Jangan Pertaruhkan Solidaritas demi Tujuan Pemilu

Penulis: Putri Rosmalia Pada: Kamis, 20 Sep 2018, 22:25 WIB Politik dan Hukum
Jangan Pertaruhkan Solidaritas demi Tujuan Pemilu

ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

KPU telah menetapkan daftar calon tetap (DCT) anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi, Kabupaten/kota, pasangan calon presiden dan wakil presiden 2019, Kamis (20/9) ini.

Penetapan tersebut menandakan musim kampanye yang semakin dekat. Masa kampanye akan dimulai tiga hari setelah penetapan atau pada 23 September mendatang.

Menghadapi musim kampanye yang kerap menimbulkan ketegangan di tingkat masyarakat, imam besar Masjid Istiqlal Jakarta, Nasaruddin Umar berpesan agar semua pihak dapat saling menjaga solidaritas dan kebersamaan.

Ia menyeru jangan biarkan kepentingan politik dan pemilu menimbulkan perpecahan di tubuh warga bangsa Indonesia. Menurut Nasarudin, seluruh warga bangsa Indonesia harus menganggap pesta demokrasi sebagai sebuah pesta rutin.

"Jangan dianggap sebagai sesuatu yang superistimewa sehingga bisa mempertaruhkan rasa solidaritas dan persaudaraan warga bangsa. Perbedaan jangan membawa permusuhan," ujarnya ketika dihubungi, Kamis (20/9).

Nasaruddin berpesan, dalam menjalankan kampanye, semua pihak diharapkan tidak meninggalkan koridor kepribadian bangsa yang santun dan sopan. Demokrasi Pancasila harus dimaknai untuk mengakomodasi kesantunan publik dan sosial dalam menghasilkan gagasan-gagasan.

"Di samping sibuk berpolitik, kita juga jangan lupa mawas diri, sebab masyarakat kita sekarang juga sedang diuji dengan kesulitan-kesulitan. Khususnya ekonomi. Jangan sampai kita terlalu menghamburkan uang untuk kampanye," ujar Nasaruddin.

Mantan wakil menteri agama tersebut berpesan agar seluruh warga bangsa Indonesia tidak lupa untuk terus beribadah dan berdoa untuk kelancaran dan perdamaian jalannya Pemilu 2019. Karena menurutnya, sepanas apa pun kampanye kalau masyarakat terus bersandar pada Tuhan, segala bentuk kekerasan dan ketegangan akan dapat tetap teredam.

"Kita semua cukup berusaha dengan baik. Biarkan Tuhan yang menentukan pada akhirnya," ujar Nasaruddin.

Ia juga mengimbau pada semua elemen, agar tidak banyak mengekpliotasi ayat, hadist, dan dalil agama apapun untuk kepentingan berkampanye. Hal itu dikhawatirkan dapat menimbulkan benturan.

"Apalagi kalau itu jauh melenceng dari maknanya hanya untuk mendukung kepentingannya. Jadi lakukanlan dan sambut pesta demokrasi ini dengan rasa solidaritas, persatuan, dan kesantunan," tutup Nasaruddin. (X-12)

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More