Mode Komunikasi dan Informasi dalam Penanganan Gempa

Penulis: Rachmah Ida Guru Besar Komunikasi FISIP Universitas Airlangga Pada: Jumat, 05 Okt 2018, 00:30 WIB Opini
Mode Komunikasi dan Informasi dalam Penanganan Gempa

MI/seno

BENCANA gempa bumi dan tsunami di Palu, Sigi, dan Donggala membawa kesedihan yang mendalam bagi bangsa Indonesia. Berbagai isu muncul dan diperbincangkan publik dalam media massa utama dan media sosial. Ada hal krusial yang bisa dipetik dari hiruk pikuk penanganan bencana (during disaster response) dan pascabencana (recovery) ialah memahami mode (cara-cara) komunikasi yang dilakukan warga terdampak bencana, untuk mendapatkan first responder atau pihak pertama yang memberikan respons atau bantuan warga terdampak.  

Masyarakat yang berada di daerah rawan bencana gempa bumi terkadang terlambat mendapatkan informasi atau sama sekali tidak mendapatkan informasi berkaitan dengan kondisi seismografi di daerahnya. Gempa bumi yang tiba-tiba datang di daerah mereka selalu mengagetkan. Hal yang terjadi ialah kepanikan. Masyarakat panik dan tidak tahu ke mana harus mencari informasi dan mendapatkan respons yang segera dari pihak yang lebih tahu tentang kegempaan dan juga dari para pemegang otoritas di wilayahnya.

Tambahan pula setelah bencana terjadi atau masa pemulihan masyarakat tidak terhubung oleh jaringan komunikasi yang informatif untuk bisa memperbaiki bangunan di tempatnya. Dan juga terutama untuk penanganan akibat psikis yang dialami.

Hal yang lebih penting lagi ialah datangnya respons awal yang diharapkan pada saat terjadi gempa dan setelah gempa berakhir. Muncullah kemudian ketakutan dan ketidakjelasan: apakah gempa akan balik lagi atau akan datang lagi ke tempat mereka? Ataukah sudah aman warga bisa kembali menghuni rumahnya dan tidur dengan tenang? Atau bagaimana jika ada gempa susulan lagi, ke mana warga harus berlari dan berlindung? Atau ke mana bertanya tentang informasi semua ini?

Bagaimana warga memberi kabar keluarga yang berada di luar daerah gempa? Apa informasi yang sudah diketahui keluarga yang ada di luar gempa dan beberapa hal yang krusial yang selalu dialami warga atau komunitas yang terkena gempa bumi?

Di sisi lain, media massa dan media sosial memperkeruh suasana karena pemberitaan visual yang dramatis sehingga mencekam dan menimbulkan efek ketakutan kepada masyarakat baik yang terkena bencana maupun yang di luar daerah bencana. Padahal, media massa punya peran penting, apalagi mereka punya kemampuan akses cepat.

Yang lebih mengerikan ketika di zaman hoaks seperti sekarang ini, informasi dan berita-berita hoaks membuat komunitas yang terdampak kegempaan semakin bingung. Apalagi, keluarga dan kerabat yang juga ketakutan karena informasi tidak benar atau hoaks.

Mode komunikasi
Komunikasi selama bencana gempa dan situasi cepat sesudahnya ialah komponen penting dari apa yang disebut dengan respons dan tanggap bencana serta pemulihan, yang berhubungan dengan warga terdampak, keluarga, dan komunitas dengan perespons pertama (first responders), support systems, dan anggota keluarga lainnya.

Sistem komunikasi dan informasi yang bisa diandalkan/dipercaya dan bisa diakses juga merupakan kunci bagi ketahanan masyarakat (community’s resilience) selama masa terjadinya bencana.

Hasil penelitian yang dilakukan penulis, pengalaman dari gempa di Kabupaten Blitar dan Kabupaten Malang pada 2017, cerita dan informasi beraneka ragam muncul di media sosial sebagai alat komunikasi. Fenomena ini telah menunjukkan bagaimana aplikasi jaringan sosial, seperti Facebook, Twitter, Whatsapp, dan Instagram digunakan untuk warga terdampak berkomunikasi dengan teman, keluarga, first responders, dan mereka yang memberikan bantuan penyelamatan serta pemulihan pascagempa.

