Masa Tenang Narkoba

Penulis: Mathias S Brahmana Pada: Senin, 08 Okt 2018, 06:00 WIB Opini
Masa Tenang Narkoba

MI/Seno

KARENA nila setitik rusak susu sebelanga. Keberhasilan besar akan sia-sia jika ternodai oleh prilaku anggota yang memotong dalam lipatan. Peringatan tersebut disematkan kepada setiap operasi penindakan hukum, khususnya peperangan melawan jaringan narkoba.

Terbayangkan betapa berisikonya medan laga ketika jajaran Polda Metro Jaya menggelar Operasi Nila selama 14 hari (12-26 September 2018) lalu. Taruhannya nyawa. Pantas jempol diacungkan karena operasi kali ini berbuah banyak. Sebanyak 539 tersangka dalam 443 kejadian berhasil ditangkap.  

Para pelaku yang dengan sengaja mengotori darah anak bangsa itu meliputi dua produsen, tiga bandar, 490 pengedar, serta 44 pemakai. Dari 539 tersangka, tiga begundal merupakan warga negara asing. Begundal level produsen dan bandar, merupakan kelompok terorganisir dengan jaringan rapi dan dipersenjatai.

Saat ini, pengedar pun kebanyakan telah dibekali dengan senjata organik, apalagi bos-bosnya.  Wajarlah Wakapolda Metro Jaya Brigjen Wahyu Hadiningrat sumringah karena dalam Operasi Nila 2018 tidak ada korban dari pihak petugas.  

Berdasarkan target yang dirancang sebelum operasi, versi Wakapolda, semua terbongkar dan pelakunya dapat ditangkap. Barang bukti yang disita pun cukup besar yakni 7,09 kg sabu, 13.954 butil pil ekstasi, 68 gram heroin, hampir 7 kg ganja, 62 gram tembakau gorilla, 14 butir pil happy five, ribuan bahan berbahaya dan ketamin.   

Apakah tersangka yang berjumlah 539 orang akan diadili seluruhnya, dan benarkah semua barang bukti akan dimusnahkan, hanya penyidik berkomponten menjawabnya. Paling tidak pihak penuntut umum sudah mencatat angkanya.  
Keberhasilan Operasi Nila benar-benar harus dijaga marwahnya, jangan sampai terciderai oleh menyusutnya jumlah tersangka dan barang bukti.

Satu tersangka berubah menjadi saksi atau dinyatakan tidak terlibat, begitu pun satu gram sabu berkurang dari tumpukan barang bukti, akan merusak seluruh kegemilangan Operasi Nila 2018.
Operasi  Nila digelar dengan tujuan menekan angka penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba.

Selama ini, Operasi Nila seperti tumbuhan putri malu. Jaringan narkoba meredup saat tersentuh. Tapi akarnya tak pernah tercerabut. Sindikat kembali mekar hingga jadwal Operasi Nila berikutnya tiba. Seperti pemilu, organisasi narkoba menganggap Operasi Nila laksana masa tenang.  

Ketika masa tenang (12-26 September) berlalu, mereka kembali kampanye, memasarkan alat peraga dengan berbagai jenis narkoba baru. Badan Narkotika Nasional Provinsi DKI Jakarta merilis pengguna madat saat ini mencapai 600 ribu orang di Ibu Kota. Belum termasuk jumlah pemadat dari kota penyangga Bodetabek yang mencapai jutaan orang.

Banyak kawasan masuk daftar merah dengan pengguna kawula muda hingga remaja di Jabodetabek. Darurat narkoba tidak akan pernah selesai bila upaya yang dilakukan hanya dalam bentuk operasi dengan jadwal tahunan. Masyarakat mengharapkan ada upaya lebih intensif dengan daya dobrak maksimum.

Terbongkarnya jaringan dua produsen dengan tiga bandar serta 490 pengedar merupakan modal besar bagi Polda Metro Jaya untuk masuk lebih dalam. Jangan berhenti pada mereka. Darurat narkoba memerlukan terapi secara darurat juga.

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More