Segarnya Alam dan Makanan

Penulis: Despian Nurhidayat Pada: Minggu, 23 Sep 2018, 06:05 WIB Weekend
Segarnya Alam dan Makanan

MI/DESPIAN

INGIN menghabiskan akhir pekan dengan suasana sejuk? Jauh dari perkotaan dan pusat perbelanjaan? Mungkin ingin keluar kota yang tidak terlalu jauh dari Jakarta? Coba melipir sebentar ke Bumi Sampireun di Vimala Hills, Megamendung, Bogor.

Sejumlah saung pun siap diisi pengunjung yang datang. Tidak lupa pemandangan alam yang menyegarkan. Tidak semata pemandangannya yang memberikan kesegaran bagi mata. Makanan yang dihidangkan pun mengutamakan kesegaran.

"Kami mengusahakan memakai bahan yang fresh. Kami sangat ketat dalam pemilihan bahan makanan. Kami mengutamakan agar makanan dari Bumi Sampireun memiliki rasa yang alami. Rempah-rempah yang kami gunakan asli Indonesia, bahkan kami jarang menggunakan bahan dari negara lain," ungkap General Manager Sales Marketing Bumi Sampireun, Carnelisia Valia,  pada pertengahan Agustus.

Salah satu makanan favorit di restoran ini ialah udang bakar madu. Tampilan sajian ini cukup menggoda. Kulitnya mengilap dan kemerahan dari madu yang dioleskan selama proses pembakaran.

Rasa manis dan gurih bersatu padu meninggalkan kenikmatan yang sulit untuk dideskripsikan. Madunya meresap ke daging udang dengan tingkat kematangan yang sempurna. Tak salah jika udang bakar madu menjadi makanan favorit di tempat itu. Satu porsi udang bakar madu berjumlah 6 ekor dan dibanderol dengan harga Rp129 ribu.

Nusantara

Menariknya restoran ini tidak saja menawarkan kesegaran. Meski nama restoran ini Bumi Sampireun, bukan berarti semua hidangan berasal dari Tanah Sunda. Semua makanan berasal dari Nusantara.

"Di sini walaupun nama kita sangat sunda, tapi kita menghadirkan semua makanan dari seluruh Indonesia. Saat ini kami memiliki hasrat untuk menjadi penyedia kuliner Nusantara," ungkap konsultan Bumi Sampireun, Gupta Sitorus.

Hidangan berikutnya yang menarik perhatian ialah patin bakar bambu dari Kalimantan. Ikan patin yang dibumbui kunyit dan beberapa rempah lainnya, lalu dibungkus daun pisang. Setelah itu, ikan dimasukkan bambu, lalu dibakar. Ikan tersebut disajikan di atas bambu. Untuk patin bakar bambu dibanderol dengan harga Rp149 ribu.

Hidangan berikutnya, dori dabu-dabu. Sambal dabu-dabu sekilas mirip sambal matah, bedanya sambal ini menggunakan tambahan tomat dan daun kemangi. Sambal dabu-dabu biasanya menjadi pendamping hidangan olahan ikan, sedangkan sambal matah digunakan pada olahan unggas.

Di hidangan ini, ikan dori yang sudah dilumuri tepung digoreng kering, lalu ditaburi sambal dabu-dabu yang terdiri atas bawang merah, cabai, tomat hijau, dan bawang putih. Rasa dari ikan dabu-babu ini sangat lembut, segar, dan tidak pedas. Dori dabu-dabu dibanderol seharga Rp75 ribu.

Pletok

Hidangan berikutnya ialah ayam pletok. Sepintas nama itu mengingatkan akan minuman asal Betawi, bir pletok. Namun, dapat dipastikan bukan menggunakan bahan dasar yang sama dengan rempah pembuat bir.

Nama ayam pletok diambil dari proses pengolahannya. Saat digoreng, ayam mengeluarkan bunyi pletok-pletok. Penamaan hidangan asal Melayu itu dibuat unik agar lebih menarik dan membuat pengunjung penasaran.

Ayam pletok disajikan di atas piring berbahan dasar tanah liat dan daun pisang. Didampingi sambal hijau, ayam kampung itu agak sedikit keras, tapi bumbunya menyerap ke dalam dagingnya. Hidangan yang dibanderol Rp109 ribu itu termasuk pedas dan tidak pas untuk anak-anak. (m-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More