Berkaca pada Karen ESDM Ogah Kecolongan

Penulis: Cahya Mulyana Pada: Rabu, 26 Sep 2018, 07:55 WIB Nusantara
Berkaca pada Karen ESDM Ogah Kecolongan

Karen Galaila Agustiawan Terjerat Kasus -- Dok.MI

KASUS dugaan penyimpangan investasi yang dilakukan mantan Direktur Utama Pertamina (persero) Karen Galaila Agustiawan di Blok Baster Manta Gummy (BMG) Australia pada 2009 menjadi pelajaran bagi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Hal itu disampaikan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian ESDM Djoko Siswanto di Jakarta, kemarin.

"Jadi begini, secara teknis ya lapangan ini cadangannya berapa, sertifikatnya, sudah produksi berapa lama. Kita harus ngerti maksimum dari cadangan itu yang bisa kita produksi. Kita harus punya keyakinan itu 40%," ujar Djoko.

Dia menjelaskan pihaknya tidak mau ikut campur dengan masalah hukum Karen. Namun, hal itu akan menjadi pelajaran ke depan untuk memastikan investasi migas bersih dari pelanggaran.

Ia mengatakan BUMN yang ingin berinvestasi, khususnya di sektor migas, harus melakukan pengujian ulang mengenai cadangan migasnya. Menurut dia, bila itu dilakukan, diyakini tidak akan terjadi kerugian.

Dalam pengujian tersebut juga harus diketahui dengan pasti produksi migas beberapa tahun terakhir, kemudian ke depan bisa produksi berapa banyak.

"Tekanannya masih primary production apa sudah secon-dary produksi atau tertiery. Harus dicek ke lapangan, diukur langsung tiap-tiap sumurnya. Begitu kita sudah firm, dibahas di dalam negeri oleh tim. Kita dapat approve dari manajemen. Nah kalau ini oke, firm jalan," kata dia.

Meski begitu, dia mengaku tidak mengetahui apakah semua itu dilakukan juga oleh Karen saat berinvestasi di Blok Baster Manta Gummy (BMG) Australia yang berujung pada tindak pidana. "Saya kan enggak tahu kemarin-kemarin," ungkapnya.

Sebelumnya, Kejaksaan Agung menetapkan mantan Dirut Pertamina Karen Agustiawan sebagai tersangka kasus korupsi investasi di Blok Baster Manta Gummy Australia pada 2009. Empat mantan pejabat lain Pertamina juga ditetapkan sebagai tersangka.

Karen ditahan selama 20 hari pertama di Rumah Ta-hanan Pondok Bambu, Jakarta Timur, pada Senin (24/9), setelah menjalani pemeriksaan di Kejaksaan Agung.

Alih-alih menguntungkan, investasi di 'Negeri Kanguru' itu ternyata membuat perusahaan migas pelat merah tersebut jeblok. Kerugian negara dalam kasus itu sebesar Rp568 miliar.

Pengacara Karen Agustiawan, Susilo Aribowo, mengatakan kliennya tidak punya niat untuk melakukan korupsi dalam kasus tersebut.

"Yang jelas pertanggungjawaban pidana mesti ada niat jahatnya, tapi sampai sejauh ini tidak ada sesuatu yang diperoleh Bu Karen untuk investasi itu," kata Susilo di gedung Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, kemarin.

Susilo mengaku kliennya sudah mengantongi persetujuan Dewan Komisaris Pertamina.

"Pertama ada persetujuan komisaris, ada feasibility study, semua sudah dilakukan. Kemudian persetujuan komisaris juga sudah didapat pada 30 April 2009, kemudian 27 Mei 2009 tanda tangan jual-beli participating interest itu," jelas Susilo.

Sayangnya, kata dia, pada 27 Mei 2009, hanya berselisih beberapa jam, direksi menerima pemberitahuan bahwa komisaris tidak setuju.

"Ini kan aneh, tidak bisa dicabut mendadak begitu saja," ungkap dia.

Menurut Susilo, investasi untuk sumur minyak belum tentu menghasilkan.

"Kita menginvestasi sumur tidak bisa menjamin isinya minyak atau bukan, yang jeblok juga banyak. Ini jadi risiko korporasi," pungkasnya. (Ant/X-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More