Penaikan Suku Bunga masih Diperlukan

Penulis: (Dik/E-1) Pada: Senin, 24 Sep 2018, 07:15 WIB Ekonomi
Penaikan Suku Bunga masih Diperlukan

Foto Terbit/SUSANTO (FOTOGRAFER)

PENGAMAT ekonomi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Tony Prasetiantono menyatakan penaikan suku bunga saat ini belum cukup untuk menekan keperkasaan dolar AS terhadap mata uang rupiah. Karena itu, Bank Indonesia (BI) diminta untuk menaikkan kembali suku bunga acuan.

"Suku bunga acuan 5,5% belum cukup untuk menekan dolar AS. Sebagian orang pasti akan borong dolar AS," kata Tony dalam diskusi pada acara Kafe BCA on the Road di Yogyakarta, Sabtu (22/9).

Ia pun mendorong kebijakan penaikan suku bunga acuan BI dilakukan seiring dengan kebijakan bank sentral AS, yaitu The Federal Reserve, dalam menaikkan tingkat suku bunga acuan Fed funds rate (FFR). "Mengenai waktunya, tergantung, apakah sebelum putusan The Fed atau setelah putusan The Fed. Yang jelas pemerintah AS masih ada potensi menaikkan suku bunga FFR 4-5 kali lagi," ungkap Tony.

Untuk menjaga nilai rupiah, pemerintah juga perlu memberhentikan dulu belanja-belanja negara yang berbentuk mata uang dolar AS.

Tony menegaskan pelemahan rupiah saat ini jauh berbeda dengan kondisi pada 1998. Pada 1998, hampir semua bank kolaps dan disuntik dana oleh pemerintah, tapi saat ini tidak ada bank yang kolaps. Bahkan bank seperti Bank Central Asia (BCA) mampu meraih laba di atas Rp23 trilliun.

"Jadi, saat ini, Indonesia masih atraktif bagi investor asing untuk menanamkan investasi mereka di Indonesia," tegas Tony.

Senada dengan Tony, pengamat ekonomi yang juga Komisaris Independen BCA Cyrillus Harinowo menyatakan penaikan bunga BI idealnya 50 basis poin setiap penaikan FFR 25 basis poin. "Peluang untuk menaikkan suku bunga acuan BI tetap besar mengingat BI menggelar rapat bisa 12 kali dalam setahun. Berbeda dengan bank sentral AS yang hanya 4-5 kali dalam setahun," Cyrillus menandaskan.

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More