Bertemu Anak-anak Perkasa

Penulis: Seto Mulyadi Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Dosen Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma Pada: Selasa, 09 Okt 2018, 00:45 WIB Opini
Bertemu Anak-anak Perkasa

MI/Seno

SEWAKTU kecil, kepala saya pernah bocor akibat jatuh saat mencoba melompat dengan kepala di bawah. Saat ini darah itu sudah berhenti mengalir dan lukanya telah mengatup kembali. Meski parutnya masih tampak jelas.

Namun, saya tidak ingin melakukan operasi plastik untuk menghilangkannya. Biarlah menjadi pengingat bagi saya saja bahwa saya pernah bandel dan merasakan sakitnya bukan alang kepalang sebagai buahnya. Tanpa itu, mungkin saya pun tidak akan pernah memetik pelajaran apa pun.

Refleksi diri semacam itulah yang kemudian saya peroleh saat bertemu dengan anak-anak perkasa di lokasi gempa dan tsunami di Kota Palu. Bayang-bayang kengerian bencana, yang bahkan saya sendiri berdoa untuk tidak mengalaminya, boleh jadi tidak akan pernah hilang dari ingatan anak-anak itu.  

Riwayat hidup pun seketika berubah. Dari yang semula tidur beratap genting, kini beratap langit. Dari yang semula berayah-bunda, kini sebagian (seharusnya) menjadi anak-anak yang dipelihara negara. Dari yang dulu rajin masuk sekolah, kini terpaksa harus absen berhari-hari, dan lain-lain. Namun, dari wajah-wajah mereka seolah terpancar wajah yang tegar, tangguh, dan tak mudah menyerah.

Untuk menghapus kenangan buruk memang tidak mudah. Wejangan agar anak-anak menghapus memorinya tentang bencana alam justru bisa terkesan sebagai kata-kata mutiara tanpa empati. Memang tidak ada tombol delete di dalam pusat penyimpanan data di otak manusia.

Mendorong anak-anak korban bencana alam agar melupakan peristiwa yang mereka alami dua pekan lalu, tidak realistis. Meminjam perkataan Sigmund Freud, Bapak Psikoanalisis, kenangan yang dipaksa harus dilupakan kelak akan beranak pinak menjadi berbagai makhluk. Alih-alih menjadi makhluk jinak, kenangan yang direpresi itu akan bermutasi menjadi duri, keong beracun, atau monster jadi-jadian.

Yang realistis ialah dengan tidak memaksa anak melupakan gempa dan tsunami. Ingatan akan pengalaman traumatis itu akan terus mengendap di benak anak-anak itu. Ingatan yang sama kadan-kadang juga bisa menyeruak kembali ke permukaan.    
 
Itulah sebabnya, orang-orang yang diterjang trauma nantinya bisa pula tiba-tiba menjerit histeris. Bisa pula menyembur sebagai mimpi buruk. Ada juga yang tiba-tiba merasa nyeri di bagian tubuh, tapi tanpa ada penyakit sama sekali. Penyembuhan dengan cara disuruh melupakan, bukan pendekatan yang tepat. Yang jauh lebih penting, membangun keterampilan dan sikap mental yang lebih adaptif pada diri anak. Itulah sasaran trauma healing yang baik.     

Dengan rehabilitasi sedemikian rupa, pantas untuk berharap, andai suatu saat nanti bayang-bayang trauma muncul kembali, ibarat sekring listrik ‘anak-anak sudah mampu lebih cepat memutus arus pendek itu’ karena korsleting berhasil diblokade, risiko kebakaran lebih luas pun dapat dicegah sedini mungkin. Secara jelas, dengan coping skills yang lebih baik, anak-anak tetap dapat tumbuh lebih sehat, religius, cerdas, dan berkualitas. Betapa pun, berlembar-lembar album kenangan mereka telanjur basah dan becek oleh genangan lumpur.

Perkasa           
Anak-anak sering dipandang sebagai sosok tak berdaya. Terlebih dalam situasi bencana. Memang benar, secara fisik anak-anak secara umum tak seperkasa orang dewasa. Namun, tak juga bisa dipukul rata bahwa secara psikologis anak-anak seolah tidak bisa berbuat apa-apa.

Menyaksikan semangat anak-anak di sekian banyak titik pengungsian di sekitar Palu, saya cukup dibuat kagum dan mengamini hasil studi bahwa dalam keadaan darurat bencana sesungguhnya cukup banyak anak yang sejatinya tetap mampu pulih dengan cepat intervensi minimal. Hanya sebagian yang membutuhkan profesional. Lebih sedikit lagi yang menderita guncangan psikologis semacam gangguan stres pascatrauma.

