Batang Jemput Warga yang Terdampak Gempa Palu-Donggala

Penulis: Antara Pada: Jumat, 12 Okt 2018, 11:45 WIB Nusantara
Batang Jemput Warga yang Terdampak Gempa Palu-Donggala

ANTARA/Kutnadi
Bupati Batang Wihaji (Berkaos lurik) berbincang-bincang bersama korban selamat gempa dan tsunami di Sigi dan Donggala Sulawesi Tengah.

PEMERINTAH Kabupaten Batang, Jawa Tengah, menjemput warganya yang terdampak gempa di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah.

Sebelas dari warga yang terdampak bencana di Sulawesi Tengah difasilitasi pulang ke kampung halaman mereka di Batang pada Jumat (12/10) pagi.

"Sebelas korban selamat ini semula masih ditahan oleh mandor karena merasa mempunyai tanggung jawab pada anak buahnya yang belum mendapatkan bayaran atau gaji. Namun setelah mendapat gaji para korban diperbolehkan pulang dan kemudian kami jemput di Palu," kata Bupati Batang Wihaji.

Selain 11 pekerja bangunan yang bekerja di Palu dan Donggala itu, ia mengatakan, sebelumnya pemerintah kabupaten telah memulangkan 13 korban yang selamat dari bencana di Sulawesi Tengah.

Menurut dia, saat ini masih ada tujuh warga Batang yang masih berada di Sigi dan Donggala.

"Kita akan fasilitasi jika mereka mau pulang ke Batang," katanya,

Ia menambahkan ada satu warga Batang yang meninggal dunia akibat gempa Palu-Donggala. 

Kepala Dinas Penanaman Modal, Pelayanan Satu Pintu, dan Tenaga Kerja Kabupaten Batang Sri Purwaningsih mengatakan 24 warga dari 31 warga Batang yang berada di Donggala dan Palu telah pulang ke kampung halaman masing-masing.  

"Total ada 31 warga Batang yang ada di Palu, yang dinyatakan selamat sebanyak 28 orang, satu meninggal dunia," katanya.

Sebelas warga Batang yang pada Jumat pagi pulang meliputi Sunadi, Sutrimo, Judi, Toto, Tasno, Ahmadi, Basir, Musafikin, Slamet Ngaman, Ropi'i, dan Kodirin. Semuanya warga Desa Sukomangli, Kecamatan Reban.

Judi, 36, bersama teman-teman sekampungnya bekerja sebagai buruh bangunan di Palu.

"Kami sudah bekerja di Palu selama lima bulan," kata Judi.

Matanya berkaca-kaca saat menceritakan kejadian gempa dan tsunami yang hampir merenggut nyawanya.

"Saat kejadian, saya hanya mengumandangkan takbir karena saya sudah pasrah, dan hanya bisa pasrah," katanya.

"Saat itu, saya melihat banyak korban tertimpa bangunan dan meninggal di tempat tanpa sempat meminta tolong, namun saya tidak bisa menolong dengan kondisi yang sangat mencekam itu," ia menambahkan. (OL-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More