Skeptis dan Disiplin Verifi kasi Penting untuk Tangkal Hoaks

Penulis: (Ths/OL-6) Pada: Jumat, 12 Okt 2018, 08:20 WIB Politik dan Hukum
Skeptis dan Disiplin Verifi kasi Penting untuk Tangkal Hoaks

Ilustrasi

PENTINGNYA skeptis dan disiplin dalam melakukan verifikasi merupakan sikap yang dibutuhkan masyarakat agar tidak mudah termakan informasi bohong atau hoaks yang banyak berseliweran di masyarakat saat ini.

Hal tersebut disampaikan Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Multi Media Nusantara Ignatius Haryanto dalam diskusi bertajuk Fake news: How to Know What to Believe di @America, Jakarta, kemarin.

“Setidaknya hal pertama yang bisa dilakukan ialah menjadi skeptis dulu. Informasi ini benar tidak ya, kemudian cari bukti, pakai akal sehat dan yang lebih penting ialah jangan mudah membagikan sebuah informasi yang Anda sendiri masih ragu kebenarannya,” kata Ignatius.

Ia menambahkan dalam mencerna informasi dari media mainstream sekali pun, masyarakat diharapkan terbiasa bijaksana dalam mencerna berbagai informasi.

“Masyarakat harus bijak sehingga tidak semua informasi dia anggap baik dan benar,” jelas Ignatius.

Hal yang tidak kalah penting lagi menurut Ignatius adalah siapa pun yang memiliki tingkat literasi media cukup tinggi dapat menjadi agen pengaruh di komunitas masing-masing.

“Kita harus punya peran untuk memengaruhi komunitas-komunitas itu, agar gerakan melawan hoaks ini makin besar dan semua masyarakat akhirnya lebih paham lagi dan tentu saja tidak lagi mudah termakan hoaks,” terangnya.

Pada kesempatan yang sama, pengajar dari American University’s Journalism and Leadership Transformation Program Maggie Farley menjelaskan informasi saat ini tidak lagi didominasi kerja-kerja ­jurnalistik, tetapi setiap individu pun bisa menjadi penerbit informasi itu sendiri.

Informasi bohong, menurut dia, juga bisa menjadi sebuah kejahatan karena informasi tersebut bukan berdasarkan fakta, sarat manipulasi, dan pasti memiliki tujuan untuk membawa pengaruh ­tertentu.

“Ini yang sering terjadi dalam politik, ketika hoaks dipakai sebagai alat untuk memenangi sebuah kontestasi demokrasi. Tentu saja ini tidak sehat, maka itu kita lawan sama-sama,” katanya.

Hal yang berbahaya dari hoaks ialah menimbulkan ­perpecahan sosial di masyarakat karena sifatnya yang mengadu domba baik karena perbedaan politik, agama, dan suku.

“Sikap skeptis atau sinis dengan informasi itu baik untuk melepaskan diri dari berbagai informasi hoaks. Dan tentu saja peran kita semua untuk menjadi lingkar pengaruh bagi masyarakat yang lain,” pungkas Maggie.

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More