Intervensi yang paling perlu segera direalisasikan ialah justru mengupayakan aktifnya kembali rutinitas pada anak-anak. Tentu, aktif lewat penyesuaian di sana-sini. Dengan kerangka berpikir sedemikian rupa, salah satu dimensi rutinitas hidup anak yang penting disasar ialah justru sekolah. Bangunan permanen sekolah memang banyak yang sudah rusak, dan butuh waktu untuk menegakkannya kembali. Namun, kegiatan bersekolah di tenda-tenda pengungsian tetap dapat diusahakan.

Aktivitas belajar, meski belum bisa berlangsung normal sebagaimana layaknya, tetap dapat dilangsungkan secara sederhana dengan kegiatan belajar mengajar. Sepatutnya itu bisa dilakukan oleh guru-guru dadakan, semisal pekerja sosial, sementara para guru profesional juga masih banyak yang harus berkonsentrasi memulihkan diri mereka.

Atas dasar itulah, para pihak yang peduli perlu terpanggil juga untuk memberikan bantuan perlengkapan belajar. Bukan 'hanya' sembako. Kegiatan bersekolah sedemikian rupa di wilayah pengungsian memiliki banyak manfaat. Pertama, memungkinkan para pekerja kemanusiaan memantau kondisi kesehatan anak-anak. Termasuk mewaspadai kemungkinan delayed onset (pemunculan gejala yang tertunda). Gambaran anak-anak yang mengalami kondisi semacam demikian ialah hari ini mungkin mereka tetap berperilaku normal. Namun, setelah beberapa bulan barulah gangguan stres pascatrauma muncul.

Kedua, sekolah di wilayah bencana dapat merangsang para korban dewasa mengerahkan upaya mereka agar bisa lebih gigih beradaptasi. Termasuk dengan melibatkan diri dalam kegiatan sekolah itu.
 
Mereka, para pengungsi dewasa, merupakan sosok panutan bagi anak-anak tentang bagaimana menyesuaikan diri dalam situasi bencana. Efek sekolah di wilayah pengungsian pun menjadi timbal balik, pengungsi dewasa terinspirasi pengungsi anak-anak, dan pihak kedua termotivasi oleh pihak pertama. Program penyembuhan menjadi sangat berbasis swadaya (self-help), kapasitas setempat terasah kuat sehingga manfaat jangka panjangnya pun jauh lebih meyakinkan.

Sekolah bagi anak-anak pengungsi bencana juga bermanfaat dari sisi keamanan anak. Sudah banyak dicatat bagaimana pengawasan di kawasan bencana tidak semudah yang dibayangkan. Ratusan 'orang asing' banyak lalu-lalang tanpa pengendalian ketat. Siapa pun bisa terkecoh pihak-pihak jahat yang sesungguhnya tengah mengincar korban anak-anak.

Para musang berbulu domba itu membawa kepentingan lain ke dalam tenda-tenda kemanusiaan. Memanfaatkan keletihan para pengungsi dewasa, menyelinap di tengah kelengahan aparat, sambil mengiming-imingkan janji manis, para pegiat gadungan itu beroperasi dengan tujuan membawa anak-anak keluar dari wilayah setempat.

Anak-anak itu kemudian dieksploitasi, diperjual-belikan oleh sindikat people smuggling itu. Ada pula masalah yang dibawa komplotan yang bekerja dengan mengasingkan anak-anak pengungsi dari latar sosial, kultural, dan spiritual mereka. Kabar tentang operasi-operasi gelap itu berulang kali menyedot perhatian, bahkan dari kalangan internasional, pada sekian banyak bencana alam di Tanah Air.

Roda pesawat yang saya tumpangi berdecit mencium aspal landasan Soekarno-Hatta. Anak-anak Palu menginspirasi saya. Pertama, mengaktifkan kegiatan belajar mengajar tidak boleh dinomor-sekiankan. Kegiatan bersekolah diperlukan agar ketangguhan alamiah anak-anak pengungsi bisa terus terasah.

Kedua, agenda bantuan khususnya bagi anak-anak pengungsi bukan sebatas memanjangkan hidup mereka. Namun, tidak kalah penting, keteguhan kita memberikan perlindungan berupa penguatan kembali ikatan anak-anak itu dengan keluarganya masing-masing. Lahir dan batin. Semoga.

 

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More