Membidik Pemilih Milenial bukan Kader Parpol

Penulis: Nurjiyanto Pada: Minggu, 23 Sep 2018, 02:00 WIB Politik dan Hukum
Membidik Pemilih Milenial bukan Kader Parpol

MI/Susanto

PEMILIH milenial yang berusia 17-35 tahun menjadi salah satu fokus pendukung kedua kubu calon presiden dan wakil presiden di Pemilu 2019. Pasalnya, populasi kelompok milenial cukup ­signifikan dan diyakini dapat menyumbangkan suara secara dominan.  Berbagai cara, termasuk media, pun akan dimaksimalkan untuk menarik suara mereka.

Bagi pemilih muda, kader partai mungkin tidak terlalu sulit dijaring. Namun, bagaimana dengan mereka yang bukan simpatisan partai? Bagaimana mereka mencari informasi tentang kepemiluan?

Media sosial (medsos) ternyata menjadi alat pemberi informasi yang jitu bagi pemilih milenial nonkader partai. Hal itu disampaikan beberapa anak muda, antara lain Inas Shafiya, 19, mahasiswa dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Yohanes Erlangga, 20,  dari Universitas Bina Nusantara (­Binus) Jakarta.

Menurut mereka, medsos lebih mudah diakses ketimbang sumber media lain. “Selain itu, medsos, seperti Twitter dan Instagram, pasti dibuka tiap hari,” ujar Inas saat ditemui di kawasan Cikini, Jakarta kemarin.

Meski demikian, dirinya amat ­berhati-hati dan selalu mencari ­informasi pembanding lewat media konvensional. Hal senada dikatakan Erlangga.

“Saya akan melihat program apa yang nanti ditawarkan oleh para kontestan pemilu, khususnya di ajang debat. Pertimbangan rekam jejak, khususnya terkait korupsi menjadi poin pertimbangan saya jika nanti memilih,” ujarnya.

Merapat pada pemilih milenial
Berdasarkan data Komisi Pemilihan Umum (KPU) 2017, terdapat 185.084.629 daftar pemilih tetap dan 2.025.44 pemilih luar negeri. Dari jumlah itu, 35%-40% pemilih berusia 17-35 tahun. Partai-partai pun membuat beragam langkah untuk mendulang suara kaum milenial tersebut.

Partai NasDem, misalnya, memakai sejumlah selebritas yang bergabung untuk menjadi jembatan membangun kedekatan dengan generasi milenial. “Kami juga punya liga mahasiswa dan sayap partai, yakni Garda Pemuda. Di situlah NasDem menjangkau mereka,” ujar Sekjen NasDem Johnny G Plate.

Menurut Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto, partainya meluncurkan atribut dan pernak-pernik milenial untuk menarik pemilih muda dan pemula, misalnya jaket dan kaus hingga acara-acara yang melibatkan kaum muda.

“Setiap partai politik memang harus menyiapkan kepemimpin­an generasi muda sebagai sumber kepemimpinan nasional ke depannya,” ujarnya.

Terpisah, Ketua DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Lena Maryana Mukti mengatakan pihaknya melakukan pendekatan dengan kaum milenial lewat medsos ataupun langsung lewat diskusi-diskusi politik.

“Kita juga mengadakan kursus singkat untuk meningkatkan pengetahuan politik mereka dan merangkul diaspora milenial,” tambahnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia Yunarto Wijaya mengatakan, untuk mendapatkan suara kaum milenial, kalangan partai politik harus memakai pola pendekatan kekinian dan tidak melulu menggunakan bahasa politisi.

“Strategi meraih suara pemilih muda bisa diatasi dengan menerapkan rumus 4C, yakni critical voter, change, communicative, dan community karena pemilih muda ialah kelompok yang paling kritis, dinamis, dekat dengan serbadigital, dan suka perubahan dengan janji masa depan,” jelasnya. 

Bahasa yang digunakan pun, tambah Yunarto, harus simpel dan mudah dipahami. Jangan menggunakan bahasa-bahasa politisi yang terkesan normatif ketika membuka ruang dialog. Pro/Gol/Pol/X-7)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More