Ingin Dapat Pujian Malah Berbuah Cibiran

Penulis: Liliek Dharmawan Pada: Rabu, 26 Sep 2018, 08:36 WIB Politik dan Hukum
Ingin Dapat Pujian Malah Berbuah Cibiran

MI/Liliek Dharmawan

RIBUAN mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) yang hadir pada seminar kebangsaan menyoraki Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan (Zulhas) ketika menyebut nama Prabowo dan Sandiaga Uno dalam seminar.

Sorakan tersebut berlangsung saat seminar kebangsaan bertajuk ‘Masa Depan Ekonomi Pancasila dan Tantangan Start-up Wirausaha di Era Generasi Milenial’ di Hotel Karlita Purwokerto, kemarin (Selasa, 25/9/2018).

Pada awal tampil, Sandiaga Uno memang tidak sempat menyinggung soal pilpres. Dia memberikan motivasi kepada para mahasiswa mengenai kewirausahaan. Salah satunya dengan mengajak mahasiswa untuk berpikir positif.

“Mahasiswa harus positif, jangan berpikiran negatif. Mahasiswa ja­ngan nyinyir, jangan julid, dan jangan baperan. Mau sukses? Siap sukses? Berpikirlah positif,’’ kata Sandiaga.

Namun, giliran Zulkifli ngomong, teriakan huuuuuu terus menggema. Sorakan bahkan berlangsung sebanyak tiga kali.

Di bagian seminar, Zulhas menyisipkan pesan tentang peran-peran penting mahasiswa di Republik ini. Mahasiswa ialah agen perubahan yang bertanggung jawab menentukan masa depan.

Namun, saat Zulkifli belum selesai mengatakan, “Kalau nanti Prabowo-Sandi jadi presiden dan wakil presiden...”, mahasiswa UMP langsung menyoraki dengan mengatakan, “huuuu!!”.

Zulkifli kembali masuk pada tema, tetapi kemudian kembali menyinggung pilpres. “Dan yang terakhir kali, nanti Presidennya Prabowo dan Sandi...,” kata Zulkifli. Serempak koor “huuuuuu,” dari para mahasiswa kembali bergema.

Zulkifli kembali menyemangati mahasiswa untuk berwirausaha. Namun, pada saat akhir, Zulkifli kembali menyinggung pilpres. Kali ini dia hanya menyebut nama Sandiaga Uno sebagai cawapres. “Kalau Wakil Presiden, Sandi...,”. Sontak, “huuuu,” dari mahasiswa kembali bergema.

Wakil Rektor I UMP Anjar Nugroho mengatakan acara yang diselenggarakan tersebut merupakan kuliah umum yang menghadirkan para pakar di bidangnya.

Soal teriakan mahasiswa, Anjar mengatakan kalau hal tersebut di luar agenda.

“Saya tadi tidak melihat agenda lain. Agenda kami ialah agenda akademik yang menghadirkan para pakar di bidangnya. Kebetulan mahasiswa yang datang  mereka yang mengikuti mata kuliah kewirausahaan.’’

Ia juga memastikan bahwa acara tersebut hanya diikuti mahasiswa UMP dan tidak ada orang luar yang ikut serta.

 “Mereka yang datang harus memakai jaket almamater dan kami pastikan seluruhnya ialah mahasiswa UMP. Kami sudah set acara akademik berupa kuliah umum. Kita bicara soal kepakaran para pembicara, tidak ada kaitannya dengan calon,’’ imbuhnya.

Steril
Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir, be­be­rapa kali menegaskan bahwa kampus harus steril dari politik praktis. Hal itu ia ulangi saat mengisi acara di Universitas Buana Perjuangan, Kabupaten Karawang, Senin (3/9).

“Perlu saya sampaikan kepada kampus di Indonesia, kampus untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, bukan untuk kampanye dan berpolitik,” jelas Menristek-Dikti.

Nasir mengatakan, bila kampus dijadikan alat politik, dampaknya akan langsung terasa di mahasiswa dan kampus itu sendiri. Maka dari itu, ia menyerukan bahwa kampus merupakan lembaga pendidikan tinggi yang harus netral dan steril dari kegiatan politik praktis.

“Kalau orang mau berpolitik jangan di kampus. Kampus harus netral. Karena nantinya akan berdampak kepada mahasiswa, akan menjadikan kampus tidak independen.’’ (P-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More