Publik Harus Skeptis dan Disiplin Verifikasi demi Tangkal Hoaks

Penulis: Thomas Harming Suwarta Pada: Kamis, 11 Okt 2018, 17:55 WIB Politik dan Hukum
Publik Harus Skeptis dan Disiplin Verifikasi demi Tangkal Hoaks

Ilustrasi

PENTINGNYA sikap skeptis dan disiplin melakukan verifikasi merupakan sikap yang dibutuhkan oleh masyarakat agar tidak mudah termakan informasi bohong (hoax) yang banyak berseliweran di masyarakat saat ini.

Hal tersebut disampaikan oleh Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Multi Media Nusantara Ignatius Haryanto dalam diskusi berjudul “Fake news : How to Know What to Believe,” di @America, Jakarta, Kamis (11/10).

“Setidaknya hal pertama yang bisa dilakukan adalah menjadi skeptic dulu. Iniformasi ini benar gak ya, ada keragu-raguan, lalu kemudian mencari bukti, pakai akal sehat, dan yang lebih penting lagi adalah jangan mudah membagikan sebuah informasi yang anda sendiri masih ragu kebenarannya, serta hilangkan prinsip bahwa seolah-olah anda yang pertama tahu sebuah informasi dan cepat-cepat dibagikan. Ini harus jadi catatan semua masyarakat kita,” kata Ignatius.

Ia juga menambahkan dalam mencerna informasi dari media mainstream sekali pun, masyarakat diharapakan terbiasa bijaksana dalam mencerna berbagai informasi yang ada mengingat tidak semua media saat ini obyektif, apalagi yang terafiliasai dengan kepentingan politik tertentu.

“Ini memang jadi pekerjaan utama kita saat ini bahwa banyak media di Indonesia yang tidak netral karena punya keberpihakan politik tertentu. Dalam hal ini masyarakat harus bijak sehingga tidak semua informasi dia anggap baik dan benar,” jelas Ignatius.

Hal yang tidak kalah penting lagi menurut dia adalah siapa pun di masyarakat yang memiliki tingkat literasi media cukup tinggi bisa menjadi agen pengaruh di komunitasnya masing-masing.

“Dengan maraknya group-group whatsup atau kanal media sosial apa pun saat ini kita harus juga punya peran untuk memengaruhi di komunitas-komunitas itu, agar gerakan kita melawan hoax ini makin besar dan semua masyarakat akhirnya lebih paham lagi dan tentu saja tidak lagi mudah termakan hoax,” paparnya.

Pada kesempatan yang sama Pengajar pada American University’s Journalism and Leadership Transformation Program Maggie Farley, menjelaskan bahwa di era media sosial saat ini siapa pun sudah bisa menjadi penerbit informasi. Kata dia, informasi saat ini tidak lagi didominasi oleh kerja-kerja jurnalistik semata tetapi setiap individu juga bisa menjadi penerbit informasi itu sendiri.

"Maka itu tentu saja upaya kita bersama menangkal hoax menjadi lebih rumit karena mengontrol banyak orang dengan karakterstiknya masing-masing. Ada yang secara sengaja sebagai produsen, ada yang membagikan informasi bohong tersebut dan tentu saja ada yang menikmati informasi tersebut,” jelas Maggie.

Informasi bohong menurut dia bukan hanya sekedar informasi bohong tetapi sebuah kejahatan karena informarsi tersebut bukan berdasarkan fakta, sarat manipulasi, dan pasti memiliki tujuan untuk membawa pengaruh tertentu.

“Ini yang sering terjadi dalam politik, ketika hoaks dipakai sebagai alat untuk memenangi sebuah kontestasi demokrasi dan tentu saja ini tidak sehat maka itu kita lawan sama-sama,” katanya.

Menurut dia, hal yang berbahaya dari hoax adalah menimbulkan perpecahan sosial di masyarakat karena sifatnya yang mengadu domba baik karena perbedaan politik, agama dan suku.

“Sikap skeptik atau sinis dengan informasi itu baik untuk melepaskan diri dari berbagai informasi hoax. Dan tentu saja peran kita semua untuk menjadi lingkar pengaruh bagi masyaraakt yang lain,” pungkas Maggie. (OL-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More