Pelajaran dari Gempa Palu dan Donggala

Penulis: Daryono Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Pada: Rabu, 03 Okt 2018, 11:05 WIB Opini
Pelajaran dari Gempa Palu dan Donggala

ANTARA FOTO/Fiqman Sunandar

SEBENARNYA potensi tsunami di Palu telah diantisipasi. Pada 2001, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memetakan seluruh pantai di Indonesia yang berpotensi tsunami, termasuk pantai Teluk Palu. Pada 2009, pemerintah melalui Bappenas, BNPB, Universitas Gadjah Mada, Universitas Tadulako, Bappeda, BPBD, dan dinas PU-Pera mengantisipasi potensi gempa dan tsunami. Hal itu berdasarkan catat­an sejarah kegempaan di Sulawesi Tengah dan kondisi tektonik yang mengindikasikan adanya patahan aktif Palu Koro.

Patahan Palu Koro itu merupakan struktur geologi dengan mekanisme pergerakan mendatar mengiri (sinistral strike-slip). Sesar itu membelah Sulawesi dari Teluk Palu hingga Teluk Bone menjadi dua bagian, yaitu blok barat dan blok timur.

Hasil kajian peneliti LIPI, Mudrik R Daryono, memperlihatkan adanya beberapa segmentasi sesar Palu Koro dengan panjang 15 kilometer hingga 59 kilometer.

Menurut kajian Socquet dan tim pada 2006, zona sesar itu memiliki laju pergeseran sangat cepat sekali sekitar 4 sentimeter per tahun. Sesar Palu Koro dikenal sebagai salah satu sesar paling aktif.

Mulai 2010 hingga 2012 dilakukan program pengembangan kapasitas pemerintah daerah dalam pengurangan risiko bencana. Program tersebut meliputi (1) workshop kebencanaan (Hazard 101), (2) penyusunan rencana aksi daerah, (3) kunjungan dan pelatihan di Selandia Baru, dan (4) pemantapan serta implementasi rencana aksi. Namun, yang belum sempat dilakukan ialah penataan ruang wilayah rawan bencana.

Pada akhirnya, 28 September 2018, pukul 14.00 WIB, terjadi gempa dengan kekuatan magnitudo (M) =5,9 dengan pusat gempa berada di 8 kilometer barat laut Donggala, Sulawesi Tengah, yang mengakibatkan guncangan sampai ke Kota Donggala dengan skala intensitas IV MMI dan Palu dengan skala intensitas III MMI (tidak berpotensi tsunami).

Setelah gempa dengan kekuatan M=5,9 itu, BMKG langsung berkoordinasi dengan Basarnas dan TNI untuk menurunkan tim survei dan tim bantuan ke Donggala.

Pada pukul 17.02 WIB, kembali terjadi gempa dengan kekuatan lebih besar yaitu M=7,7 de­ngan pusat gempa berada di 26 km utara Donggala dengan kedalaman 10 km.

Berdasarkan hasil pemodelan tsunami BMKG, ada ancaman tsunami dengan level tertinggi siaga (perkiraan tinggi tsunami 0,5-3 meter) di Palu dan estimasi waktu tiba pukul 17.22 WIB sehingga BMKG mengeluarkan per­ingatan dini tsunami. Estimasi ketinggian tsunami di Mamuju menunjukkan level ­waspada, yaitu perkiraan tinggi kurang dari 0,5 m.

Berdasarkan hasil update mekanisme sumber gempa yang bertipe mendatar (strike slip) dan observasi ketinggian gelombang tsunami, serta telah terlewatinya perkiraan waktu kedatangan tsunami, maka peringatan dini tsunami ini diakhiri pukul 17.36 WIB.

Rangkaian gempa kuat yang melanda Donggala dan Palu ini merusak ribuan rumah dan menelan korban jiwa. Di wilayah pesisir yang sumber gempanya dekat pantai, peringatan dini tsunami kurang efektif karena waktu tiba tsunami di pantai sangat singkat.

Melihat dampak gempa dan tsunami Palu yang terjadi 28 September 2018, tampak upaya antisipasi yang telah dilakukan sejak 2010 masih tetap mengakibatkan korban jiwa.

Tata ruang dan evakuasi mandiri yang ku­rang dilengkapi fasilitas infrastruktur memadai perlu segera diantisipasi untuk mitigasi ke depan agar siap menghadapi gempa dan tsunami yang terjadi sewaktu-waktu.
Ada pelajaran penting dari peristiwa gempa dan tsunami Palu dan Donggala ini untuk menata strategi mitigasi ke depan.

Korban meninggal dan luka ternyata tidak di­­sebabkan gempa, tetapi akibat bangunan ro­­boh dan menimpa mereka. Melihat banyaknya bangunan yang mengalami kerusakan, pen­­ting upaya serius dalam merealisasikan ba­­ngunan tahan gempa bagi masyarakat. Jika tidak, sampai kapan pun setiap terjadi gempa kuat, masyarakat akan menjadi korban.

Ke depan, masyarakat harus membangun kapasitas untuk evakuasi mandiri. Konsep eva­­kuasi mandiri sangat efektif dalam melindungi warga masyarakat pesisir dari ­tsunami.

Masyarakat pesisir bisa menjadikan gun­cang­an gempa kuat sebagai peringatan dini tsunami. Jadi, jika merasakan gempa kuat, ma­syarakat pesisir harus segera menjauh dari pantai. Masalah tsunami terjadi atau tidak urusan belakangan, yang utama jiwa.

Keberadaan stasiun monitoring muka laut sebagai sarana konfirmasi terjadinya tsunami sangat penting di pantai-pantai rawan tsuna­mi. Alat itu sangat diperlukan untuk mendukung sempurnanya operasional peringatan di­­ni tsunami, termasuk mendukung keputusan kapan berakhirnya ancaman tsunami.

Kapan akan terjadi gempa kita belum mam­pu memprediksi, tetapi kita harus siap menghadapinya. Sosialisasi mitigasi, edukasi, dan pelatihan evakuasi harus terus dilakukan secara berkesinambungan agar kita semua dapat hidup harmonis dengan alam yang rawan gempa. (X-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More