Ketahanan Energi RI Mencemaskan

Penulis: (PS/N-3) Pada: Rabu, 26 Sep 2018, 01:15 WIB Nusantara
Ketahanan Energi RI Mencemaskan

MI/ATET DWI PRAMADIA

KEPALA Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Unggul Priyanto mengungkapkan Indonesia merupakan penghasil minyak, gas, dan batu bara yang besar di dunia.Namun, saat ini konsumsi minyak bumi Indonesia melebihi produksi. Kondisi itu mencemaskan karena Indonesia menjadi importir minyak bumi. Akibatnya berpengaruh terhadap gejolak rupiah.

“Kekhawatiran akan keta-hanan energi nasional inilah yang mendorong BPPT untuk terus berupaya melakukan kaji terap teknologi di bidang energi. Khususnya untuk menciptakan inovasi energi terbarukan untuk menuju cita energy mix atau baur-an energi,” ungkap Unggul Priyanto saat peluncuruan buku Perspektif, Potensi dan Cadangan Energi Indonesia, Selasa (25/9).

Menurut dia, Indonesia darurat energi. Karena itu, semua anak bangsa harus mengubah pola pikir. Indonesia sudah tidak menjadi penghasil minyak yang bersifat surplus. Berbagai kajian telah membuktikan bahwa Indonesia ke depan berpotensi menjadi negara pengimpor minyak. Apalagi jika tidak mengganti perilaku konsumsi energi sehari-hari.

Apalagi, tegas Unggul, isu ketahanan energi kembali menjadi sorotan penting belakangan ini. Bahkan, analisis kepakaran menyebutkan bahwa impor sektor migas menjadi faktor melemahnya nilai mata uang rupiah.

“Kondisi ini merupakan tantangan yang berpotensi jadi ancaman di sektor energi. Yang diperlukan ialah penanganan serius,” tandasnya.

Energi terbarukan
Sekjen Dewan Energi Nasional Saleh Abdurrahman menargetkan pada 2025 Indonesia akan menggunakan energi terbarukan (angin, air, dan tata surya) sebesar 25%.

“Sebentar lagi, terget Indonesia menggunakan energi terbarukan sebesar 25% pada 2025 bakal terealisasi. Saat ini baru 6%-7%,” ujar Saleh pada Seminar Pengelolaan Sumber Daya Energi yang Berkelanjutan untuk Ketahanan Nasional di Medan, Sumatra Utara, kemarin.
Saleh menuturkan bahwa Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang banyak. Potensi matahari dan angin belum dimanfaatkan sebesar-besarnya.

Saleh mengaku sangat mendukung penggunaan energi terbarukan dan mendorong daerah-daerah untuk mengembangkan energi terbarukan.

Selain minim risiko, energi terbarukan juga lebih murah daripada energi ­nuklir.

“Tren harga energi terbarukan semakin menurun, tren energi nuklir semakin tahun semakin naik juga,” ujarnya.

Di tempat yang sama, mantan Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro mengatakan wacana penggunaan bahan bakar nuklir dalam mengatasi kebutuhan listrik Indonesia masih dibahas.

Salah satu yang disorot ialah public acceptance (penerimaan publik) yang menjadi kendala serius dalam membangun pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Rencana pembangunan harus mempertimbangkan banyak aspek. (PS/N-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More