KPU Akan Diskusikan Desain Surat Suara untuk Pemilih Buta Warna

Penulis: Insi Nantika Jelita Pada: Kamis, 11 Okt 2018, 18:58 WIB Politik dan Hukum
KPU Akan Diskusikan Desain Surat Suara untuk Pemilih Buta Warna

MI/PIUS ERLANGGA

KOMISIONER KPU Pramono Ubaid Tanthowi menanggapi usulan surat suara untuk penyandang buta warna perlu diakomodasi dengan warna yang dipahami. Usulan tersebut berasal dari anggota Bawaslu Rahmat Bagja.

"Saya kira masukannya bisa kami pertimbangkan. Nanti kami diskusikan di RDP (Rapat Dengar Pendapat). Kan nanti Bawaslu juga diminta pendapatnya," ujar Pramono di KPU RI, Menteng, Jakarta, Kamis (11/10).

Menurut Pramono usulan tersebut untuk memudahkan semua pemilih pada pemilu 2019, khususnya bagi pemilih yang buta warna.

"Saya kira prinsipnya itu desainnya surat suara nanti memudahkan bagi semua pemilih apapun kondisinya. Harus bisa mudah menggunakan hak suaranya," tuturnya.

Ia pun mewanti-wanti agar tidak ada pemilih yang terganggu atau terhambat dalam menunaikan hak pilihnya. Yang terpenting, desain surat suara memudahkan pemilih.

"Saya kira soal estetika itu dipertimbangkan belakangan, ya. Tapi yang utamanya itu desain surat suara harus memudahkan pemilih," imbuhnya.

Saat uji publik, KPU sudah menunjukkan template surat suara untuk penyandang disabilitas. Pun untuk pilpres, templatenya sudah pasti.

"Yang sudah pasti itu kalau tidak salah template buat pilpres ya. Kalau enggak salah. Sebab kalau template untuk pileg atau pemilu DPR, DPRD kabupaten/kota kan jenisnya banyak sekali. Setiap kabupaten/kota kan namanya beda-beda ya. Nah itu yang proses pengadaannya rumit sekali," ungkap Pramono.

Ia juga menyebutkan perlu adanya template surat suara bagi penyandang tuna netra.

"Iya (perlu). Kita harus hitung (surat suara) secara teknis. Utamanya secara teknis." (OL-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More