Menyegerakan Diversifikasi Energi

Penulis: Oki Muraza Associate Professor di King Fahd University of Petroleum & Minerals, Arab Saudi Pada: Sabtu, 22 Sep 2018, 03:20 WIB Opini
Menyegerakan Diversifikasi Energi

MI/Tiyok

BESARNYA impor energi di saat nilai tukar rupiah melemah tentu merisaukan banyak kalangan. Impor energi juga menjadi pilar penting dalam menganalisis ketahanan energi di sebuah negara. Secara umum, ketahanan energi dapat dievaluasi dari keterjangkauan (affordability), ketersediaaan (availability), kestabilan harga, kebergantungan terhadap impor, dan ketergantungan terhadap bahan bakar minyak (BBM).     
   
Keterjangkauan dan ketersediaan merupakan parameter penting yang menyangkut persepsi masyarakat terhadap keberhasilan sebuah pemerintahan. Kestabilan harga BBM menjadi penting sebab Indonesia masih bergantung pada impor dan masih memiliki porsi BBM dari minyak bumi yang besar jika dibandingkan dengan bahan bakar gas (BBG) dan bahan bakar alternatif lainnya.
    
Dengan fluktuasi harga minyak mentah dari US$30 ke US$100 hanya dalam beberapa tahun terakhir pada kurun waktu yang singkat, kestabilan harga menjadi perhatian penting. Dikhawatirkan, subsidi energi pada 2018 ini melonjak lebih dari 150% dari rencana APBN. Kebergantungan terhadap impor menjadi parameter sangat penting sebab nilai tukar rupiah terus melemah. Diversifikasi energi ialah pekerjaan rumah bagi setiap periode kepemimpinan di Tanah Air.

Energi dan neraca perdagangan
Energi adalah instrumen penting dalam industri dan usaha produksi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa impor energi ialah penyumbang defisit terbesar akibat (a) naiknya harga minyak mentah dunia dan (b) menguatnya nilai tukar dolar AS.
     
Energi juga merupakan utilitas penting bagi industri manufaktur. Rendahnya keuntungan ekonomi di industri manufaktur di dalam negeri berasal dari besarnya kebutuhan impor komponen. Pasokan energi yang lebih terjamin dan affordable di dalam negeri akan meningkatkan produksi komponen yang diolah dari komoditas hasil tambang. Misalnya, paduan logam dari tembaga dan engineering steel dari bijih besi.       
    
Industri otomotif di dalam negeri juga merupakan industri yang sangat bergantung akan komponen yang masih impor dan rawan (volatile) terhadap menurunnya nilai tukar rupiah.

Transisi ke bahan bakar gas
BBG ialah bahan bakar yang diproyeksikan untuk mengisi fase perpindahan dari energi fosil menuju energi hijau yang lebih bersih dengan cara mengurangi jumlah karbon yang dilepas ke lingkungan dalam bentuk CO2. Pilihan untuk pindah ke bahan bakar gas (BBG) seperti compressed natural gas (CNG) masih terhambat akibat terbatasnya jumlah stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) atau refueling station di Tanah Air.
    
Selain dari gas alam, yang sebagian besar sudah terikat kontrak jangka panjang dengan konsumen LNG di luar negeri, BBG khususnya biometana (bio-CNG) juga dapat diproduksi dari biogas. Baru-baru ini, Negara Bagian California di Amerika Serikat memulai pengunaan BBG dari biogas (renewable natural gas/RNG) untuk transportasi. Gas metana dihasilkan di pembuangan sampah kota yang diolah secara terstruktur untuk menghasilkan biogas. Lebih dari 50% SPBG yang ada di California berasal dari gas terbarukan.
   
Kota metropolitan di Tanah Air seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan dapat membuat program mobil berbahan bakar gas terbarukan, dengan pembuangan dan pengolahan sampah akan terintegrasi bersama penjualan bahan bakar gas bagi warga masyarakat.

Mobil listrik masa depan
Selain BBG, pemerintah juga mulai membuka pintu bagi mobil listrik di Tanah Air. Akan tetapi, kebijakan ini menyisakan beberapa pekerjaan rumah bagi pemerintah dan industri. Perusahaan penelitian KPMG mengumumkan survei terhadap pimpinan perusahaan otomotif yang menyiratkan kekhawatiran lambatnya perkembangan mobil listrik dunia akibat (a) keterbatasan infrastruktur, (b) keterbatasan perkembangan barter, dan (c) keterbatasan sumber daya litium sebagai bahan baku terpenting untuk baterai yang digunakan mobil listrik.
    
Namun, setidaknya mobil listrik dapat mengambil sebagian porsi mobil mewah di Jakarta sebagai kebutuhan gaya hidup. Sementara itu, kenyataan bahwa sebagian besar listrik di Tanah Air masih berasal dari PLTU batu bara menyiratkan kebutuhan untuk lebih serius dalam mengelola polusi di sekitar pembangkit tenaga PLTU.

Melimpahnya minyak nabati
Minyak sawit (crude palm oil/CPO) dapat menjadi sumber produksi bagi biodiesel (FAME), green diesel (HVO), bensin hijau, dan bioelpiji. HVO (hydrotreated vegetable oil) diesel sudah diproduksi secara komersial di beberapa negara oleh Neste, sebuah perusahaan energi dari Finlandia. Hal itu hendaknya menjadi inspirasi bagi pemerintah dan BUMN terkait untuk secara bertahap terus memperbesar porsi bahan bakar nabati di bauran energi nasional untuk transportasi.
     
Salah satu kebutuhan bagi pengendara mobil pribadi di Tanah Air ialah transportasi jarak jauh antarkota dan kebutuhan pulang kampung saat hari raya. Kebutuhan ini masih hanya dipenuhi oleh BBM, bukan BBG (akibat terbatasnya SPBG) dan juga belum mobil listrik (akibat keterbatasan miles dari baterai).
    
Meski demikian, kebutuhan BBM harus dikurangi secara bertahap dengan memproduksi bahan bakar cair dari minyak nabati yang keberadaanya melimpah di Tanah Air, tidak seperti minyak bumi yang produksinya makin menurun.
    
Indonesia dapat belajar dari pengalaman Finlandia dalam program konversi ke bahan bakar nabati. Setidaknya dalam lima tahun ke depan, porsi bahan bakar nabati diharapkan naik hingga 10% di 2024, dan 20% di 2029. Setelah biodiesel B20 diharapkan ada program produksi B100 (100% diesel) yang diolah dari minyak nabati seperti minyak sawit atau minyak jarak (jatropha). Demikian juga dengan produksi BG100 (100% bensin nabati) di dalam negeri yang perlu direncanakan segera.
   
Saat ini dengan nilai tukar dolar AS yang sangat tinggi terhadap rupiah, sementara impor energi masih sangat besar, neraca perdagangan Indonesia sangat terganggu. Momentum ini adalah kesempatan untuk membuka kembali semua roadmap energi masa depan yang pernah dihasilkan bangsa kita. Pilihan yang berat ada di depan mata, diversifikasi energi secara saksama dalam tempo sesingkat-singkatnya, atau defisit perdagangan yang makin merisaukan perekonomian.

 

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More