Kasus Kekerasan Terhadap Anak di Indonesia Capai 33%

Penulis: Supardji Rasban Pada: Jumat, 12 Okt 2018, 11:00 WIB Nusantara
Kasus Kekerasan Terhadap Anak di Indonesia Capai 33%

Ilustrasi

KASUS kekerasan terhadap anak di Indonesia termasuk tinggi, tingkat prevalensinya mencapai 33%. Sementara kasus kekerasan terhadap perempuan lebih redah yakni 30%.

Hal itu diungkapkan Sekertaris Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Sekmen P3A) Republik Indonesia, Pribudiarta Nur Sitepu, usai mengukuhkan seratus Satuan Tugas Perlindugan Perempuan dan Anak (Satgas PPA) di pendpo rumah dinas Bupati Brebes Brebes, Jawa Tengah, Kamis (11/10).
     
Sitepu menyebut, di Indonesia perbandingannya kalau ada tiga perempuan maka seorang di antaranya pernah mengalami kekerasan. 

"Tapi itu masih lebih rendah ketimbang kasus kekerasan terhadap anak yang mencapai 33%," ujarnya.
     
Sitepu merinci prevalensi kekerasan seks terhadap anak laki-laki ada 8%, perempuan 3,6% dikalikan jumlah anak di indonesia sekitar 83 juta. 

"Berarti ada 600 ribu sampai 800 ribu punya potensi mengalami kekerasan seksual," ucapnya.

Dia mengaku lebih lebih memilih menggunakan prevalensi dan bukan angka korban, karena data prevalesni tersebut berdasarkan hasil tanya jawab langsung dengan warga.

"Kita harus hati-hati dalam angka data kasus kekerasan karena bisa jadi merupakan gunung es. Makanya pakai prevalesni yang berdasarkan data hasil dari menanyakan pada seluruh penduduk," terang Sitepu.
     
Menurut Sitepu, pihaknya hanya menghitung berdasarkan korban yang mau lapor dan tercatat. 

"Padahal fenomena kebanyakan korban kekerasan tidak mau melapor," jelasnya sembari mnambahkan, pelakunya justru biasanya orang dekat seperti bapak, ibu, saudara, dan teman dekat korban.
     
"Ini sangat disayangkan karena mereka itu seharusnya melindungi bukan malah melakukan kekerasan," kata Sitepu.

Bupati Brebes, Idza Priyanti, menyebut Satgas PPA Brebes yang dikukuhkan berjumlah 100 orang, mereka berasal dari berbagai latar belakang profesi. 

"Ada karang taruna, Fatayat NU, advokat, pekerja sosial, motivator, dan mantan anak jalanan, serta profesi lain," terang Idza.

Menurut bupati, tugas Satgas PPA nantinya melakukan fungsi penjangkauan terhadap perempuan dan anak yang mengalami permasalahan dan melakukan identifikasi kondisi dan layanan yang dibutuhkan.
     
"Juga bertugas melindungi perempuan dan anak di lokasi kejadian dari hal yang dapat membahayakan dirinya. Termasuk menempatkan dan mengungsikan perempuan dan anak yang mengalami permasalahan ke lembaga perlindungan.

Sementara itu berdasarkan data yang ada, jumlah kekerasan yang dilaporkan ke unit pelayanan PPA di Kabupaten Brebes dari tahun ke tahun makin meningkat. 

Pada 2013 jumlah laporan yang masuk sebanyak 75, yang korbannya terdiri dari laki-laki 3 dan perempuan 72 orang. Tahun 2014 tercatat 83 kasus dengan korban laki-laki 5 orang dan perempuan 78 orang.
     
Jumlah korban mengalami kenaikkan pada 2015, yaitu menjadi 85 kasus dengan korban laki-laki 1 orang dan perempuan 84 orang. Tahun 2016 naik menjadi 101 dengan jumlah korban laki-laki 15 dan perempuan 86 orang.

Tahun 2017 juga mengalami kenaikkan menjadi 129 dengan korban laki-laki 28 dan perempuan 101 orang. Sementara untuk 2018, dari bulan Januari hingga September laporan korban kekerasan yang masuk sebanyak 54 kasus. (OL-3)
 

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More