sentral AS (The Federal Reserve) yang kembali menaikkan suku bunga acuan (Fed Fund Rate/FFR).

Selain itu, Julian menggarisbawahi surplus neraca perdagangan sulit dipertahankan, di tengah pelemahan pertumbuhan ekonomi global. Juga dengan sikap Negeri Paman Sam yang mengancam melanjutkan perang tarif. (AFP/X-12)

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More