Pemilih Milenial Bisa Beralih ke Jokowi-Amin

Penulis: Insi Nantika Jelita Pada: Selasa, 25 Sep 2018, 07:50 WIB Politik dan Hukum
Pemilih Milenial Bisa Beralih ke Jokowi-Amin

MI/SUSANTO
KOMITMEN KAMPANYE DAMAI: Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional Joko Widodo-Ma’ruf Amin, Johnny G Plate (kanan), didampingi Wakil Sekretaris Raja Juli Antoni menyampaikan keterangan pers terkait dengan perkembangan terkini di Posko Cemara, Jakarta, kemarin. TKN

DUKUNGAN yang diberikan kalangan milenial kepada pasangan calon presiden dan calon wakil presiden Prabowo Subianto-Sandiaga Uno bisa saja beralih ke pasangan Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin. Demikian yang disampaikan peneliti senior Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Ikraman Masloman dalam diskusi publik bertajuk Ke Mana Arah Pemilih Milenial? di Warung Daun, Cikini, Jakarta, kemarin.

Menurut Ikram, hal itu bisa terjadi apabila Prabowo-Sandi tidak bisa menawarkan program konkret yang menyentuh kaum milenial.

"Kalau itu tidak mampu diyakinkan, bisa saja pemilih itu balik kanan ke Jokowi-Amin," ujar Ikram.

Ia menjelaskan, pada dasarnya tingkat elektabilitas pasangan Jokowi-Amin di kalangan kaum milenial lebih tinggi ketimbang pasangan Prabowo-Sandi. Hal itu karena kaum milenial puas dengan kinerja Jokowi dalam pemerintahannya di periode pertama.

"Kaum milenial tidak mudah digiring dalam memilih calon presiden. Jokowi-Amin mengungguli suara milenial karena puas melihat kinerja," tegasnya.

Pemilih milenial memang masih menjadi segmen yang diperebutkan kedua pasangan calon presiden dan calon wakil presiden. Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari menilai ada banyak aspek untuk menilai sejauh mana kaum milenial menilai kedua pasangan calon tersebut, misalnya dari pola akses media sosial (medsos).

Qodari menyebut pengikut Jokowi di Instagram yang mencapai 12,1 juta lebih unggul dari Prabowo yang hanya 1,6 juta.

Sementara untuk posisi cawapres, Sandi lebih unggul dan komunikatif di medsos ketimbang Amin, sehingga dinilai mampu menjangkau kalangan milenial secara luas.

Tak hanya itu, jumlah pengikut Sandi di Twitter mencapai 1 juta orang, sedangkan Amin hanya 8 ribu. Di Instagram, pengikut Sandi mencapai 2 juta, sedangkan Amin hanya 404 ribu.

Qodari menilai Jokowi juga ditunjang dengan penampilannya yang bergaya anak muda seperti mengenakan sneakers, motor chopper, hingga balutan jaket bomber. Hal ini, menurut Qodari, berbeda dengan Amin yang memilih berpakaian ala pesantren tradisional.

Sebaliknya, Prabowo sering-kali berpakaian dengan gaya angkatan '45. Sandi terlihat lebih muda dengan mengadopsi gaya kekinian ala milenial.

"Di dunia medsos posisi Jokowi unggul terhadap Prabowo, tapi untuk wakil Sandi unggul terhadap Ma'ruf Amin," ungkapnya.

Harus substansial

Pada kesempatan yang sama, Ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia Tsamara Amany mengatakan generasi milenial mempunyai perhatian khusus terhadap isu terkait lapangan kerja, pendidikan dan lainnya.

Oleh sebab itu, sambung dia, petarungan di Pemilu 2019 harus lebih mengarah pada hal yang substansial untuk menggaet suara milenial.

"Jadi, bukan sekadar perhatian ke gaya hidup. Harapannya pemilu bukan sekadar cari presiden terbaik, melainkan ajang edukasi bagi milenial," ujarnya.

Oleh karena itu, sambung Tsamara, Jokowi sering meng-undang anak muda untuk mendengarkan permasalahan untuk membangun Indonesia ke depan.

"Milenial ialah generasi yang harus diajak bicara," pungkasnya. (OL-7)

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More