Polres Metro Jakarta Barat Tangkal Ekstasi Baru

Penulis: (DD/SM/N-2) Pada: Selasa, 25 Sep 2018, 06:45 WIB Megapolitan
Polres Metro Jakarta Barat Tangkal Ekstasi Baru

MI/DEDE SUSIANTI

TIDAK sia-sia upaya Hengki Haryadi berburu bandar narkoba ke Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Di Perumahan Sentra Pondok Rajeg, Kecamatan Cibinong, Kepala Polres Metro Jakarta Barat itu bersama anak buahnya berhasil menemukan keberadaan pabrik ekstasi.

“Sebelum ke Bogor, kami menangkap sejumlah pengedar di Jl Tiong, Setiabudi, Jakarta Selatan dan di Jl Grand Depok Citu, Kota Depok. Dalam pengembangan, kami melacak adanya pabrik ekstasi di Cibinong ini,” tutur Hengki di Bogor, Senin (24/9).

Dalam tangkapan awal, polisi menyita 135 dan 1.000 butir ekstasi. Tiga pria ditangkap di rumah produksi itu, yakni SI, 51, AP, 40, dan RS, 24. SI merupakan dedengkot kelompok ini. Ia sudah tiga kali ditangkap dalam kasus narkobat. Terakhir, SI dihukum 10 tahun dan baru bebas dari penjara 3 bulan lalu.

Tentang barang terlarang yang dipro-duksi di rumah itu, Hengki menyatakan ini merupakan ekstasi jenis baru, yakni 3 in 1. “Pabrik pembuatan ekstasi di rumah itu juga sedang dikembangkan menjadi laboratorium untuk menghasilkan sabu.”

Ekstasi rumahan itu berbeda dengan barang sejenis yang sudah lebih dulu mengisi pasar. Biasanya, ekstasi hanya memiliki kandungan untuk memberikan efek stimulan, sedangkan 3 in 1 dipastikan juga memiliki kandungan depresan dan halusinogen.
“Ini temuan pertama di Indonesia. Ekstasi jenis ini lebih berbahaya daripada jenis sebelumnya,” lanjutnya.
 
Dijual ke LP
Ekstasi, ungkap Hengki, diproduksi dengan bahan baku sabu. Setiap hari, kelompok ini mampu menghasilkan 500 butir. Mereka juga mengaku sudah beroperasi selama 1 tahun. Bahan baku untuk membuat ekstasi didapatkan dari jaringan pasar gelap internasional. “Ekstasi dijual ke jaring-an yang ada di lembaga pemasyarakatan di Jakarta.”

Hal lain yang cukup mencengangkan ialah ekstasi hasil produksi mereka dijual ke jaringan lembaga permasyarakatan di Jakarta. Sejumlah barang bukti disita polisi dari rumah itu, di antaranya sabu, 3.000 ekstasi, bahan baku, dan mesin cetak pil.

Di tempat yang sama, Kepala Bidang Narkoba Puslabfor Mabes Polri Kombes Sodiq Pratomo menyatakan kandungan 3 in 1 terdiri atas methapethamine, ketamine, ephidrine, kafein, dan fosfor. Ekstasi ini dapat membuat si pemakai kehilangan nyawa akibat overdosis.
Di Tangerang, Polsek Teluk Naga menangkap dua pemuda yang diduga mengedarkan sabu. Mereka ialah Suheri, 23, residivis kasus narkoba yang baru 3 bulan menghirup udara bebas, dan Fernandi, 25.

“Dalam pemeriksaan, Suheri mengaku memperoleh sabu dari seorang narapidana di dalam Lembaga Pemasyarakatan Pemuda. Terakhir, ia dipasok sebanyak 50 gram untuk diedarkan,” kata Kapolsek Teluk Naga Ajun Komisaris Dedi Herdiana.

Ini bukan kasus pertama peredaran sabu yang melibatkan penghuni LP di Tangerang. Sebelumnya, Polres Metro Tangerang juga menangkap pengedar sabu di Kampung/Kelurahan Noroktog, Kecamatan Pinang. Dari tangan HY, 35, sang pengedar, polisi menyita sabu seberat 1,5 kilogram.

HY bertugas mengedarkan sabu ke wilayah Jakarta Timur, Jakarta Barat, dan Tangerang. Dalam tiga bulan, ia mengaku sudah mengedarkan sabu hingga 4 kilogram. (DD/SM/N-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More