Masyarakat Perlu Menjaga Kewarasan di Tahun Politik

Penulis: Furqon Ulya Himawan Pada: Sabtu, 22 Sep 2018, 21:15 WIB Nusantara
Masyarakat Perlu Menjaga Kewarasan di Tahun Politik

ANTARA/Puspa Perwitasari
Pasangan Calon Presiden-Wapres Joko Widodo (kedua kanan)-Ma'ruf Amin (kanan) dan Prabowo Subianto (kedua kiri)-Sandiaga Uno (kiri) menunjukkan nomor urut Pemilu Presiden 2019 di Jakarta, Jumat (21/9/2018).

MASYARAKAT perlu menjaga kewarasan karena di tahun politik ini, politisasi agama diperkirakan akan terjadi dalam Pemilihan Umum Presiden dan Legislatif mendatang. Hal ini disampaikan pengamat politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada, Cornelis Lay, saat menjadi pembicara seminar 'Agama-Agama dalam Pergulatan Politik di Indonesia', Sabtu (22/9), di GPIB Marga Mulya, Yogyakarta.

Menurutnya, politik identias agama tak bisa bisa dihindari dalam poltik, karena agama menjadi salah satu energi politik yang murah dan penting. Terlebih, ongkos politik di Indonesia yang semakin mahal dan tidak adanya sumber daya lain yang bisa digunakan, membuat penggunaan politik identitas tak bisa dihindari.

"Kecenderungannya semakin kuat," katanya.

Cornelis menyebut, beberapa tahun terakhir pencampuran antara politik dan agama menjadi hukum pokok yang mengatur jalannya politik Indonesia praktis terjadi di semua lapis. Fenomena itu semakin meluas dan mendalam karena adanya revolusi teknologi media komunikasi dan penggalangan politik identitas berbasis agama.

"Kecemasan ini semakin bertambah karena Indonesia sedang memasuki era truth society di mana data atau fakta kehilangan kewibawaannya di hadapan keyakinan," kata Cornelis.

Dia memberikan contoh dalam Pemilihan Gubernur DKI Jakarta kemarin. Menruutnya, kejadian itu telah mendemonstrasikan politik Indonesia mengalami proses pengerdilan politik sebatas figur dan identitas keagamaan yang terus berlanjut hingga memasuki tahun-tahun politik sekarang.

"Ini bukan saja telah mendiamkan suara moderat mayoritas, tapi secara konsisten menggerogoti kohesivitas dan integrasi kita sebagai sebuah bangsa," katanya.

Dalam acara tersebut, selain Cornelis, juga menghadirkan Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Pendeta AA Yewangoe, dan Syafii Maarif sebagai pembicara.

Menurut Pendeta Yewangoe, di Indonesia tidak hanya terjadi politisasi agama, namun juga terjadi agamaisasi politik yang berjalan secara berbarengan.

Politik, menurut Yewangoe, menjadi sebuah sesembahan baru untuk memperoleh kepuasan.

"Agama diperalat untuk memperoleh tujuan politik jangka pendek," katanya.

Yewangoe menyebut, agama seharusnya menjadi landasan moral, etik, dan sipitual bagi pembangunan nasional. Namun, yang terjadi saat ini, kekuasaan direbut tanpa moral dan etika politik.

"Mimbar agama bukan saluran politik praktis, tapi sebagai saluran politik moral," katanya.

Melihat fenomena terjadinya politisasi agama jelang Pemilihan Umum Presiden dan Legislatif, Syafii Maarif meminta masyarkat Indonesia selalu merawat kewarasan berpikir dan keberagaman Nusantara.

Menurut Buya, panggilan Syafii Maarif, kewarasan berpikir mampu menjernihkan hati nurani dan berani membela kebenaran terutama terhadap orang atau kelompok yang sering memakai agama untuk kepentingan politik.

"Jadi sekarang, lawan budaya ketidakwarasan. Jadi waraslah," kata Buya.

Orang-orang yang menggunakan politik identitas agama untuk meraih kekuasaan, menurut Buya, merupakan orang yang menipu diri sendiri dan tidak percaya diri dan mati nuraninya. Cara melawannya, lanjut Buya, adalah dengan merawat kewarasan.

"Kembangkan budaya kewarasan menghidupkan nurani kita," kata Buya.

Bagi Cornelis, meski tidak mudah, agama dan politik sebenarnya bisa berjalan bareng untuk kehidupan yang lebih baik karena sama-sama memiliki tujuan untuk yang baik, yakni kemanusiaan. Namun, lanjut Cornelis, tidak semua hal baik bisa berjalan bergandengan karena bisa jadi pada titik tertentu akan bertabrakan.

"Kalau gereja dan agama-agama dalam 1 tahun ke depan mampu menolong rakyat Indonesia menjaga kewarasan, maka itu sumbangsih yang luar biasa dari agama," katanya.

"Mari kita jaga Indonesia, karena dalam Indoensia kita sama, mari kita jaga kemanusiaan, karena itulah misi dari semua agama dan hadirnya politik," imbuh Cornelis. (OL-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More