Menghidupkan lagi Kampung Batik

Penulis: (Akhmad Safuan/AS) Pada: Selasa, 25 Sep 2018, 01:00 WIB Nusantara
Menghidupkan lagi Kampung Batik

MI/Akhmad Safuan

KAMPUNG Batik di Kelurahan Rejomulyo, Kecamatan Semarang Timur, Kota Semarang, Jawa Tengah, belakangan ini ramai didatangi masyarakat. Bahkan, para wisatawan domestik selalu mampir ke kampung yang tidak jauh dari kawasan Kota Lama Semarang itu.

Kedatangan para wisatawan itu mengingatkan di masa lalu bahwa kampung batik ini pernah mengalami kejayaan di masa kolonial. Kampung ini pernah menjadi salah satu sentral produksi batik di Jawa Tengah. Namun, di masa penjajahan Jepang pada 1942, kampung batik Rejomulyo mengalami kebakaran hebat. Yang tersisa hanyalah nama kampungnya tanpa ada aktivitas membatik.

Para wisatawan cukup 30 menit keliling gang-gang di kampung batik ini. Pada 1980, warga yang dulunya keturunan perajin batik mencoba bangkit kembali, tapi tidak bertahan lama.

Barulah pada 2006, Pemerintah Kota Semarang dan Dewan Kerajinan Nasional Daerah memberikan pelatihan membatik dan sosialisasi batik semarangan. Akhirnya warga pun kembali bergairah untuk menjadi perajin batik.

Seiring dengan perkembangan Kampung Batik Semarang, motif batik semarangan pun makin populer. “Para pengunjung di sini umumnya mencari batik semarangan yang mempunyai corak dan warna berbeda dengan batik dari daerah lain,” kata Christina Riyastuti, salah satu pemilik toko batik, kemarin.

Hal itu diamini Eko, perajin batik semarangan. Menurutnya, batik semarangan mempunyai motif dan corak khas seperti lawang sewu, tugu muda, kuntul, asem, flora dan fauna. Apalagi banyak sekolah di Semarang yang mewajibkan anak-anak memakai seragam batik khas semarangan.

Harga batik semarangan lebih mahal daripada batik lain. “Selisih harganya Rp25 ribu per potong. Untuk batik semarangan harganya Rp125 ribu hingga Rp175 ribu per potong,” terang Eko.

Menjelajah Kampung Batik Semarang ini membuat wisatawan ketagihan sebab di situ juga ada Kampoeng Jadoel yang isinya mayoritas rumah kuno peninggalan Belanda. Daerah tersebut kerap dijadikan arena pemotretan berpadu dengan mural tembok warga.

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi memuji kebangkitan Kampung Batik Semarang ini. Menurutnya, kampung tersebut merupakan salah satu kampung tematik dari 32 kelurahan di 16 kecamatan di Semarang.

Kampung tematik telah menjadi program Pemkot Semarang untuk menarik wisatawan agar berkunjung.

“Pemkot Semarang berkonsentrasi membenahi  wilayah di bidang infrastruktur dan mengembalikan wajah kota seperti saat kota ini dibangun, seperti pasar lama, alun-alun, kampung, dan lainnya.”  (Akhmad Safuan/AS)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More