Pihak-pihak yang dihubungi warga terdampak gempa seperti hasil penelitian penulis yang pertama ialah keluarga, tetangga, aparat desa, dan bahkan jarang yang menghubungi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) secara langsung misalnya. Warga terdampak lebih memilih menghubungi institusi media massa lokal. Media sosial dan jejaring sosial tidak begitu banyak digunakan untuk mencari bantuan, informasi, dan responder awal. Individu terdampak baru merespons jika anggota jejaring sosialnya menanyakan.
Kondisinya, penggunaan mobile phones dan media sosial di Indonesia ini sangat masif jumlahnya. Akan tetapi, derajat atau tingkat literasi digital masyarakat di daerah terindikasi masih rendah. Hasil penelitian penulis mengindikasikan literasi terhadap informasi seismograf dan tentang kebencanaan (yang beredar di smartphones) pada warga di dua kabupaten di Jawa Timur yang diteliti tidak lebih dari 8%.

Ini membuktikan bahwa penggunaan media sosial dan alat-alat komunikasi digital, seperti smartphones dan mobile internet terkendala oleh demografi (usia, pendidikan, dan kelas sosial utamanya) yang sangat berpengaruh terhadap tingkat literasi digital komunitas, terutama terkait dengan kebencanaan.

Salah satu fenomena yang berkembang dengan popularitas penggunaan media sosial dan smartphones ialah munculnya citizen journalism, atau jurnalis yang berasal dari masyarakat itu sendiri. Dengan adanya media sosial, masyarakat dapat menjadi sumber informasi dengan mem-posting peristiwa yang terjadi di sekitar mereka.

Namun, hal yang digarisbawahi dari temuan penelitian penulis terhadap warga terdampak gempa di dua kabupaten di Jawa Timur--dan ini barangkali juga menjadi kecenderungan yang diamati ketika gempa di Lombok, Palu, Sigi, dan Donggala ialah tidak banyak warga yang langsung terdampak, yang mem-posting foto atau video informasi gempa, baik di grup media sosial, akun media sosial pribadi, maupun otoritas daerah atau lembaga terkait.

Postingan-postingan yang beredar kecenderungannya datang dari warga di luar (visitor) atau yang tidak terdampak. Termasuk para first responders yang sibuk mem-posting kepada komunitas jaringan medsosnya, tidak segera menolong korban dan meninggalkan alat telepon genggamnya.

Sumber informasi kebencanaan
Pemerintah pusat dan daerah selama ini, khususnya BNPB, telah berupaya mimikirkan berbagai bentuk atau mode komunikasi yang efektif untuk menginformasikan dan menyuplai informasi kepada masyarakat di daerah-daerah rawan gempa.
Kendala yang masih belum diminimalisasi ialah kecepatan penanganan (first response) kadang terhalang karena prosedur birokrasi yang masih harus ditempuh untuk koordinasi. Juga terkendala lemahnya jaringan sinyal dan listrik serta masih adanya beberapa layanan sinyal para penyedia jasa telepon selular yang tidak maksimal.

Kendala teknis ini yang semakin mempersulit masyarakat menggunakan dan mencari sumber-sumber informasi kebencanaan/kegempaan pada masa terjadinya bencana dan sesudahnya, terutama mereka yang terdampak. Padahal, kondisi ini sangat penting untuk membangun community’s disaster resilience atau ketahanan bencana.

Badan-badan pemerintah, seperti BNPB, BMKG, dan BPBD (daerah) telah menyediakan laman-laman dan bahkan aplikasi mobile atau android yang bisa diakses dan diunduh juga pada Twitter informasi yang tidak putus.

Namun, barangkali karena sosialisasi badan-badan terkait dan aparat kecamatan dan desa kurang maksimal bahkan tidak ada sama sekali, warga lebih memilih mengakses media massa mainstream dan lainnya. Media sosial kurang begitu banyak diakses warga terdampak untuk mendapatkan informasi tentang kegempaan karena ketidakpastian dan terlalu banyaknya informasi hoaks yang beredar.

Hal inilah yang membuat masyarakat kurang paham dan tidak sadar dengan tanda-tanda kondisi cuaca, arah angin, simpul-simpul kecil gempa dan memperhitungkan kesiagaan, ketanggapan, dan aksi menyelamatkan diri. Diseminasi informasi kegempaan agaknya perlu lebih dikenalkan dan agresif dilakukan badan-badan terkait dan aparat-aparat lokal di daerah.

 

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More