Pascapanen, Kualitas Ikan Segar di Indonesia Menyusut Hingga 25%

Penulis: Indriyani Astuti Pada: Kamis, 11 Okt 2018, 11:45 WIB Humaniora
Pascapanen, Kualitas Ikan Segar di Indonesia Menyusut Hingga 25%

ANTARA

IKAN sebagai pangan lokal merupakan sumber protein dan asam lemak esensial yang potensial untuk pemenuhan gizi masyarakat. Tetapi, sebagian besar kandungan gizi tersebut terbuang karena rendahnya penerapan pascapanen yang belum baik.

Country Director The Global Alliance for Improved Nutrition (GAIN) Indonesia, organisasi nirlaba yang bertujuan mengurangi masalah terkait penyedian pangan Indonesia, Ravi Menon mengatakan berdasarkan studi oleh Dalberg pada 2017, masyarakat Indonesia kehilangan 25% ikan segar atau setara 16.000-27.500 metrik ton protein ikan rusak setiap tahunnya karena penyusutan pascapanen.

Susut protein yang terbuang itu dapat memenuhi kebutuhan 2,7 juta hingga 4,4 juta anak di Indonesia.

"Karena itu, dibutuhkan teknologi dan inovasi dalam mengurangi kerugian pascapanen ikan laut segar di sepanjang rantai pasokan," ujar Ravi dalam acara peluncuran forum jejaring Indonesia PostHarvest Alliance For Nutrition (I-PLAN) for inovation challenge di Kementerian Kesehatan, Jakarta, Kamis (11/10).

Teknologi yang tepat untuk menyimpan, memasarkan, dan mendistribusikan ikan, terang Ravi, dirasakan masih kurang di Indonesia. Itu berdampak pada kualitas ikan yang dikonsumsi masyarakat.

Ravi mengatakan ada tantangan yang dihadapi para pelaku rantai pasokan ikan segar lokal untuk mengurangi kerugian pascapanen terutama di beberapa titik kritis seperti tempat pendaratan ikan, transportasi dan distribusi, sistem penyimpanan, dan bahan alternatif pengganti es yang dapat menurunkan kualitas ikan.

Menurut survei yang dilakukan Kementerian Kelautan dan Perikanan, potensi ikan dimiliki Indonesia cukup besar yakni dari ikan budi daya saja, jumlah yang dihasilkan per tahun hampir empat juta ton dan untuk ikan segar sebanyak 11,5 juta ton per tahun. Namun, konsumsi ikan masyarakat Indonesia masih kurang.

"Konsumsi ikan di Indonesia pada 2017 sebesar 47,35 kilogram per kapita. Pada 2018 diharapkan dapat meningkat 50,86 kilo per kapita," terang Kepala Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Hari Eko Irianto pada kesempatan yang sama.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan mendorong pemenuhan gizi masyarakat terutama diversifikasi produk pangan dan pemberian pangan berbasis lokal diantaranya memanfaatkan ikan sebagai sumber gizi.

Direktur Gizi Masyarakat Kementerian Kesehatan Doddy Izwardy mengatakan pihaknya mendorong intervensi gizi masyarakat diantaranya memanfaatkan ikan yang berkualitas sebagai sumber protein yang dikonsumsi khususnya para ibu hamil dan anak-anak yang membutuhkan gizi mikro untuk mencegah stunting. (OL-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More