Hadapi Revolusi Industri 4.0, Guru Harus Melek Literasi Digital

Penulis: Syarief Oebaidillah Pada: Kamis, 11 Okt 2018, 22:45 WIB Humaniora
Hadapi Revolusi Industri 4.0, Guru Harus Melek Literasi Digital

Ist

MEMASUKI era revolusi industri 4.0, khususnya dunia pendidikan, pihak sekolah, guru dan siswa hidup dalam dunia digital yang serbamaju. Dalam kaitan ini, keberadaan dan peran guru menjadi amat penting agar melek pada literasi digital.

"Karena mereka akan hidup di dunia digital, tentu di dalam dunia pendidikan, persoalan kita tidak hanya anak didiknya yang dikuatkan, juga gurunya. Karena gurunya lah yang harus menghidupkan literasi digital," kata Staf Ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Inovasi, Ananto Kusuma Seta, pada Seminar Nasional Teknologi Komunikasi dan Informasi (TIK) yang digelar Pusat Teknologi Komunikasi dan Informasi Pendidikan (Pustekkom) di Jakarta, Kamis (11/10).

Menurut Ananto, literasi digital bukan sekadar mata pelajaran tentang komputer. Tetapi harus semua mata pelajaran yang menggunakan teknologi 4.0 dalam keseharian anak didik.

"Anak zaman now atau milenial milenial tidak lagi membaca buku cetak Mereka menggunakan digital seperti menghirup oksigen. Terpenting bagi sekolah dan guru jangan salah memanfaatkan dengan pengadaan tablet atau pengadaan komputer semata. Ini yang terjadi di sejumlah negara seperti Meksiko menjadi gagal total," cetus Ananto, yang pernah menjabat Kepala Biro Perencanaan Kerja Sama Luar Negeri (PKLN) Kemendikbud.

Hemat dia, menghadapi 4.0, sekolah atau lembaga pendidikan tidak mesti menyiapkan siswa dengan satu anak satu komputer atau one children one tablet. Tidak kalah penting adalah values atau nilai nilai soft skills, empati, kolaborasi yang mendasari ke depan.

"Saya kira 4.0 sebentar lagi akan berganti menjadi 5.0 dan seterusnya. Maka nilai-nilai itu yang harus ditanamkan pada anak zaman now, jangan sampai lulusan kita menghasilkan lulusan yang akan bertanding dengan robot," tegasnya.

Lebih lanjut, Ananto mengemukakan dampak gawai dari survei siswa SD-SMA di Amerika sebanyak 28% anak kelas V menjadi anak yang senang menyendiri. Sedangkan anak kelas 12 meningkat 67%.

"Karena mereka dibekali satu anak satu tablet seharusnya di sekolah siswa harus bersosialisasi dengan sejawatnya. Sejatinya, sekolah bukan tempat menyendiri, sekolah tempat menyatukan anak, ras, suku, agama, anak harus membaur dengan lingkungannya," tandasnya.

Sementara Kepala Pustekkom Kemendikbud, Gogot Suharwoto, menyatakan, sistem pendidikan Indonesia harus siap hadapi revolusi industri 4.0 dengan menyiapkan pembelajaran sebaik-baiknya bagi siswa. Menurutnya, tiga hal yang mesti disiapkan yakni kesiapan guru, siswa, dan kurikulum yang sesuai di era digital.

"Kita harapkan siswa kita menuju generasi emas 2025 kelak mampu berdaya saing tinggi," tukasnya.

Pembicara lainnya, Ketua Umum PGRI Unifah Rasyidi menegaskan peran guru di era revolusi industri 4.0 tetap tidak tergantikan oleh kemajuan teknologi.

"Akan tetapi, jika guru abai dalam penguasaan teknologi, tidak kreatif, dan inovatif, maka guru akan bisa digantikan teknologi. Maka guru selain melek literasi digital juga menempatkan diri sebagai motivator dan inspirator,"  kata Unifah. (OL-1)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More