Subjektivitas Dapat Pengaruhi Individu Percaya Hoaks

Penulis: Antara Pada: Kamis, 11 Okt 2018, 23:00 WIB Humaniora
Subjektivitas Dapat Pengaruhi Individu Percaya Hoaks

Thinkstock

BIAS personal atau subjektivitas dapat mendorong seseorang untuk mempercayai, bahkan menyebarkan berita bohong atau hoaks, kata ahli jurnalistik Margaret Farley, di Jakarta, Kamis (11/10).

"Otak kita memiliki yang namanya bias konfirmasi (confirmation bias). Ketika kita menyukai atau mempercayai sesuatu, otak kita akan cenderung menolak informasi yang mengatakan bahwa hal itu tidak benar atau salah," kata dosen di Fakultas Jurnalistik American University itu, pada  diskusi bertajuk 'Fake News: How to Know What to Believe' di @america Pacific Place Jakarta.      

Perempuan yang akrab disapa Maggie itu mengatakan, sebagai penerima informasi, masyarakat juga harus menyadari adanya subjektivitas atau bias tersebut, karena dengan demikian, akan muncul kemampuan untuk membedakan berita bohong dengan fakta.

"Para pembuat hoaks sangat memahami cara otak kita bekerja. Secara alamiah, kita sering tertarik pada berita-berita yang membuat kita bereaksi, itulah mengapa kebanyakan berita bohong menggunakan judul-judul yang mencengangkan. Mereka memang dengan sengaja menarget subjektivitas kita," jelasnya.      

Sementara itu, pengajar dari Universitas Media Nusantara Ignasisus Hariyanto menyoroti pentingnya memiliki pemikiran yang terbuka, ketimbang hanya mempercayai apa yang seseorang inginkan saja.

Sebagai contoh, kata dia, pada masa kampanye pemilihan umum Presiden, Ignasius tak pernah memutuskan pertemanan di media sosial dengan rekan-rekannya yang memiliki pandangan politik yang berbeda.     

"Saya mencoba untuk memnbiasakan mendengar suara lain, supaya bisa mulai belajar untuk tidak hanya meyakini apa yang mau saya yakini. Saya mau dengarkan apa yang orang lain katakan," kata Ignasius.
     
Menurutnya, hal tersebut mencerminkan praktek demokrasi yang baik, di mana Indonesia telah dikenal sebagai negara demokrasi, bahkan oleh seluruh dunia.

Acara diskusi bertajuk 'Fake News: How to Know What to Believe' juga menghadirkan sejumlah pembicara lain yaitu Aribowo Sasmito dari Mafindo, serta Arfi Bambani dari Aliansi Jurnalis Independen sebagai moderator. (OL-1)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More