Gempa, Tsunami, dan Likuifaksi

Penulis: Nizam Dekan Fakultas Teknik UGM dan Dosen Magister Teknik Pengelolaan Bencana Alam Fakultas Teknik UGM Pada: Selasa, 02 Okt 2018, 06:15 WIB Opini
Gempa, Tsunami, dan Likuifaksi

ANTARA FOTO/Irwansyah Putra

GEMPA dahsyat yang terjadi di Palu dan Donggala (sebesar 7,7 SR yang kemudian dikoreksi BMKG menjadi 7,4 SR; 7,5 SR menurut USGS) kembali mengingatkan kita akan kerawanan kita terhadap bencana alam, terutama gempa bumi.

Gempa bumi terjadi karena tumbukan gerakan lempeng benua dan samudra.

Seperti kita ketahui, kepulauan Indonesia bagian timur laut berada di tepi lempeng Samudra Pasifik yang menghunjam lempeng benua Eurasia atau biasa dikenal dengan cincin api Pasifik, sementara kepulauan di sisi yang lain merupakan pertemuan lempeng Samudra Hindia dan Eurasia. Posisi tersebut menyebabkan Indonesia sangat rawan terhadap gempa bumi.

Getaran gempa bumi, selain menyebabkan kerusakan bangunan dan infrastruktur, dapat pula membangkitkan bencana susulan berupa tsunami, tanah longsor, dan likuifaksi.

Tsunami berasal dari akar kata bahasa Jepang, tsu yang artinya ‘pelabuhan’ dan nami yang artinya ‘ombak/gelombang’.

Secara umum kita memahami tsunami sebagai gelombang yang terjadi akibat deformasi kerak bumi di dasar laut yang dalam atau karena longsoran.

Deformasi tersebut dapat terjadi karena gempa bumi (terutama patahan di zona subduksi), karena longsoran bawah laut, atau karena letusan gunung api di laut.

Deformasi dasar laut tersebut menimbulkan gelombang yang menjalar dengan kecepatan sangat kencang (bisa lebih dari 500 km/jam).

Meskipun di tengah laut amplitudo gelombang tsunami mungkin tidak begitu tinggi, saat mendekati pantai kecepatan berkurang sejalan dengan mendangkalnya perairan, tetapi tinggi gelombang akan meningkat berbanding terbalik dengan akar berkurangnya kecepatan rambat gelombang. Selain itu, ketika tsunami memasuki teluk yang menyempit, tinggi gelombang juga teramplifikasi.

Kejadian gempa disusul tsunami di Palu diduga akibat longsoran bawah laut karena pusat gempa berada di darat dan sumber gempa berupa sesar geser. Ini berbeda dengan tsunami Aceh/Samudra Hindia yang dibangkitkan gempa megathrust bawah laut akibat tumbukan lempeng Burma dan lempeng Samudra Hindia.

Beragamnya penyebab tsunami menyulitkan prediksi tsunami. Masyarakat yang tinggal dekat pantai hendaknya selalu waspada. Bila terjadi gempa sangat besar (lebih dari skala 7), terlebih bila berlangsung dalam waktu lama (lebih dari 30 detik), sebaiknya segera menuju tempat aman.
Sementara itu, tanah pasiran yang tidak padat dan jenuh air, saat digetarkan gempa, dapat mengalami likuifaksi.

Getaran gempa menyebabkan tekanan air yang mengisi pori-pori antarbutiran pasir meningkat sehingga butiran pasir sa­ling lepas dan kehilangan daya dukungnya. Tanah yang semula padat lalu berubah sifat menjadi seperti zat cair. Bangunan di atas tanah yang mengalami likuifaksi akan ambles, bahkan lapisan tanah dapat bergerak.

Saat gempa melanda daerah yang kondisi geologinya berupa endapan pasiran tidak padat, likuifaksi umumnya teramati seperti pada gempa Aceh, Yogyakarta-Jawa Tengah, Lombok, dan Palu.

Luas kawasan, manifestasi, dan dampak likuifaksi berbeda-beda karena sangat ditentukan kondisi geologi serta gempanya. Pada kejadian di Palu, kita saksikan likuifaksi berskala besar antara lain karena Kota Palu terletak di zona patahan yang sangat aktif dan struktur geologinya berupa endapan muda (sedimen kuarter).

Hidup berdampingan dengan bencana

Bencana akibat gempa mengingatkan kita untuk terus memetakan dan melakukan kajian geologi kawasan rawan gempa serta terus menyosialisasikannya dan menjadikan masyarakat tangguh terhadap bencana.

Perencanaan tata ruang hendaknya didasarkan pada zonasi kerawanan bencana alam. Pedoman bangunan tahan gempa hendaknya juga selalu diikuti dalam membangun rumah.

Kemudian pengetahuan dan kesiagaan terhadap bencana harus menjadi bagian dari budaya untuk membangun masyarakat yang tangguh terhadap bencana karena kita hidup berdampingan dengan potensi bencana alam.              

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More